SULUTNETWORK.COM – Anggapan bahwa orang dengan paha besar memiliki peluang hidup lebih lama belakangan ramai diperbincangkan. Ukuran paha bahkan disebut-sebut bisa menjadi salah satu indikator panjang umur seseorang.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yunita Aryani, menegaskan bahwa besar kecilnya ukuran paha tidak bisa dijadikan jaminan seseorang akan memiliki usia lebih panjang.

“Lingkar paha yang terlalu kecil memang merupakan penanda rendahnya massa otot atau status gizi yang kurang baik. Namun, bukan berarti semakin besar ukuran paha, semakin panjang pula usia seseorang,” ujar Yunita, seperti dikutip dari Detik Health, Sabtu (5/9/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Mitos mengenai paha besar dan umur panjang muncul setelah hasil sebuah penelitian ilmiah dipahami secara keliru. Studi yang dipublikasikan dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan adanya kaitan antara lingkar paha yang kecil dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan kematian dini.

Namun, penelitian tersebut tidak menunjukkan adanya batas tertentu yang berarti semakin besar ukuran paha akan semakin rendah risiko kesehatan. Artinya, ketika ukuran paha telah mencapai kondisi yang dianggap memadai, penambahan ukuran paha tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Yunita menjelaskan, ukuran paha terbentuk dari berbagai komponen, mulai dari tulang, massa otot, cairan hingga lemak subkutan. Karena itu, dua orang yang memiliki lingkar paha sama belum tentu mempunyai komposisi tubuh maupun risiko penyakit yang sama.

Massa otot paha memang memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh. Otot membantu menyerap glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga kadar gula darah, mempertahankan keseimbangan tubuh, serta menjadi cadangan protein ketika tubuh menghadapi kondisi metabolik tertentu.

Sementara itu, lemak yang tersimpan di area paha atau lemak subkutan umumnya memiliki karakteristik berbeda dengan lemak visceral yang menumpuk di sekitar organ dalam perut. Lemak visceral diketahui berkaitan dengan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular.

“Bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya,” tutur Yunita.