SULUTNETWORK.COM – Istilah “vibes” semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial. Kata ini bisa ditemukan dalam berbagai ungkapan, mulai dari “tempat ini vibes-nya enak” hingga “aku nggak suka vibes orang itu”.
Meski terdengar sederhana, sebenarnya vibes punya makna yang cukup luas. Kata tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan suasana, energi, kesan, atau perasaan yang muncul ketika seseorang berada di suatu tempat, bertemu orang tertentu, maupun mengalami sebuah situasi.
Lantas, vibes artinya apa dalam bahasa Indonesia? Berikut penjelasannya.
Secara sederhana, vibes dapat diterjemahkan sebagai suasana, aura, nuansa, atau kesan yang dirasakan dari seseorang, tempat, benda, maupun situasi tertentu.
Kata ini berasal dari bahasa Inggris dan merupakan bentuk informal dari “vibrations” atau “getaran”. Dalam penggunaan modern, maknanya kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih abstrak, yakni perasaan atau energi yang seolah terpancar dari suatu objek atau keadaan.
Contohnya, ketika seseorang mengatakan “kafe ini punya vibes yang nyaman”, maksudnya bukan kafe tersebut benar-benar menghasilkan getaran tertentu. Ungkapan itu menggambarkan kesan yang dirasakan, misalnya karena pencahayaan, musik, interior, aroma, hingga suasana keseluruhan tempat tersebut.
Begitu pula dengan kalimat “vibes-nya positif”. Ungkapan tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang atau situasi yang memberikan kesan menyenangkan, hangat, atau membangkitkan energi positif.
Dari Mana Istilah Vibes Berasal?
Vibes merupakan istilah yang berakar dari bahasa Inggris, khususnya kata “vibration” yang secara harfiah berarti getaran.
Dalam perkembangan bahasa informal, terutama di budaya populer, musik, dan percakapan anak muda, kata tersebut mengalami penyederhanaan menjadi “vibe”, sedangkan bentuk jamaknya adalah “vibes”.
Popularitasnya kemudian semakin meningkat seiring berkembangnya internet dan media sosial. Penggunaannya yang singkat dan fleksibel membuat kata ini mudah dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya cukup sulit dijelaskan secara spesifik.
Kini, vibes sudah menjadi bagian dari bahasa percakapan di berbagai komunitas, termasuk di Indonesia.
Dalam penggunaan sehari-hari, vibes bisa memiliki arti berbeda tergantung konteksnya.
“Good vibes”, misalnya, biasanya merujuk pada suasana atau energi yang menyenangkan. Sementara “bad vibes” menggambarkan kesan kurang nyaman atau negatif yang dirasakan seseorang.
Ada pula istilah “positive vibes” untuk menggambarkan energi positif, serta “negative vibes” ketika seseorang atau suatu situasi memberikan kesan yang tidak menyenangkan.
Menariknya, vibes tidak selalu harus dikaitkan dengan sesuatu yang positif atau negatif. Kata ini juga dapat digunakan secara netral untuk menggambarkan karakter atau nuansa tertentu.
“Tempat ini punya vibes vintage.” Artinya, tempat tersebut memberikan nuansa klasik atau bergaya tempo dulu.
“Lagu ini vibes-nya 2000-an banget.” Maksudnya, lagu tersebut mengingatkan pada suasana atau gaya musik era 2000-an.
“Dia punya vibes yang kalem.” Artinya, orang tersebut memberikan kesan tenang dan santai.
“Film ini vibes-nya gelap.” Maksudnya, film tersebut memiliki atmosfer yang serius, muram, atau penuh ketegangan.
Kenapa Vibes Sering Dipakai Anak Muda?
Salah satu alasan istilah ini populer adalah karena vibes mampu merangkum kesan yang kompleks hanya dalam satu kata.
Daripada menjelaskan panjang lebar mengenai suasana sebuah tempat atau perasaan ketika bertemu seseorang, orang cukup mengatakan, “Vibes-nya beda.”
Penggunaan kata ini juga semakin kuat berkat media sosial. Caption, komentar, video pendek, hingga konten lifestyle sering memanfaatkan istilah vibes untuk menggambarkan suasana secara singkat dan relatable.
Tidak heran jika kata tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya komunikasi digital yang santai dan ekspresif.
Penggunaan vibes tidak hanya muncul dalam percakapan. Dunia kreatif juga sangat akrab dengan istilah ini.
Dalam musik, vibes sering digunakan untuk menjelaskan karakter atau suasana sebuah lagu. Sebuah lagu bisa memiliki chill vibes, sad vibes, romantic vibes, hingga party vibes.
Dalam fashion, istilah tersebut dapat menggambarkan kesan yang ditampilkan melalui pakaian dan aksesori. Misalnya, gaya tertentu dianggap memberikan street vibes, retro vibes, atau old money vibes.
Sementara dalam fotografi dan seni visual, vibes dapat merujuk pada keseluruhan atmosfer yang dibangun melalui warna, pencahayaan, komposisi, ekspresi, dan elemen visual lainnya.
Dengan kata lain, vibes bukan sekadar soal apa yang terlihat, tetapi juga kesan yang muncul setelah melihat atau merasakan sesuatu.
Apakah Vibes Itu Subjektif?
Ya. Vibes sangat bergantung pada persepsi masing-masing orang.
Satu tempat mungkin dianggap memberikan good vibes oleh seseorang, tetapi bisa saja terasa biasa saja bagi orang lain. Begitu juga dengan seseorang yang dianggap ramah oleh satu orang, tetapi memberikan kesan berbeda kepada orang lain.
Pengalaman, suasana hati, kebiasaan, dan latar belakang seseorang dapat memengaruhi cara mereka menangkap sebuah vibe.
Karena itu, istilah vibes sebaiknya dipahami sebagai kesan personal, bukan ukuran objektif yang berlaku untuk semua orang.
Dalam komunikasi modern, vibes berfungsi sebagai cara cepat untuk menyampaikan kesan emosional.
Ketika seseorang mengatakan, “Aku dapat vibes yang kurang enak,” sebenarnya ia sedang menyampaikan bahwa ada sesuatu dari situasi tersebut yang membuatnya merasa tidak nyaman, meskipun mungkin sulit menjelaskan penyebabnya secara detail.
Hal ini menunjukkan bagaimana bahasa terus berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat. Istilah baru muncul karena manusia membutuhkan cara yang lebih praktis untuk menggambarkan pengalaman, emosi, dan situasi yang semakin beragam.*** (Reza)


