SULUTNETWORK.COM – Sudah gagah berlatih dengan seragam ala militer. Sudah disiapkan untuk menggerakkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Tapi kok ujung-ujungnya masih kluntang-klantung menunggu SK?

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sekitar 30 ribu calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/Kel Merah Putih) hingga memasuki September 2026 masih menunggu kepastian penempatan. Padahal, sebelumnya pemerintah menargetkan para manajer tersebut mulai ditempatkan pada awal Agustus.

Artinya, target sudah lewat. Agustus sudah tinggal kenangan, September sudah datang, tetapi ribuan calon manajer masih menanti satu lembar sakti bernama Surat Keputusan (SK).

Kementerian Koperasi menyebut proses penempatan masih disiapkan oleh Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN). Para calon manajer disebut telah menjalani pendidikan dan pelatihan, sementara penempatan akan dilakukan secara bertahap mengikuti kesiapan koperasi dan fasilitas pendukungnya.

Di sinilah publik boleh bertanya-tanya: kalau orangnya sudah dilatih, koperasinya sudah dibentuk, lalu apa yang membuat mereka belum juga turun bekerja?

Program Kopdes/Kel Merah Putih sendiri digadang-gadang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi desa. Jumlah koperasi yang terbentuk bahkan sudah mencapai puluhan ribu.

Namun, koperasi tanpa manajer yang benar-benar bekerja tentu ibarat warung yang sudah pasang papan nama, tetapi kasirnya masih menunggu dipanggil masuk.

Lebih menarik lagi, para calon manajer ini bukan sekadar peserta pelatihan biasa. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pengelola dan nantinya berstatus sebagai pegawai BUMN. Karena itu, kepastian penempatan menjadi penting agar mereka bisa segera menjalankan tugas dan tidak terus berada dalam status menunggu.

Pemerintah tentu punya alasan administratif dan teknis. Tetapi dari sisi publik, pertanyaannya sederhana: kapan SK turun dan kapan 30 ribu manajer ini benar-benar mulai bekerja?

Sebab rakyat desa tidak membutuhkan manajer yang hanya gagah ketika apel dan rapi ketika pelatihan.

Yang ditunggu bukan lagi seragamnya. Bukan lagi pelatihannya. Bukan lagi seremoni. Yang ditunggu adalah kerja nyatanya.

Jangan sampai Kopdes Merah Putih sudah berkibar gagah, tetapi para manajernya masih kluntang-klantung menunggu selembar SK.*** (Reza)