Dua wisatawan asing asal Austria tewas secara tragis setelah terjatuh dari jembatan gantung di kawasan objek wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden memilukan ini menyoroti seriusnya masalah keselamatan infrastruktur wisata, khususnya di destinasi yang berstatus super prioritas seperti Labuan Bajo. Pihak kepolisian telah mengidentifikasi penyebab utama kecelakaan maut tersebut, yang merenggut nyawa sepasang suami istri yang tengah menikmati masa liburan mereka.

sulutnetwork.com – Kecelakaan nahas ini terjadi pada Minggu, 24 Mei 2026, ketika pasangan suami istri Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57) dari Austria, sedang melintasi jembatan gantung yang menjadi salah satu akses menuju Air Terjun Cunca Wulang. Jembatan yang diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 20 meter di atas dasar sungai itu mendadak ambruk, mengakibatkan kedua korban terjatuh bebas dan menghantam bebatuan serta arus sungai di bawahnya. Kejadian ini sontak mengejutkan dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban serta menjadi alarm keras bagi pengelola pariwisata setempat. Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, pada Senin, 25 Mei 2026, mengonfirmasi identitas kedua korban dan menjelaskan kronologi awal insiden tragis ini kepada media, termasuk detikBali, yang menjadi salah satu sumber informasi utama.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) awal yang dilakukan oleh tim kepolisian, insiden maut tersebut bermula saat pasangan Jurgen dan Astrid Perjul tengah melintasi jembatan gantung yang terbuat dari papan kayu. Diduga, pijakan jembatan yang mereka lalui tiba-tiba jebol secara masif, menciptakan lubang menganga yang tak terhindarkan. Kondisi ini membuat kedua wisatawan asing tersebut kehilangan pijakan dan terempas ke bawah, menimpa hamparan batu sungai yang terjal dan derasnya aliran air di dasar jurang. "Polisi menemukan lubang menganga sepanjang 1,20 meter pada lantai jembatan yang patah, yang menjadi titik awal jatuhnya korban," terang AKBP Christian Kadang, memberikan gambaran mengerikan mengenai kerusakan fatal pada struktur jembatan.

Investigasi lebih lanjut yang dilakukan secara fisik di lapangan mengungkap kondisi jembatan yang memang sudah sangat memprihatinkan dan tidak layak fungsi. Temuan awal menunjukkan bahwa jaring pengaman (safety net) yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung di sisi kiri dan kanan jembatan telah rusak parah, bahkan hilang hingga 90 persen. Keberadaan jaring pengaman yang nyaris tidak ada ini secara signifikan mengurangi tingkat keamanan jembatan, menjadikannya sangat berbahaya bagi siapa pun yang melintas. Lebih lanjut, kayu-kayu penyangga atau tulang jembatan yang menjadi struktur utama penopang, ditemukan dalam kondisi lapuk termakan usia dan cuaca ekstrem. Kerusakan ini diperparah dengan kondisi sebagian besar papan pijakan yang sudah goyang, terangkat dari rangkanya, bahkan ada yang terlepas sepenuhnya, meninggalkan celah-celah berbahaya di sepanjang jalur jembatan.

"Hasil pemeriksaan sementara mengungkap adanya kondisi jembatan yang sebagian papan sudah goyang dan terangkat, menunjukkan kurangnya perawatan dan inspeksi berkala," ujar Christian, menyoroti akar permasalahan infrastruktur yang rapuh tersebut. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) tertulis terkait pengecekan rutin jembatan maupun sistem keselamatan wisata yang memadai. Kelalaian ini mengindikasikan bahwa pengelola objek wisata tidak memiliki panduan jelas untuk memastikan keamanan pengunjung, khususnya pada infrastruktur berisiko tinggi seperti jembatan gantung.

Terkuak Penyebab Pasutri Austria Tewas di Labuan Bajo, Jembatan Gantung Lapuk

Sebelum insiden tragis ini terjadi, pemandu lokal yang mendampingi pasangan Perjul sempat memberikan peringatan terkait jalur trekking yang licin akibat cuaca. Peringatan ini, meskipun penting, ternyata tidak cukup untuk mengantisipasi bahaya laten yang tersembunyi pada struktur jembatan. "Namun, kondisi jembatan yang memang sudah tidak layak pakai menjadi faktor penentu runtuhnya pijakan korban hingga terjatuh ke dasar sungai," tegas Christian, menekankan bahwa kondisi jembatan yang rusak parah adalah penyebab utama kecelakaan, bukan hanya faktor licinnya jalur.

Selain tidak adanya rambu peringatan bahaya di titik-titik rawan, pengelola wisata Air Terjun Cunca Wulang juga tidak menyediakan fasilitas asuransi kecelakaan bagi wisatawan. Hal ini menjadi sorotan serius mengingat Cunca Wulang adalah salah satu destinasi wisata unggulan di daratan Labuan Bajo, yang seharusnya memiliki standar keselamatan dan perlindungan wisatawan yang tinggi, terutama mengingat status Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas. Ketiadaan asuransi menambah beban berat bagi keluarga korban yang harus menghadapi proses pemulangan jenazah dan biaya-biaya tak terduga lainnya.

Menanggapi tragedi ini, Penyidik Satreskrim Polres Manggarai Barat telah bergerak cepat dengan memeriksa lima saksi kunci terkait insiden yang menewaskan dua wisatawan asing tersebut. Para saksi ini meliputi Kepala Desa Cunca Wulang selaku otoritas wilayah setempat yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengawasan, petugas pos retribusi tiket masuk yang berinteraksi langsung dengan wisatawan, pramuwisata lokal yang mendampingi korban dan menjadi saksi mata, sopir mobil sewaan korban yang mengantar mereka ke lokasi, serta anggota Bhabinkamtibmas yang merupakan pihak pertama yang mengamankan lokasi pascakejadian. Pemeriksaan para saksi ini diharapkan dapat mengungkap lebih jauh mengenai prosedur yang berlaku, tanggung jawab masing-masing pihak, dan potensi kelalaian yang mungkin terjadi.

AKBP Christian Kadang menegaskan komitmen kepolisian untuk mengusut kasus ini secara transparan dan tuntas guna memberikan kepastian hukum. Selain itu, investigasi ini juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi total bagi sektor pariwisata Labuan Bajo yang menyandang status destinasi super prioritas. "Kami akan mendalami seluruh aspek, baik terkait standar keselamatan wisata, tanggung jawab pengelolaan fasilitas, maupun unsur kelalaian yang mungkin terjadi. Semua akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," pungkas Christian, menunjukkan keseriusan pihak berwenang dalam menangani kasus ini. Evaluasi menyeluruh ini krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang dan untuk memulihkan citra pariwisata Labuan Bajo di mata internasional.

Jenazah kedua korban, Jurgen Perjul dan Astrid Perjul, saat ini masih disemayamkan di instalasi pemulasaran jenazah RSUD Komodo, Labuan Bajo. Kepolisian terus berkoordinasi intensif dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta untuk memfasilitasi proses administrasi dan pemulangan jenazah ke negara asal mereka. Informasi dari internal Polres Manggarai Barat menyebutkan bahwa jenazah kedua turis malang tersebut dijadwalkan akan diberangkatkan menuju Austria pada Selasa, 26 Mei 2026. "Rencananya pemulangan besok," ujar seorang sumber di internal Polres Manggarai Barat, mengindikasikan proses repatriasi yang sedang berjalan.

Air Terjun Cunca Wulang sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan keindahan alam eksotis di daratan Labuan Bajo. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari pusat kota Labuan Bajo, menjadikannya pilihan populer bagi wisatawan yang mencari petualangan dan keindahan alam. Destinasi ini secara resmi dikelola oleh Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat. Tragedi ini menjadi pukulan telak bagi upaya pengembangan pariwisata di wilayah tersebut, sekaligus menjadi peringatan keras akan pentingnya menjaga dan meningkatkan standar keselamatan di seluruh objek wisata, terutama di tengah ambisi menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia. Kejadian ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata untuk melakukan audit menyeluruh terhadap infrastruktur dan sistem keselamatan, demi memastikan pengalaman berwisata yang aman dan menyenangkan bagi setiap pengunjung.