SULUTNETWORK.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Timur. Di tengah kualitas udara yang memburuk, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga menjadi perhatian.
Data Dinas Kesehatan Kaltim menunjukkan hingga pekan ke-34 2026 terdapat sekitar 9.499 kasus ISPA di provinsi tersebut. Angka ini muncul ketika karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kaltim dan asap mulai dirasakan masyarakat.
Dampak kabut asap bahkan mulai merembet ke sektor transportasi. Bandara Melalan Melak di Kutai Barat membatalkan penerbangan pada 1–5 September 2026 karena jarak pandang tidak memenuhi batas keselamatan. Sebelumnya, penerbangan juga terdampak pada 28–30 Agustus akibat kondisi serupa.
Di tingkat daerah, Dinkes Kaltim sebelumnya menyatakan telah menyiagakan tim krisis kesehatan serta mendistribusikan logistik, termasuk masker, ke wilayah yang dianggap paling berisiko. Puluhan ribu boks masker disalurkan ke Kutai Kartanegara, Berau, Kutai Barat, Penajam Paser Utara dan Paser.
Namun, besarnya angka gangguan pernapasan dan semakin meluasnya dampak asap tetap memunculkan pertanyaan: seberapa serius pemerintah menangani persoalan karhutla sebelum dampaknya semakin banyak dirasakan masyarakat?
Apalagi, di Balikpapan saja sejumlah penyakit saluran pernapasan mengalami kenaikan sepanjang Agustus. Kasus acute upper respiratory infection (J06.9), misalnya, meningkat dari 1.136 kasus pada Juli menjadi 1.361 kasus pada Agustus, atau naik 19,8 persen.*** (Reza)




