Wings Air, maskapai penerbangan yang tergabung dalam Lion Air Group, baru-baru ini memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya foto dan video di media sosial yang menunjukkan adanya komponen pada salah satu bilah baling-baling pesawat mereka yang tampak diikat menggunakan cable tie. Maskapai tersebut dengan tegas menyatakan bahwa kondisi yang terekam kamera dan menjadi viral tersebut sama sekali bukan merupakan indikasi kerusakan ataupun ancaman terhadap keselamatan penerbangan, melainkan bagian dari prosedur perawatan yang telah ditetapkan oleh pabrikan pesawat. Pernyataan ini disampaikan untuk merespons kekhawatiran publik yang sempat meluas, menegaskan komitmen Wings Air terhadap standar keselamatan dan kelaikudaraan pesawat yang ketat.

sulutnetwork.com – Viralnya foto dan video yang memperlihatkan seutas cable tie terpasang pada bilah baling-baling pesawat Wings Air telah menyulut perbincangan hangat di kalangan masyarakat, khususnya para pengguna media sosial. Berbagai spekulasi dan kekhawatiran muncul mengenai keamanan dan kelaikudaraan pesawat tersebut. Namun, Wings Air melalui pernyataan resmi yang diterima redaksi dari rilis pada Jumat (30/5/2026), menjelaskan bahwa isu yang disorot publik ini merupakan hal yang positif karena menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap keselamatan penerbangan, sebuah prioritas utama yang sejalan dengan nilai-nilai inti dalam industri aviasi global. Maskapai ini mengapresiasi perhatian yang diberikan, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang mungkin timbul akibat kurangnya informasi teknis.

Corporate Communications Strategic of Wings Air, Danang Mandala Prihantoro, menjelaskan secara rinci bahwa komponen yang terlihat pada foto dan video tersebut bukanlah bagian dari struktur utama baling-baling yang vital untuk fungsi aerodinamika atau kekuatan mekanis. Sebaliknya, komponen tersebut adalah lapisan pelindung yang dikenal sebagai deicer atau sistem anti-es, yang memiliki fungsi krusial untuk membantu performa operasional pesawat, terutama saat terbang dalam kondisi cuaca tertentu yang berpotensi menyebabkan pembentukan es pada permukaan baling-baling. Pembentukan es pada baling-baling dapat mengganggu kinerja pesawat, mengurangi efisiensi, dan bahkan menyebabkan ketidakseimbangan yang berbahaya. Oleh karena itu, sistem deicer dirancang untuk mencegah atau menghilangkan penumpukan es, memastikan baling-baling dapat beroperasi secara optimal dan aman.

Danang melanjutkan penjelasannya bahwa penggunaan pengikat sementara seperti cable tie pada bagian deicer tersebut merupakan bagian integral dari prosedur perawatan yang telah ditetapkan oleh pabrikan pesawat. Prosedur ini tidak sembarangan dilakukan, melainkan mengacu pada dokumen Aircraft Maintenance Manual (AMM) atau Buku Pedoman Perawatan Pesawat yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat itu sendiri. AMM adalah dokumen teknis yang sangat komprehensif dan menjadi acuan utama bagi setiap teknisi penerbangan dalam melakukan inspeksi, perawatan, perbaikan, dan modifikasi pada pesawat terbang. Setiap detail dalam AMM telah melalui serangkaian pengujian ketat dan persetujuan dari otoritas penerbangan sipil internasional maupun nasional, sehingga menjamin bahwa setiap prosedur yang diuraikan adalah aman dan efektif.

Lebih lanjut, Danang menekankan bahwa proses pemasangan pengikat sementara ini hanya dapat dilakukan oleh teknisi pesawat yang telah memiliki lisensi dan sertifikasi yang sah. Lisensi ini diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang ketat, serta pengalaman praktis yang memadai di bawah pengawasan. Seorang teknisi berlisensi memiliki pemahaman mendalam tentang struktur pesawat, sistem-sistemnya, dan standar keselamatan penerbangan. Setelah pemasangan cable tie dilakukan, teknisi wajib melakukan pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh komponen yang terkait tetap berfungsi normal, tidak ada gangguan pada kinerja baling-baling, dan tidak mempengaruhi sistem pesawat secara keseluruhan. Ini adalah langkah verifikasi ganda untuk memastikan tidak ada potensi risiko yang terlewatkan.

Danang juga mengklarifikasi persepsi umum tentang cable tie dalam dunia penerbangan. Ia menegaskan bahwa, berbeda dengan penggunaan cable tie dalam konteks sehari-hari yang sering dianggap sebagai solusi darurat atau sementara, dalam dunia penerbangan, penggunaan pengikat seperti cable tie pada komponen tertentu dapat menjadi bagian dari prosedur teknis yang terukur dan telah diperhitungkan secara cermat. Jenis cable tie yang digunakan dalam aviasi seringkali adalah zip tie khusus yang terbuat dari material tahan panas, tahan korosi, dan memiliki kekuatan tarik yang tinggi, dirancang untuk memenuhi standar spesifik penerbangan. Penggunaan ini tidak berkaitan dengan aspek keselamatan penerbangan dalam artian merusak integritas struktural, melainkan sebagai alat bantu untuk mengamankan atau merapikan komponen non-struktural tertentu sesuai dengan pedoman manufaktur.

Setiap pesawat, sebelum diizinkan terbang, harus menjalani rangkaian pemeriksaan yang sangat ketat dan berlapis. Danang merinci beberapa pemeriksaan utama yang rutin dilakukan. Ini termasuk pengecekan sebelum keberangkatan (pre-flight check) yang dilakukan oleh pilot dan teknisi untuk memastikan semua sistem berfungsi dengan baik dan tidak ada anomali visual. Selain itu, ada pemeriksaan berkala lainnya seperti daily check, A-check, B-check, C-check, hingga D-check. Pemeriksaan-pemeriksaan ini bervariasi dalam tingkat kedalaman dan frekuensi, dari inspeksi visual ringan hingga pembongkaran sebagian besar pesawat untuk pemeriksaan struktural yang mendalam. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesawat senantiasa memenuhi standar kelaikudaraan dan keamanan yang berlaku.

Pesawat yang menjadi perhatian publik akibat foto dan video yang beredar tersebut, telah menjalani proses pemeriksaan dan pemeliharaan lanjutan sebagai bagian dari verifikasi teknis. Langkah ini diambil sebagai respons proaktif dari maskapai untuk memastikan tidak ada keraguan sedikit pun mengenai kondisi pesawat. Verifikasi teknis ini mencakup pemeriksaan detail pada sistem deicer, bilah baling-baling, dan area sekitarnya untuk memastikan bahwa semua standar keselamatan, keamanan, dan kelaikudaraan terpenuhi secara mutlak sebelum pesawat diizinkan kembali beroperasi. Prosedur ini merupakan bagian standar dari protokol keselamatan penerbangan yang sangat ketat, di mana setiap anomali, sekecil apa pun, akan ditindaklanjuti dengan serius.

Wings Air dengan tegas menggarisbawahi komitmen mereka bahwa pesawat tidak akan dioperasikan apabila tidak memenuhi seluruh persyaratan keselamatan penerbangan yang ditetapkan oleh otoritas terkait dan pabrikan. Setiap keputusan operasional, mulai dari izin terbang hingga rute penerbangan, selalu didasarkan pada hasil pemeriksaan teknis yang cermat dan mendalam oleh personel berwenang yang telah tersertifikasi, serta sesuai dengan prosedur yang berlaku. Prinsip "keselamatan nomor satu" adalah landasan utama dalam setiap aspek operasional maskapai penerbangan, dan tidak ada toleransi untuk kompromi terhadap standar ini.

"Kami mengapresiasi masukan masyarakat dan menilai perhatian publik sebagai bagian penting dalam membangun pemahaman terkait standar keselamatan dunia penerbangan yang sangat ketat dan berlapis," ujar Danang. Ia menambahkan bahwa dialog antara maskapai dan publik sangat penting untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang kompleksitas dan standar tinggi yang diterapkan dalam industri penerbangan. Ini membantu menghilangkan mitos dan kekhawatiran yang tidak berdasar, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem keselamatan penerbangan yang telah terbukti efektif dan terus berkembang. Wings Air berkomitmen untuk selalu menjaga transparansi dan memberikan informasi yang akurat kepada publik demi menciptakan lingkungan penerbangan yang aman dan nyaman bagi semua penumpang. Setiap detail, sekecil apa pun, dalam operasional penerbangan memiliki dasar ilmiah dan regulasi yang kuat, jauh melampaui persepsi kasual.