Jakarta – Minggu sore yang cerah pada 16 Mei 2025 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi saksi bisu sebuah pergelaran budaya yang memukau dan monumental, di mana lebih dari 1.500 penari dari beragam latar usia bersatu dalam sebuah tarian massal khas Betawi, menghadirkan energi dan keindahan tradisi yang tak terlupakan bagi ribuan pengunjung. Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah manifestasi nyata dari upaya pelestarian budaya dan semangat kebersamaan yang terangkum dalam tajuk "Tari Massal Semarak Nandak Ondel-Ondel Betawi".
sulutnetwork.com – Kemeriahan pertunjukan yang dipusatkan di Plaza Keong Mas, jantung kompleks TMII, dimulai tepat pukul 16.00 WIB, mengubah area terbuka tersebut menjadi panggung raksasa yang dipenuhi oleh gerakan gemulai dan senyuman ceria para penari. Dari anak-anak berusia tiga tahun hingga sesepuh berusia enam puluh delapan tahun, setiap individu menyumbangkan semangat dan dedikasinya, menciptakan harmoni visual yang memesona, menegaskan bahwa budaya Betawi hidup dan terus berevolusi melalui generasi. Pergelaran ini secara khusus diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun TMII yang jatuh pada tanggal 20 April lalu, menandai komitmen TMII sebagai miniatur Indonesia dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan warisan budaya bangsa.
Kehadiran ribuan penari ini tidak hanya sekadar pertunjukan kuantitas, melainkan sebuah simfoni gerak yang kaya akan makna dan sejarah. Beberapa tarian ikonik Betawi yang ditampilkan meliputi Tari Lenggang Cantik, Tari Sirih Kuning, Tari Kipas None, dan tentu saja, puncak acara berupa Tari Masal Ondel-ondel. Setiap tarian membawa narasi tersendiri, memperkenalkan keunikan dan keanggunan budaya Betawi kepada khalayak luas, mulai dari gerakan lincah yang menggambarkan keramahan hingga ekspresi kegembiraan yang meluap-luap.
Virzihni Nasution, koordinator acara Gempita Nusantara, menjelaskan kepada detikTravel di lokasi bahwa kolaborasi ini merupakan inisiatif bersama antara Gempita Nusantara dan Taman Mini Indonesia Indah. "Acara Gempita Nusantara ini merupakan kerjasama dengan Taman Mini dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Taman Mini yang jatuh pada 20 April yang lalu. Kemudian, untuk acara kali ini sendiri dilaksanakan dengan melakukan tari masal dengan 1.500 penari ini," ungkap Virzihni, menyoroti skala dan tujuan mulia di balik pergelaran akbar ini. Kerja sama semacam ini menjadi krusial dalam menggaungkan kembali nilai-nilai budaya di tengah gempuran modernisasi, memastikan bahwa warisan leluhur tidak lekang oleh waktu.
Virzihni lebih lanjut memaparkan bahwa para penari berasal dari spektrum yang sangat luas, mencerminkan semangat inklusivitas dan keterlibatan komunitas. "Kebetulan para penari ini banyak kak, terdiri dari berbagai komunitas, dari sanggar, dari sekolah, dan bahkan ada individu yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan ini," tambahnya. Keberagaman ini menjadi kekuatan utama, menunjukkan bahwa minat terhadap seni tari Betawi tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan merangkul setiap elemen masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap kebudayaan. Dari siswa sekolah dasar yang baru mengenal gerak dasar hingga penari senior dengan pengalaman puluhan tahun, setiap partisipan memiliki peran vital dalam menghidupkan panggung budaya ini.
Dibalik kemegahan pementasan, tersimpan kisah dedikasi dan kerja keras yang luar biasa. Para penari, dengan jumlah yang fantastis, hanya memiliki waktu persiapan sekitar dua bulan. Yang lebih mengagumkan, sebagian besar latihan dilakukan secara mandiri, dengan mengandalkan panduan video sebagai acuan utama. Gladi resik (GR) atau latihan gabungan secara langsung di lokasi pertunjukan hanya dilaksanakan sekali saja, sehari sebelum hari-H. "Persiapannya sekitar 2 bulan untuk teman-teman latihan. Dan kebetulan baru kemarin banget kami melaksanakan GR di tempat yang sama. Teman-teman sangat hebat, karena bisa langsung rapi gerakannya," puji Virzihni, mengapresiasi profesionalisme dan semangat para penari yang mampu menyatukan gerakan ribuan orang hanya dengan satu kali latihan bersama. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen kuat para seniman dan pegiat budaya dalam menjaga kualitas dan keaslian setiap pertunjukan.

Tari Lenggang Cantik, misalnya, merupakan tarian kreasi baru yang terinspirasi dari gerakan tari tradisional Betawi, menggambarkan kegembiraan dan keanggunan gadis-gadis Jakarta. Gerakannya yang dinamis dan ekspresif seringkali diiringi oleh musik Gambang Kromong, menciptakan suasana ceria yang menular. Sementara itu, Tari Sirih Kuning adalah tarian penyambutan yang melambangkan penghormatan dan kebahagiaan, biasanya ditampilkan dalam acara pernikahan adat Betawi atau penyambutan tamu penting. Keindahan gerakan dan busana penari yang dominan warna kuning keemasan menambah pesona tersendiri pada tarian ini.
Kemudian, Tari Kipas None menghadirkan nuansa yang lebih lembut dan anggun, di mana kipas menjadi properti utama yang digunakan untuk memperindah setiap gerakan. Tarian ini seringkali menceritakan kisah tentang kecantikan dan keramahan wanita Betawi. Puncaknya, Tari Masal Ondel-Ondel, membawa semangat ikonik Betawi ke panggung. Ondel-Ondel sendiri adalah boneka raksasa yang menjadi simbol penjaga atau penolak bala, serta representasi kegembiraan masyarakat Betawi. Gerakan tarian Ondel-Ondel yang energetik dan penuh semangat, diiringi oleh tabuhan rebana, gong, dan alat musik Gambang Kromong, berhasil membangkitkan euforia di antara penonton, sekaligus mengingatkan akan kekayaan folklor Betawi. Musik pengiring yang khas dengan perpaduan instrumen seperti tehyan, kongahyan, sukong, gambang, kromong, gong, dan kendang, memberikan dimensi audio yang kuat pada setiap pertunjukan, melengkapi keindahan visual tarian.
Virzihni berharap besar bahwa melalui ajang tari massal ini, kebudayaan Betawi dapat terus hidup dan berkembang, terutama di kalangan generasi muda. Ia melihat acara ini sebagai jembatan lintas generasi, mengingat rentang usia peserta yang sangat luas. "Goals ke depannya adalah untuk memperkenalkan lagi nih seni budaya, terutama kepada anak-anak muda. Anggota kami ada mulai dari yang paling muda, dari 3 tahun, dan yang paling tua itu ada 68 tahun. Jadi di sini terbuka untuk semuanya, dan besar harapan kami adalah untuk nantinya semoga kebudayaan Betawi, dan kebudayaan Indonesia dapat lebih berkembang," jelasnya penuh harap. Visi ini tidak hanya terbatas pada pelestarian, tetapi juga pada pengembangan dan inovasi agar budaya tetap relevan di era modern.
Di tengah ribuan penari yang memadati Plaza Keong Mas, dua wajah gembira terpancar dari Shafa Fadhillah Hidayattullah dan Alika Aindaru Nurannisa, dua bersaudari pelajar yang turut serta dalam Tari Ondel-ondel massal. Mereka berbagi cerita tentang perjalanan latihan mereka yang penuh dedikasi. "Kita biasanya latihan malam, dari maghrib sampai jam 9 malam di rumah. Dan kita latihan sekitar satu bulan kali ya," kata Shafa, menggambarkan komitmen mereka yang tak kenal lelah demi tampil maksimal. Latihan di malam hari, setelah menyelesaikan rutinitas sekolah, menunjukkan betapa besar keinginan mereka untuk menjadi bagian dari perhelatan budaya ini.
Usaha keras Shafa dan Alika terbayar lunas pada hari pementasan. Meskipun perasaan gugup menyelimuti, kebahagiaan dan kepuasan terpancar jelas dari raut wajah mereka setelah berhasil menyelesaikan pertunjukan. "Lega banget. Enjoy banget," kata mereka kompak dengan semangat yang membara. Pengalaman ini tidak hanya sekadar tampil di panggung, melainkan sebuah pembelajaran berharga tentang disiplin, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya. Rasa bangga menjadi bagian dari ribuan penari yang melestarikan tradisi adalah pengalaman yang tak ternilai bagi mereka.
Setelah mengikuti kegiatan tari massal ini, Shafa dan Alika mengungkapkan harapan mereka untuk terus mendalami dan melestarikan budaya Indonesia. Mereka menyadari betapa kayanya warisan budaya bangsa ini dan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungannya. "Semoga teman-teman sebaya, generasi muda bisa terus membudayakan budaya kita karena di Indonesia tuh budayanya banyak banget ya. Kita bisa lestarikan bareng-bareng," Shafa dan Alika kompak menyampaikan pesan inspiratif mereka. Pesan ini bukan hanya ditujukan kepada teman sebaya, melainkan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan menghargai mozaik budaya yang membentuk identitas Indonesia.
Pergelaran Tari Massal Semarak Nandak Ondel-Ondel Betawi di TMII ini bukan hanya sukses sebagai sebuah acara, tetapi juga sebagai sebuah pernyataan. Pernyataan bahwa kebudayaan adalah jiwa bangsa yang harus terus dirawat dan diperkenalkan kepada setiap generasi. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, acara ini berhasil menciptakan sebuah ikatan emosional yang kuat terhadap warisan budaya. Ini adalah bukti bahwa semangat gotong royong dan kecintaan pada identitas lokal dapat menghasilkan sebuah mahakarya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi, menjanjikan masa depan yang cerah bagi pelestarian kebudayaan Indonesia.


