SULUTNETWORK.COM – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta menegaskan bahwa Gerakan Non-Blok (GNB) tidak boleh hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah. Menurutnya, semangat GNB harus kembali dihidupkan sebagai kekuatan bersama negara-negara berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pesan tersebut disampaikan Anis Matta saat mewakili Presiden Republik Indonesia dalam Pertemuan Peringatan 65 Tahun KTT Pertama Gerakan Non-Blok yang digelar Pemerintah Serbia di Beograd, dilansir dari Website resmi Kemenlu RI, Kamis, 4 September 2026.

Dalam forum tersebut, Anis mengingatkan bahwa lahirnya GNB tidak dapat dilepaskan dari semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955. Pertemuan bersejarah itu menjadi salah satu inspirasi penting bagi negara-negara yang kemudian membentuk Gerakan Non-Blok.

Anis menilai semangat yang melahirkan GNB masih sangat relevan di tengah dinamika geopolitik dunia. Ia menekankan bahwa GNB harus mampu bergerak melampaui nostalgia sejarah dan mengambil peran nyata dalam menentukan arah masa depan.

“Negara-negara dari segenap penjuru dunia berkumpul di Beograd pada 1961, disatukan oleh semangat anti penjajahan dan keinginan untuk membentuk dunia baru yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan perdamaian. Sejalan dengan semangat mulia ini, GNB tidak boleh terjebak menjadi romantisme masa lalu. GNB harus menjadi bagian dari upaya kita membentuk masa depan,” tegas Anis.

Dalam kesempatan tersebut, Anis memaparkan tiga hal utama yang menurutnya perlu menjadi perhatian GNB ke depan.

Pertama, menjaga solidaritas dan semangat persaudaraan antarnegara sekaligus terus memperjuangkan kemerdekaan. Dalam konteks ini, Anis secara khusus menyoroti persoalan Palestina. “Kemerdekaan Palestina adalah hutang sejarah yang harus ditunaikan GNB,” ujar Anis.

Kedua, GNB dinilai perlu memperkuat kemandirian strategis, terutama pada sektor-sektor yang memiliki posisi vital seperti pangan, teknologi, dan energi.

Kemandirian tersebut dianggap penting agar negara-negara anggota GNB memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan serta perubahan geopolitik global yang semakin kompleks.

Ketiga, GNB harus mengambil bagian dalam membangun masa depan yang berlandaskan keadilan, kemerdekaan, dan kerja sama. Dengan demikian, GNB tidak hanya menjadi forum sejarah, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata terhadap tatanan dunia yang lebih adil.

Di sela-sela agenda peringatan tersebut, Wamenlu Anis Matta juga memanfaatkan momentum untuk melakukan sejumlah pertemuan bilateral.

Anis bertemu dengan Menteri Perdagangan Serbia, Wakil Menteri Luar Negeri Serbia, serta Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi. Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama sekaligus langkah untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan masing-masing negara.

Kehadiran Indonesia di Beograd memiliki makna historis tersendiri. KTT pertama Gerakan Non-Blok memang berlangsung di Beograd pada 1961 dan dihadiri para pemimpin negara berkembang, termasuk Presiden pertama RI Soekarno.

Enam puluh lima tahun kemudian, Indonesia kembali hadir dalam forum peringatan tersebut dengan membawa pesan bahwa semangat perjuangan yang melahirkan GNB masih memiliki relevansi kuat.

Indonesia memandang nilai-nilai luhur Dasasila Bandung sebagai salah satu fondasi penting yang menginspirasi lahirnya GNB. Prinsip tersebut antara lain menekankan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah negara, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, menyelesaikan sengketa secara damai, serta menghormati hukum internasional.

Bagi Indonesia, nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan sejarah. Prinsip-prinsip itu dinilai tetap penting sebagai fondasi dalam membangun perdamaian dunia di tengah meningkatnya berbagai konflik dan ketegangan geopolitik.

Melalui partisipasinya di Beograd, Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan semangat kedaulatan, kemerdekaan, keadilan, kesetaraan, dan perdamaian, sekaligus mendorong GNB agar mampu memainkan peran lebih besar dalam membentuk masa depan dunia.*** (Reza)