Jombang kembali menjadi saksi bisu perhelatan sakral sekaligus meriah, Tradisi Riyaya Unduh-unduh, yang diselenggarakan oleh Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Acara tahunan ini merupakan manifestasi mendalam dari rasa syukur jemaat atas melimpahnya hasil panen dan berkat yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus penanda kuatnya akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Kristiani yang telah berakar selama berabad-abad di tengah masyarakat Jombang.
sulutnetwork.com – Pada Minggu, 10 Mei 2026, suasana di sekitar GKJW Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dipenuhi semangat kebersamaan dan kegembiraan. Ratusan warga dari berbagai usia, baik jemaat gereja maupun masyarakat umum, tumpah ruah menyaksikan dan berpartisipasi dalam rangkaian acara yang telah menjadi ikon kebudayaan lokal ini. Tradisi Riyaya Unduh-unduh bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah perayaan komunal yang memperkuat tali silaturahmi, memelihara kearifan lokal, dan meneguhkan identitas masyarakat Mojowarno sebagai komunitas yang kaya akan nilai-nilai luhur.

GKJW Mojowarno sendiri memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perjalanan kekristenan di Tanah Jawa, khususnya di wilayah Jombang. Didirikan pada pertengahan abad ke-19, gereja ini menjadi salah satu pusat penyebaran Injil yang beradaptasi dengan konteks budaya Jawa. Sejak awal, para misionaris dan pemimpin gereja lokal memahami pentingnya pendekatan inkulturasi, di mana ajaran Kristiani disampaikan dan dihayati melalui medium budaya setempat. Riyaya Unduh-unduh adalah salah satu contoh paling nyata dari upaya tersebut, sebuah festival panen yang menggabungkan tradisi agraris Jawa dengan perayaan syukur Kristen. Nama "Riyaya Unduh-unduh" sendiri berasal dari bahasa Jawa, "riyaya" yang berarti hari raya atau perayaan, dan "unduh-unduh" yang merujuk pada kegiatan memetik atau mengumpulkan hasil panen. Secara harfiah, ia berarti "Hari Raya Panen" atau "Perayaan Mengumpulkan Hasil Bumi".
Persiapan untuk perayaan ini dimulai jauh hari sebelumnya, melibatkan seluruh elemen masyarakat. Para petani, ibu rumah tangga, pemuda, hingga anak-anak turut serta dalam proses pengumpulan hasil bumi terbaik dari kebun dan sawah mereka. Berbagai jenis komoditas pertanian seperti padi, jagung, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan tropis, hingga hasil perkebunan seperti kelapa dan kopi, dengan bangga dibawa menuju gereja. Lebih dari sekadar menyumbang, partisipasi ini adalah wujud nyata dari ketaatan dan rasa syukur, sekaligus refleksi dari kerja keras mereka selama musim tanam. Semangat gotong royong terpancar jelas, di mana setiap keluarga menyumbangkan bagiannya, tidak hanya materiil tetapi juga tenaga dan ide kreatif untuk menyukseskan acara.
Puncak dari persiapan ini adalah kreasi instalasi dekoratif yang memukau. Berbagai hasil bumi yang terkumpul tidak hanya ditumpuk, melainkan diatur dan dirangkai menjadi bentuk-bentuk artistik yang kaya makna. Instalasi ini sering kali menyerupai gunungan, lambang kemakmuran dan kesuburan dalam tradisi Jawa, atau dihias menjadi miniatur rumah adat, gapura, bahkan patung-patung simbolis yang merepresentasikan kehidupan pertanian. Penggunaan elemen-elemen alami seperti janur kuning, bunga-bunga, dan dedaunan menambah keindahan serta nuansa tradisional yang kental. Setiap detail dalam instalasi ini dirancang dengan cermat, mencerminkan kekayaan alam Jombang dan kreativitas warga. Proses pembuatan instalasi ini sendiri menjadi ajang kebersamaan, di mana warga saling membantu, bertukar cerita, dan mempererat ikatan sosial sambil mempersiapkan persembahan terbaik mereka.

Setelah instalasi hasil bumi selesai dibentuk, rangkaian acara dilanjutkan dengan arak-arakan atau pawai keliling. Instalasi-instalasi megah ini diusung secara beramai-ramai oleh para pemuda dan jemaat, diiringi oleh musik tradisional Jawa seperti gamelan atau karawitan gerejawi yang harmonis, serta nyanyian-nyanyian pujian syukur. Pawai ini melewati rute-rute strategis di sekitar lingkungan gereja dan desa Mojowarno, memungkinkan seluruh masyarakat untuk menyaksikan keindahan instalasi dan merasakan atmosfer perayaan. Anak-anak kecil dengan pakaian adat, para ibu yang mengenakan kebaya, dan bapak-bapak dengan beskap atau batik, turut memeriahkan barisan pawai, menciptakan pemandangan yang sarat akan identitas budaya. Arak-arakan ini tidak hanya berfungsi sebagai pameran visual, tetapi juga sebagai ritual doa berjalan, di mana setiap langkah adalah ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta atas keberlimpahan yang telah diberikan. Sorak sorai warga yang menyaksikan di sepanjang jalan menambah semarak perayaan, menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi milik bersama, melampaui batas-batas keagamaan.
Sesampainya kembali di kompleks gereja, instalasi hasil bumi tersebut kemudian dilelang. Proses lelang ini menjadi salah satu bagian paling dinanti dan meriah dari seluruh rangkaian acara. Jemaat dan pengunjung berebut untuk mendapatkan bagian dari hasil panen yang telah diberkati, bukan semata-mata karena nilai ekonomisnya, tetapi lebih pada nilai spiritual dan simbolisnya. Dipercaya bahwa hasil bumi yang diperoleh dari lelang ini membawa berkah dan keberuntungan. Suasana lelang dipenuhi tawa dan semangat kebersamaan, dengan penawar yang antusias dan juru lelang yang memandu dengan humoris. Setiap hasil lelang, mulai dari seikat sayuran hingga satu tandan pisang besar atau bahkan sebuah gunungan kecil, disambut dengan tepuk tangan meriah.
Dana yang terkumpul dari lelang ini memiliki tujuan yang mulia. Seluruh hasil penjualan digunakan sepenuhnya untuk mendukung kebutuhan serta kesejahteraan gereja dan komunitasnya. Ini mencakup berbagai kegiatan sosial seperti bantuan untuk warga kurang mampu, beasiswa pendidikan bagi anak-anak jemaat, program kesehatan masyarakat, serta pengembangan fasilitas gereja. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional gereja dan pemeliharaan bangunan, memastikan keberlangsungan pelayanan dan misi gereja di tengah masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang terkumpul dari lelang adalah manifestasi konkret dari kasih dan tanggung jawab sosial, mengubah hasil panen menjadi sumber daya untuk kebaikan bersama.

Tradisi Riyaya Unduh-unduh adalah contoh nyata dari akulturasi budaya yang harmonis antara nilai-nilai Kristiani dan kearifan lokal Jawa. Gereja Kristen Jawi Wetan secara historis telah menjadi pelopor dalam mengintegrasikan iman dengan budaya setempat, menciptakan sebuah bentuk kekristenan yang kontekstual dan relevan bagi masyarakat Jawa. Dalam Riyaya Unduh-unduh, konsep syukur dalam kekristenan berpadu sempurna dengan filosofi Jawa tentang sangkan paraning dumadi (asal-usul dan tujuan kehidupan) dan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Prosesi dan simbolisme yang digunakan, mulai dari bentuk gunungan, arak-arakan, hingga penggunaan bahasa Jawa dalam ibadah syukur, semuanya menunjukkan betapa dalamnya akar budaya Jawa yang menyatu dalam praktik keagamaan ini.
Lebih dari sekadar ritual, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana efektif untuk mempererat kebersamaan antarwarga. Baik jemaat maupun masyarakat umum, tanpa memandang latar belakang agama, berkumpul untuk merayakan dan berinteraksi. Riyaya Unduh-unduh menjadi momentum penting untuk memperbarui ikatan sosial, memupuk toleransi, dan membangun persatuan dalam keberagaman. Anak-anak diajarkan nilai-nilai gotong royong dan rasa syukur sejak dini, sementara para orang tua dan sesepuh menjadi teladan dalam melestarikan tradisi. Ini adalah perayaan yang menggarisbawahi pentingnya komunitas, di mana individu menemukan makna dan tujuan dalam kebersamaan.
Bagi Kabupaten Jombang, tradisi Riyaya Unduh-unduh juga memiliki nilai penting dalam konteks pelestarian budaya dan promosi pariwisata. Sebagai warisan tak benda yang unik, festival ini menarik perhatian banyak pihak, baik dari dalam maupun luar daerah. Keunikan akulturasi Kristiani-Jawa yang diusungnya menjadikannya daya tarik tersendiri, menunjukkan kekayaan khazanah budaya Indonesia yang beragam. Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan dapat melihat potensi besar dalam mendukung dan mempromosikan tradisi semacam ini, tidak hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap kearifan lokal, tetapi juga sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat identitas kultural Jombang di mata nasional maupun internasional.

Keberlanjutan tradisi Riyaya Unduh-unduh hingga tahun 2026 ini merupakan bukti nyata akan komitmen kuat GKJW Mojowarno dan seluruh jemaatnya dalam menjaga warisan leluhur. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, mereka berhasil mempertahankan esensi dan makna dari perayaan ini, sambil tetap relevan dengan konteks kekinian. Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana tradisi dapat beradaptasi dan terus hidup, tidak hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk masa depan. Dengan semangat syukur yang tak pernah padam dan komitmen terhadap nilai-nilai kebersamaan, Riyaya Unduh-unduh di GKJW Mojowarno akan terus menjadi lentera yang menerangi dan mempersatukan masyarakat Jombang.




