SULUTNETWORK.COM – Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam membangun prestasi olahraga disabilitas Indonesia. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memastikan pembinaan atlet disabilitas akan terus mendapat dukungan, mulai dari persiapan kompetisi hingga keikutsertaan dalam berbagai ajang olahraga internasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi berkelanjutan bersama Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPC Indonesia). Sinergi ini dinilai penting untuk memastikan program pembinaan berjalan terarah sekaligus mampu menghasilkan atlet-atlet berprestasi yang dapat mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, mengatakan atlet disabilitas merupakan bagian penting dalam kekuatan olahraga nasional. Karena itu, pemerintah berkomitmen memberikan perhatian terhadap pembinaan dan peningkatan kualitas mereka.
Menurut Surono, hasil kerja sama pemerintah dengan NPC Indonesia sudah terlihat dari prestasi Indonesia pada ASEAN Para Games 2025 di Thailand. Kontingen Merah Putih berhasil mengoleksi 135 medali emas, 143 perak, dan 114 perunggu, sekaligus mengamankan posisi kedua klasemen akhir. Perolehan tersebut bahkan jauh melewati target awal Indonesia yang ditetapkan sebanyak 82 medali emas.
“Capaian ini tentu sangat membanggakan. Target awal 82 emas, tetapi atlet kita mampu melampauinya dengan sangat signifikan. Ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara bersama-sama menghasilkan prestasi yang nyata,” ujar Surono.
Ia menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai unsur, mulai dari pemerintah, NPC Indonesia, pelatih, atlet, hingga seluruh ekosistem olahraga disabilitas yang terlibat dalam proses pembinaan.
Menurut Surono, sinergi Kemenpora dan NPC Indonesia tidak berhenti pada satu ajang. Koordinasi juga dilakukan untuk mempersiapkan atlet menghadapi berbagai agenda olahraga disabilitas, baik di tingkat regional, Asia, maupun dunia.
Agenda tersebut mencakup ASEAN Para Games, Asian Para Games, hingga kompetisi internasional lainnya. Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap atlet tunarungu yang dipersiapkan untuk mengikuti Deaflympics.
Surono menekankan, setiap program pertandingan harus dirancang secara matang. Keikutsertaan atlet dalam kompetisi internasional tidak semata-mata mengejar kemenangan, tetapi juga harus memiliki kaitan dengan peta jalan pembinaan prestasi nasional.
Khusus untuk pembinaan atlet tunarungu, ia mengingatkan pentingnya tata kelola yang mengikuti ketentuan organisasi olahraga internasional. Pemerintah, kata dia, perlu menyalurkan dukungan melalui organisasi yang memiliki legitimasi sesuai aturan federasi internasional.
“Untuk atlet tunarungu, PATRIN merupakan organisasi yang diakui secara internasional oleh ICSD. Karena itu, dalam tata kelola pemerintahan, dukungan dan fasilitasi harus melalui organisasi yang memiliki legitimasi sesuai ketentuan organisasi olahraga internasional,” tegasnya.
Setiap Kompetisi Harus Punya Target
Surono juga menjelaskan bahwa kejuaraan internasional memiliki fungsi strategis bagi perjalanan karier atlet. Kompetisi bukan hanya tempat menguji kemampuan, tetapi dapat menjadi sarana mengumpulkan poin dan memperbaiki peringkat sebagai bagian dari perjuangan menuju kualifikasi Paralimpiade.
Dengan demikian, pemilihan single event yang akan diikuti atlet tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Kemenpora dan NPC Indonesia perlu melakukan konsolidasi agar setiap kejuaraan yang diikuti memiliki manfaat terhadap target prestasi jangka panjang.
“Setiap kejuaraan dunia pada prinsipnya merupakan bagian dari proses try out, pengumpulan poin, dan peningkatan peringkat untuk mengejar kualifikasi menuju Paralimpiade,” jelas Surono.
Ia menambahkan, tata kelola olahraga disabilitas juga harus berpedoman pada regulasi organisasi olahraga internasional. Kepatuhan terhadap Statuta International Paralympic Committee (IPC), serta ketentuan International Committee of Sports for the Deaf (ICSD) untuk cabang olahraga tunarungu, menjadi bagian penting dalam memastikan pembinaan berjalan secara efektif.
Menurutnya, koordinasi yang baik dan kepatuhan terhadap regulasi akan membuat dukungan pemerintah, termasuk dalam aspek penganggaran, dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran, transparan, dan efisien.
Pemerintah Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Kirim Atlet
Komitmen pemerintah terhadap olahraga disabilitas, kata Surono, tidak hanya muncul ketika atlet hendak berangkat mengikuti pertandingan. Dukungan diberikan sejak proses pembinaan, penyediaan fasilitas latihan, pemusatan latihan, keberangkatan ke kompetisi, hingga pemberian penghargaan bagi atlet yang berhasil meraih prestasi.
Salah satu fasilitas yang menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan tersebut adalah Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, Jawa Tengah.
Fasilitas ini dikembangkan sebagai pusat pembinaan atlet paralimpiade Indonesia. Kemenpora juga mendorong agar kualitas dan keberlanjutan fasilitas tersebut terus dijaga sehingga dapat menjadi salah satu pusat latihan olahraga disabilitas terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Dukungan pemerintah juga mencakup pembiayaan keikutsertaan kontingen Indonesia dalam berbagai ajang internasional. Hal tersebut termasuk partisipasi pada ASEAN Para Games 2025 dan persiapan menghadapi Asian Para Games 2026.
Tak berhenti pada biaya keberangkatan dan pertandingan, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada atlet yang berhasil mengukir prestasi.
Surono menyebut bonus bagi peraih medali ASEAN Para Games 2025 disalurkan langsung kepada penerima melalui kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Total nilai penghargaan yang diberikan kepada para peraih medali tersebut mencapai lebih dari Rp350 miliar.
Bagi Kemenpora, capaian atlet disabilitas Indonesia menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga tidak mengenal keterbatasan. Dengan pembinaan yang terencana, fasilitas yang memadai, dukungan anggaran, serta tata kelola yang kuat, atlet-atlet Indonesia diharapkan mampu terus mengibarkan Merah Putih di panggung olahraga internasional.*** (Reza)




