Jakarta, 10 Mei 2026 – Dalam sebuah acara yang menandai titik balik penting bagi masa depan Ibu Kota, Gubernur Jakarta Pramono Anung secara resmi mencanangkan Jalan Rasuna Said sebagai ikon baru Jakarta dan mendeklarasikan Gerakan Pilah Sampah dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Bertempat di Plaza Festival, Jakarta Selatan, momen bersejarah ini menjadi simbol komitmen pemerintah provinsi untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang modern, berkelanjutan, dan berbudaya, sekaligus menunjukkan upaya serius dalam menata diri di tengah tantangan urbanisasi dan lingkungan.
sulutnetwork.com – Deklarasi yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, serta perwakilan duta besar negara sahabat, menegaskan ambisi Jakarta untuk tidak hanya mempertahankan statusnya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga bertransformasi menjadi metropolis yang inklusif dan ramah lingkungan. Gubernur Pramono Anung dalam sambutannya menekankan urgensi perubahan ini seiring dengan tuntutan publik dan dinamika global yang menempatkan Jakarta pada panggung internasional.
Dalam pidatonya, Gubernur Pramono Anung secara tegas menyatakan keinginannya untuk menjadikan kawasan Rasuna Said sebagai lambang kemajuan dan wajah baru Jakarta. "Pencanangan HUT ke-499 Jakarta dan sengaja diadakan di tempat ini, sebagai bagian untuk menunjukkan kepada masyarakat Jakarta, bahwa Jakarta sekarang ini sedang berbenah diri," ujar Gubernur Pramono Anung, Minggu (10/5/2026) di hadapan ribuan hadirin. Ia menambahkan bahwa status Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia menuntutnya untuk tidak hanya menjadi pusat administrasi, melainkan juga kota global, pusat perekonomian, inklusif, berbudaya, dan mampu menjawab berbagai harapan publik yang kian kompleks.
Visi Jakarta sebagai kota global tidak hanya sekadar label, melainkan sebuah cetak biru pembangunan komprehensif. Ini mencakup peningkatan infrastruktur kelas dunia, pengembangan sumber daya manusia yang kompetitif, penguatan konektivitas internasional, pelestarian kekayaan budaya, serta diversifikasi sektor ekonomi. Gubernur Pramono memahami bahwa dalam persaingan antar kota-kota besar dunia, Jakarta harus memiliki identitas yang kuat dan daya saing yang tinggi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat untuk tetap menjaga posisi Jakarta sebagai magnet ekonomi dan budaya, meskipun wacana pemindahan ibu kota ke Nusantara terus bergulir. Jakarta dituntut untuk menjadi mandiri dan berdaya saing, terlepas dari status ibu kotanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Pramono juga menyoroti transformasi fisik yang sedang berlangsung di Jalan Rasuna Said. Ia mengakui bahwa area tersebut, khususnya di sekitar Kuningan, telah lama menjadi saksi bisu proyek monorail yang mangkrak selama puluhan tahun. "Sekarang ini kita berada di Jalan Rasuna Said. Di jalan ini dulu ada monorail yang jumlahnya 109. Dan monorail itu cukup mengganggu dan sudah hampir 20 tahun lebih tidak tersentuh," kata Pramono, menggambarkan kondisi yang menjadi simbol ketidakjelasan pembangunan di masa lalu.
Sejarah monorail Jakarta sendiri merupakan sebuah saga panjang yang dimulai pada awal dekade 2000-an. Proyek ambisius ini diharapkan mampu menjadi solusi kemacetan Ibu Kota, namun terhenti di tengah jalan akibat berbagai persoalan, mulai dari sengketa pendanaan, masalah teknis, hingga perubahan kebijakan. Tiang-tiang beton yang menjulang tanpa rel dan kereta menjadi monumen kegagalan yang tidak hanya merusak estetika kota tetapi juga membebani pandangan publik dan mengganggu tata ruang. Selama dua dekade, 109 tiang monorail tersebut berdiri kokoh, menjadi pengingat akan janji yang tak terpenuhi, sekaligus menambah keruwetan visual di salah satu jalur protokol terpenting Jakarta.
Namun, angin perubahan mulai berembus pada pertengahan Januari 2026. Gubernur Pramono Anung mengambil langkah berani dengan memulai pembongkaran tiang-tiang monorail tersebut. Keputusan ini, menurutnya, dapat terealisasi berkat dukungan penuh dari aparat penegak hukum yang membantu menyelesaikan persoalan persengketaan legalitas monorail yang berlarut-larut. "Maka alhamdulillah berkat support dukungan dari aparat penegak hukum, persoalan persengketaan monorailnya terselesaikan," jelasnya, mengindikasikan bahwa ada kompleksitas hukum yang berhasil diurai sebelum pembongkaran dapat dilakukan. Proses pembongkaran 109 tiang yang memakan waktu sekitar satu bulan tersebut akhirnya rampung pada Februari 2026, menandai berakhirnya era "monorail hantu" di Kuningan.
Pembongkaran tiang monorail bukan sekadar penghapusan struktur fisik, melainkan juga simbolisasi penghapusan hambatan dan pemulihan kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam menata kota. Area yang dulunya dipenuhi bayangan tiang-tiang beton kini perlahan mulai menampakkan potensinya untuk menjadi ruang publik yang lebih fungsional dan estetis. Gubernur Pramono meyakini bahwa perubahan ini akan sangat signifikan. "Pencanangan sengaja hari ini diadakan di sini karena memang belum selesai. Tapi saya meyakini bulan depan wajah Jalan Rasuna Said ini akan berbeda sekali," ujarnya dengan optimisme, mengacu pada target penyelesaian proyek penataan Rasuna Said pada Juni 2026.
Transformasi Jalan Rasuna Said tidak hanya berhenti pada pembongkaran tiang. Rencananya, area ini akan dirombak total menjadi sebuah koridor kota yang modern dan berkelanjutan. Desain baru akan mengedepankan jalur pejalan kaki yang lebar dan nyaman, penambahan ruang terbuka hijau, integrasi dengan moda transportasi publik lainnya, serta pencahayaan dan elemen artistik yang mempercantik kawasan. Visi ini terinspirasi dari sosok pahlawan nasional Rangkayo Rasuna Said, seorang pejuang emansipasi wanita dan kemerdekaan yang progresif. "Sekaligus ini terinspirasi dari sosok Wajah Rangkayu Rasuna Said, pahlawan nasional kita. Saya berharap agar jalan ini nantinya menjadi ikon baru Jakarta," lanjut Pramono, menghubungkan penataan fisik dengan nilai-nilai sejarah dan kebangsaan. Dengan demikian, Rasuna Said tidak hanya akan menjadi pusat bisnis, tetapi juga area yang mencerminkan semangat kemajuan, kesetaraan, dan kebudayaan Jakarta.
Selain penataan fisik, Gubernur Pramono juga menyinggung masalah krusial lainnya yang dihadapi Jakarta: pengelolaan sampah. Ia berharap kolaborasi lintas sektor bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Koordinator Bidang Pangan dapat menjadi solusi efektif untuk permasalahan sampah yang telah lama membelenggu Ibu Kota. Jakarta, sebagai megapolitan dengan jutaan penduduk, menghadapi tantangan besar dalam mengelola volume sampah harian yang mencapai ribuan ton. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, yang selama ini menjadi andalan, telah mendekati kapasitas maksimum, memunculkan kekhawatiran serius akan krisis lingkungan dan kesehatan.
"Kita akan mengadakan gerakan untuk pilah sampah. Kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan serius menjadi gerakan baru bagi Jakarta untuk memilah sampah ini," tegas Pramono. Gerakan ini bukan sekadar kampanye sesaat, melainkan sebuah inisiatif komprehensif yang menuntut partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Konsep "sungguh-sungguh dan serius" mengisyaratkan adanya strategi yang matang, mulai dari edukasi masif kepada warga tentang pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya, penyediaan fasilitas pemilahan yang memadai di tingkat rumah tangga dan komunitas, hingga sistem pengumpulan dan pengolahan yang efisien.
Peran Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat akan krusial dalam merumuskan kebijakan, standar, dan teknologi pengelolaan sampah yang inovatif, termasuk kemungkinan pengembangan fasilitas daur ulang modern atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan akan fokus pada pengurangan limbah makanan (food waste) dan pemanfaatan sampah organik, yang merupakan porsi signifikan dari total sampah Jakarta. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pengelolaan sampah terpadu yang tidak hanya mengurangi volume sampah ke TPA tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari limbah melalui daur ulang dan kompos.
Gubernur Pramono Anung mengungkapkan harapannya agar "mudah-mudahan persoalan sampah di Jakarta yang dari waktu ke waktu akan terselesaikan." Ini bukan hanya sekadar harapan, melainkan sebuah target ambisius yang membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemerintah, dukungan dari sektor swasta, dan kesadaran kolektif dari masyarakat. Dengan gerakan pilah sampah ini, Jakarta tidak hanya berupaya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga ingin membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Di penghujung sambutannya yang penuh semangat, Gubernur Pramono secara simbolis meresmikan kedua inisiatif penting tersebut. "Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Minggu tanggal 10 Mei tahun 2026, deklarasi gerakan pilah sampah sekaligus pencanangan hari ulang tahun ke-499 kota Jakarta dimulai," ucapnya, disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin. Ia kemudian menutup sambutannya dengan seruan yang menggema, "Jaga Jakarta bersih, pilah sampah. Secara resmi saya nyatakan dimulai." Momen ini menjadi penanda dimulainya era baru bagi Jakarta, sebuah kota yang terus berbenah, tumbuh, dan berinovasi demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh warganya. HUT ke-499 Jakarta menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang kota ini, sekaligus titik tolak untuk menatap satu tahun menuju perayaan setengah milenium yang diharapkan akan diwarnai oleh pencapaian-pencapaian signifikan dalam mewujudkan visi kota global yang berkelanjutan.



