SULUTNETWORK.COM – Kebugaran tubuh ternyata dapat diuji dengan cara sederhana tanpa membutuhkan peralatan khusus. Salah satunya melalui Sitting Rising Test (SRT), yakni tes yang mengukur kemampuan seseorang untuk duduk di lantai kemudian kembali berdiri dengan bantuan seminimal mungkin.

Tes ini dapat dilakukan di rumah dengan memanfaatkan permukaan lantai yang datar dan tidak licin. Selain menguji kemampuan fisik, SRT juga dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan otot, keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi tubuh.

Dikutip dari Everyday Health, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan melakukan SRT dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun penyebab lainnya.

Untuk melakukan tes, seseorang perlu berdiri tegak di atas lantai tanpa alas kaki. Kedua tangan dapat diluruskan ke depan, kemudian salah satu kaki disilangkan sebelum tubuh perlahan diturunkan hingga duduk di lantai.

Setelah berhasil duduk, peserta diminta kembali berdiri dengan posisi kaki tetap menyilang. Gerakan dilakukan dengan menggunakan bantuan sesedikit mungkin dan berusaha mempertahankan keseimbangan.

Penilaian SRT menggunakan skala hingga 10 poin. Masing-masing gerakan, yakni duduk dan berdiri, memiliki nilai maksimal lima poin.

Satu poin dikurangi setiap kali peserta menggunakan tangan, lengan bawah, atau lutut sebagai penopang. Sementara itu, kehilangan keseimbangan atau gerakan yang tidak stabil dapat mengurangi setengah poin.

Dengan demikian, skor 10 diperoleh jika seseorang mampu melakukan gerakan duduk dan berdiri kembali tanpa bantuan dan tanpa kehilangan keseimbangan. Semakin rendah skor, semakin banyak bantuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan gerakan.

SRT dikembangkan pada akhir 1990-an oleh Claudio Gil Araújo, dokter sekaligus peneliti asal Rio de Janeiro, Brasil. Ia memperkenalkan tes tersebut sebagai salah satu cara melihat aspek kebugaran yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan aerobik.

“Saya menyadari bahwa kebugaran aerobik tidak hanya penting untuk kesehatan, tetapi juga apa yang saya sebut kebugaran non-aerobik,” ujar Araújo.

Berbeda dengan tes kebugaran aerobik seperti berlari atau bersepeda, SRT melibatkan sejumlah kemampuan fisik secara bersamaan.

Ahli terapi fisik Amy Pastva menjelaskan, gerakan dalam SRT membutuhkan kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi. Kekuatan kaki dibutuhkan untuk membantu tubuh bangkit dari posisi rendah, sementara fleksibilitas memungkinkan tubuh bergerak lebih leluasa.

Adapun keseimbangan dan koordinasi diperlukan agar seseorang mampu menyelesaikan gerakan secara stabil tanpa kehilangan kontrol tubuh.

Sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 4.000 orang berusia 46 hingga 75 tahun menemukan adanya hubungan antara skor SRT dan tingkat kematian selama masa pemantauan sekitar 12 tahun.

Dalam penelitian tersebut, kelompok dengan skor 10 memiliki angka kematian sekitar 3,7 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 11,1 persen pada peserta dengan skor 8 dan mencapai 42,1 persen pada kelompok yang memperoleh skor 4 atau lebih rendah.

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan kondisi kesehatan yang telah dimiliki peserta, kelompok dengan skor 0–4 tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung sekitar enam kali lebih tinggi serta risiko kematian akibat penyebab alami sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan skor sempurna.

Meski demikian, SRT lebih tepat dipandang sebagai salah satu indikator kebugaran fisik, bukan alat untuk mendiagnosis penyakit atau menentukan risiko kematian seseorang secara individual.*** (Reza)