SULUTNETWORK.COM – Demam pada anak kerap membuat orang tua mencari berbagai cara untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Selain obat, sebagian orang masih mengandalkan ramuan tradisional berbahan tanaman herbal yang telah digunakan secara turun-temurun.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Beberapa tanaman seperti sambiloto, pegagan, dan sirih dikenal dalam pengobatan tradisional dan dipercaya dapat membantu mengatasi demam. Namun, tidak semua tanaman tersebut telah memiliki bukti ilmiah yang cukup mengenai keamanan dan efektivitasnya, khususnya untuk anak-anak.

Karena itu, penggunaan ramuan berbahan daun perlu dilakukan dengan hati-hati. Ramuan tradisional sebaiknya tidak digunakan sebagai pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis, terlebih jika demam disertai gejala lain atau berlangsung cukup lama.

Melansir berbagai sumber, Senin (31/8/2026), berikut sejumlah jenis daun yang secara tradisional kerap digunakan ketika anak mengalami demam:

1. Daun sambiloto

Sambiloto merupakan salah satu tanaman yang cukup dikenal dalam pengobatan tradisional. Kandungan andrographolide di dalamnya memiliki sifat anti-inflamasi dan dalam sejumlah penelitian menunjukkan potensi sebagai antipiretik atau penurun panas.

Meski demikian, bukti mengenai manfaat sambiloto untuk mengatasi demam pada anak masih belum memadai. Belum terdapat dosis yang dapat dianggap terbukti aman dan efektif untuk anak.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memberikan rebusan atau ekstrak sambiloto dengan menentukan dosis sendiri. Konsumsi yang tidak tepat juga berpotensi menimbulkan keluhan seperti mual, muntah, maupun diare.

2. Daun pegagan

Pegagan atau Centella asiatica juga telah lama digunakan sebagai tanaman herbal. Secara tradisional, tanaman ini dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, termasuk membantu menjaga kondisi tubuh.

Namun, penggunaan pegagan secara khusus untuk menurunkan demam pada anak belum didukung bukti ilmiah yang cukup. Pemberiannya pun perlu mempertimbangkan usia dan kondisi anak.

Jika orang tua ingin menggunakan produk berbahan pegagan untuk anak, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. Konsumsi berlebihan dapat menimbulkan gangguan pencernaan, seperti mual dan sakit perut.

3. Daun sirih

Daun sirih sering dimanfaatkan secara tradisional sebagai bagian dari perawatan ketika seseorang mengalami demam. Salah satu cara yang dikenal adalah menggunakannya sebagai kompres atau menempelkan daun pada bagian tubuh tertentu.

Meski dapat memberikan sensasi sejuk dan membuat anak merasa lebih nyaman, penggunaan daun sirih tidak terbukti secara memadai dapat menurunkan suhu tubuh secara langsung.

Daun sirih juga tidak sebaiknya diberikan kepada anak untuk diminum sebagai pengganti obat penurun demam. Ketika anak mengalami demam, orang tua tetap perlu memantau suhu tubuh, kondisi umum, asupan cairan, serta gejala lain yang menyertainya.

4. Daun kemangi dan daun jambu biji

Rebusan daun kemangi maupun daun jambu biji terkadang digunakan sebagai bagian dari pengobatan tradisional untuk membantu mengatasi demam. Kedua tanaman tersebut memang mengandung berbagai senyawa yang memiliki aktivitas biologis, termasuk antioksidan.

Namun, hingga kini bukti yang cukup untuk memastikan bahwa rebusan kedua jenis daun tersebut efektif menurunkan demam pada anak masih terbatas.

Oleh sebab itu, air rebusan daun kemangi atau daun jambu biji tidak sebaiknya dijadikan pengganti obat maupun pemeriksaan medis. Jika anak mengalami demam, penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi anak.

Jangan hanya berfokus pada suhu tubuh

Demam pada dasarnya merupakan respons tubuh terhadap kondisi tertentu, termasuk infeksi. Karena itu, orang tua tidak hanya perlu memperhatikan angka pada termometer, tetapi juga kondisi umum anak.

Pastikan anak mendapatkan cukup cairan dan beristirahat. Jika demam tinggi, anak tampak sangat lemas, sulit bernapas, mengalami kejang, sulit dibangunkan, tidak mau minum, atau muncul gejala yang mengkhawatirkan, segera cari pertolongan medis.

Penggunaan tanaman herbal pada anak juga sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan penting dilakukan untuk memastikan penanganan yang diberikan aman dan sesuai dengan kondisi anak.*** (Reza)