SUlUTNETWORK.COM – Presiden Prabowo Subianto bertolak ke India untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS sebagai bagian dari agenda diplomasi internasional Indonesia. Kunjungan tersebut berlangsung ketika pemerintah masih menghadapi sejumlah persoalan di dalam negeri, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Prabowo tiba di New Delhi, India, pada Jumat (11/9/2026) kemarin. Kehadiran Indonesia dalam KTT BRICS menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi dan peran Indonesia dalam forum kerja sama negara-negara berkembang.

Di tengah agenda tersebut, persoalan karhutla masih menjadi salah satu tantangan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Sebelumnya, pada Agustus 2026, Prabowo turun langsung ke Kalimantan untuk melihat penanganan karhutla sekaligus menginstruksikan jajaran TNI dan Polri mempercepat upaya penanggulangan di wilayah terdampak.

Selain karhutla, pelaksanaan program MBG juga masih menjadi sorotan. Sejumlah kasus siswa mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diduga berkaitan dengan program tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memastikan penerapan standar keamanan pangan, kualitas makanan, serta pengawasan terhadap seluruh rantai pelaksanaan program.

Keberangkatan Prabowo ke India pun berlangsung di tengah ekspektasi publik agar persoalan domestik tetap mendapat penanganan serius. Agenda diplomasi luar negeri berjalan, sementara pemerintah di dalam negeri dituntut memastikan berbagai persoalan yang menyangkut keselamatan dan kepentingan masyarakat tidak terabaikan.

KTT BRICS menjadi salah satu agenda strategis Indonesia dalam memperluas kerja sama internasional, baik di bidang ekonomi maupun sektor lainnya. Namun, di saat yang sama, penyelesaian persoalan dalam negeri tetap menjadi bagian penting dari perhatian pemerintah.

Kunjungan Prabowo ke India akhirnya memperlihatkan dua agenda besar yang harus berjalan beriringan: memperkuat peran Indonesia di panggung internasional sekaligus memastikan berbagai persoalan di dalam negeri, termasuk karhutla dan keamanan pelaksanaan program MBG, terus ditangani secara serius dan berkelanjutan.*** (Reza)