SULUTNETWORK.COM — Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE menegaskan bahwa sektor pertanian harus terus diperkuat sebagai salah satu fondasi utama pembangunan dan perekonomian daerah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian akan berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani yang menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan Sulawesi Utara.

Penegasan tersebut disampaikan Yulius saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pembangunan Pertanian sekaligus Apel Siaga Penyuluh Pertanian se-Provinsi Sulawesi Utara di Aula Mapalus Kantor Gubernur Sulut.

Forum tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat strategi pembangunan pertanian menghadapi berbagai tantangan dan perubahan di lapangan.

Yulius menyebut sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara. Berdasarkan data BPS yang dipaparkan dalam sambutannya, ekonomi Sulut pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,42 persen secara year-on-year, sementara sektor pertanian menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan kontribusi pertumbuhan 0,94. Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut pada Agustus 2026 tercatat mencapai 129, yang menunjukkan kondisi daya beli petani berada pada posisi positif.

Menurut Gubernur, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras para penyuluh yang berada di tengah-tengah petani. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh penyuluh pertanian yang selama ini berperan sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah, inovasi dan kebutuhan petani.

“Di balik angka-angka tersebut, ada keringat para penyuluh pertanian dalam mendampingi petani,” ujar Yulius.

Ia pun meminta agar penyuluh tidak lagi terpaku pada pola pendampingan konvensional. Penyuluh harus mampu menjadi penggerak inovasi dengan memperkenalkan teknologi seperti drone penyemprot, alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk organik serta berbagai metode baru yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Selain mendorong inovasi, penyuluh juga diminta mendampingi petani hingga tahap hilirisasi dan pemasaran hasil produksi.

Mereka sekaligus harus menjadi penjaga kualitas data pertanian, mulai dari luas tanam, luas panen, puso, perkembangan harga komoditas hingga persoalan yang dihadapi petani. Di saat yang sama, penyuluh diharapkan mampu merangkul petani milenial, perempuan tani dan kelompok-kelompok tani lainnya agar pembangunan pertanian semakin inklusif.

Gubernur juga mendorong penguatan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agar berkembang menjadi korporasi petani yang memiliki daya tawar lebih kuat.

Ia mengingatkan para penyuluh untuk selalu dekat dengan petani, mendengarkan persoalan mereka dan membantu menemukan solusi.

“Dekatlah dengan petani, dengar keluhannya, bantu carikan solusinya. Karena jika petani sejahtera maka Sulawesi Utara sejahtera,” tegas Yulius.*** (Reza)