SULUTNETWORK.COM — Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta bersama 20 penerima Nobel di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat pekan lalu. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan dan kemitraan, sekaligus membuka peluang kolaborasi di bidang ilmu pengetahuan dan riset.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam pertemuan itu, Prabowo bersama Ramos-Horta membahas berbagai peluang peningkatan kerja sama antara kedua negara. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah potensi kolaborasi antara para penerima Nobel dengan peneliti serta akademisi Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pertemuan tersebut membuka ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi berbagai potensi kerja sama ke depan. Terlebih, 20 penerima Nobel yang hadir memiliki latar belakang keilmuan yang beragam.

“Potensinya sangat banyak untuk dieksplorasi,” kata Fadli Zon dalam keterangannya seusai pertemuan.

Menurutnya, keberagaman keahlian para penerima Nobel, mulai dari bidang biologi, fisika, hingga disiplin ilmu lainnya, dapat menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperluas jejaring kerja sama keilmuan.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai kolaborasi dengan para ilmuwan kelas dunia tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem riset nasional.

Arif mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan arahan agar peluang kolaborasi tersebut tidak berhenti pada pertemuan, tetapi segera diwujudkan dalam bentuk kerja sama konkret.

“Presiden mendorong agar kolaborasi ini bisa segera direalisasikan,” ujar Arif.

BRIN, kata Arif, sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam membangun kerja sama dengan peraih Nobel. Salah satunya melalui pengembangan Metal-Organic Framework (MOF) bersama peraih Nobel Kimia asal Jepang, Susumu Kitagawa.

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pembangunan sister laboratory di Indonesia. Laboratorium tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pengolahan gas alam.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bahwa keterlibatan ilmuwan dunia dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan kapasitas riset sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo juga memberikan perhatian terhadap pentingnya inovasi untuk menghadapi ancaman bencana alam. Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki tingkat kerentanan terhadap berbagai jenis bencana, sehingga membutuhkan kesiapan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prabowo mendorong BRIN untuk terus menghasilkan inovasi yang dapat digunakan dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Riset diharapkan tidak hanya mampu mengidentifikasi tingkat kerawanan, tetapi juga menghasilkan teknologi dan solusi yang dapat membantu mengantisipasi serta meminimalkan dampak bencana.

Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat peran riset dan inovasi dalam menjawab berbagai tantangan strategis nasional.

Dengan hadirnya 20 penerima Nobel dalam pertemuan tersebut, pemerintah melihat peluang besar untuk memperluas jejaring keilmuan Indonesia dengan komunitas ilmuwan internasional. Kolaborasi diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan, pengembangan teknologi, serta lahirnya inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pertemuan Presiden Prabowo dan José Ramos-Horta bersama para penerima Nobel sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama Indonesia dan Timor-Leste tidak hanya dapat berkembang dalam bidang diplomasi dan ekonomi, tetapi juga terbuka luas pada sektor pendidikan, penelitian, teknologi, dan inovasi.*** (Reza)