SULUTNETWORK.COM – Seharian bekerja di depan komputer dalam ruang kantor tertutup ternyata tak hanya membuat tubuh lelah. Di China, sejumlah pekerja muda kini ramai membicarakan fenomena yang mereka sebut sebagai “office ageing”, yakni perubahan pada penampilan dan kondisi tubuh yang dirasakan setelah menjalani rutinitas kerja di dalam kantor.

Fenomena tersebut menjadi perbincangan di media sosial. Para pekerja membagikan berbagai cara yang mereka yakini dapat mengatasi efek lingkungan kantor, mulai dari menggunakan tabir surya, sheet mask, hingga memasang payung di meja kerja.

Salah satu pengguna media sosial RedNote mengaku melihat perubahan pada dirinya hanya sebulan setelah mulai bekerja. Ia menyebut warna kulitnya terlihat lebih gelap dan matanya lebih sering terasa lelah. Unggahan tersebut kemudian mendapat banyak respons dari pekerja lain yang mengalami keluhan serupa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ada pula pengguna yang mengaku melihat wajahnya tampak lebih cerah setelah mengambil cuti. Sebagian lainnya menyoroti masalah asap rokok pasif yang masih ditemukan di lingkungan kerja. Beberapa pekerja bahkan mengaku menggunakan topi, sheet mask, hingga mengoleskan tabir surya secara berlebihan pada wajah dan lengan.

Melansir South China Morning Post, Jumat (18/9/2026), desainer pencahayaan asal China, Yoki, mengatakan banyak kantor di Negeri Tirai Bambu menggunakan pencahayaan alami bernuansa sejuk untuk membantu menjaga kewaspadaan pekerja. Pencahayaan tersebut diharapkan dapat mendukung produktivitas selama jam kerja.

Namun, kondisi lingkungan kantor tidak hanya berkaitan dengan pencahayaan. Udara yang kering, sistem ventilasi yang kurang optimal, debu, hingga kadar karbon dioksida yang tinggi dapat menambah rasa tidak nyaman, terutama ketika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam di dalam ruangan.

Keluhan tersebut memiliki kaitan dengan istilah sick building syndrome (SBS) yang diperkenalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada era 1980-an. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan berbagai gejala yang muncul ketika seseorang menghabiskan waktu di dalam bangunan tertentu, meski tidak ditemukan penyakit spesifik yang dapat menjelaskan seluruh keluhan tersebut.

Gejala SBS dapat berupa sakit kepala, hidung tersumbat, kulit kering, iritasi tenggorokan, kelelahan, hingga kesulitan berkonsentrasi. Keluhan tersebut dapat semakin terasa ketika seseorang terus-menerus terpapar lingkungan dalam ruangan yang kurang nyaman.

Fenomena ini berkembang seiring perubahan desain bangunan modern dan upaya menghemat energi. Bangunan yang semakin kedap udara untuk mengurangi kebutuhan pemanasan maupun pendinginan dapat membatasi pertukaran udara segar apabila sistem ventilasinya tidak memadai.

Sebuah penelitian pada 2008 juga mengaitkan sick building syndrome dengan penurunan produktivitas serta meningkatnya tingkat ketidakhadiran pekerja. Sejumlah langkah seperti memperbaiki ventilasi, mengambil istirahat secara berkala, dan mengurangi stres di tempat kerja disebut dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman.

Di media sosial, pembahasan mengenai kondisi kantor kemudian meluas dari persoalan kesehatan hingga penampilan. Sejumlah tren di TikTok memperlihatkan perbedaan wajah pekerja saat baru memulai aktivitas pada pagi hari dengan kondisi mereka setelah berjam-jam bekerja.

Wajah yang terlihat segar pada pagi hari disebut berubah menjadi lebih kusam, mata tampak lelah, rambut berminyak, hingga wajah terlihat bengkak menjelang malam. Kondisi tersebut juga sering dikaitkan dengan kebiasaan duduk terlalu lama dan posisi tubuh yang membungkuk saat bekerja di depan komputer.

Meski demikian, berbagai perubahan pada penampilan tidak serta-merta berarti seseorang mengalami “penuaan” akibat bekerja di kantor. Lingkungan kerja, kualitas udara, kurang bergerak, kurang tidur, stres, serta kebiasaan sehari-hari dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tubuh dan penampilan.

Karena itu, pekerja yang menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan dapat mencoba mengambil jeda secara berkala, bergerak dari posisi duduk, serta keluar ruangan untuk mendapatkan udara segar. Selain membantu mengurangi rasa lelah, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pola kerja yang lebih sehat.*** (Reza)