Magelang – Ribuan ekor ikan jenis melem dan burung merpati dilepaskan ke habitat alaminya di Sungai Progo, Borobudur, Kabupaten Magelang, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Waisak 2570 BE/2026. Acara pelepasan makhluk hidup atau "fang sheng" ini diselenggarakan oleh Majelis Umat Nyingma Indonesia (MUNI), mengusung semangat kasih sayang universal dan penghormatan terhadap alam semesta, yang dihadiri oleh ribuan umat Buddha serta sejumlah tokoh publik seperti artis Ferry Salim dan Adam Jagwani.

sulutnetwork.com – Ritual pelepasan massal ini, yang merupakan kolaborasi antara nilai-nilai budaya luhur dan ajaran spiritual Buddha, berlangsung khidmat pada Sabtu, 30 Mei 2026. Dengan melepas sekitar enam hingga sepuluh ribu ekor ikan serta ratusan burung merpati, MUNI berupaya menanamkan pesan penting mengenai keseimbangan ekosistem dan kepedulian terhadap seluruh makhluk hidup, sejalan dengan tradisi "Merti Karuna Bumi" yang telah mengakar kuat dalam kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia. Kegiatan ini menjadi simbol nyata dari harapan akan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh penghuni bumi menjelang puncak perayaan Tri Suci Waisak.

Acara pelepasan makhluk hidup ini berlangsung di tepi Sungai Progo, sebuah lokasi strategis yang dekat dengan Candi Borobudur, ikon penting bagi perayaan Waisak di Indonesia. Tanggal 30 Mei 2026 dipilih sebagai pembuka rangkaian perayaan Waisak, yang biasanya jatuh pada bulan purnama di bulan Mei atau awal Juni. Pemilihan spesies yang dilepaskan pun tidak sembarangan. Ikan melem, sebagai ikan endemik yang banyak ditemukan di sungai-sungai Indonesia, memastikan adaptasi yang baik tanpa mengganggu ekosistem lokal Sungai Progo. Burung merpati, yang secara universal melambangkan kedamaian dan kebebasan, menambah dimensi simbolis pada ritual ini. Kehadiran tokoh publik seperti Ferry Salim dan Adam Jagwani turut memberikan sorotan luas terhadap kegiatan, menegaskan komitmen bersama terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan pelestarian lingkungan.

Ketua Umum MUNI, Lama Rama Santoso Liem, menjelaskan bahwa upacara ini merupakan perpaduan harmonis antara kebudayaan dan ajaran spiritual. Beliau menekankan konsep "Merti Karuna Bumi," sebuah tradisi kuno nenek moyang di Indonesia yang mengajarkan ucapan terima kasih kepada bumi tempat manusia berpijak. "Memang kita di Indonesia, nenek moyang kita sudah mempunyai kebudayaan itu Merti Karuna Bumi. Yaitu ucapan terima kasih kepada bumi di mana kita berpijak," ungkap Lama Rama Santoso Liem kepada wartawan. Konsep ini melampaui sekadar ritual, melainkan manifestasi rasa syukur mendalam atas segala karunia alam semesta, serta ajakan untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup.

Lama Santoso Liem lebih lanjut menjelaskan bahwa tradisi ini diperkaya dengan ajaran Buddha tentang karuna (kasih sayang) dan metta (cinta kasih universal). "Kita berterima kasih, kita mendoakan seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini. Kita bersama-sama menebarkan cinta kasih. Itulah kebudayaan yang ada di Tanah Jawa, ini kebudayaan dari nenek moyang kita," tegasnya. MUNI, sebagai organisasi umat Buddha, mengintegrasikan doa-doa pelepasan makhluk hidup kembali ke habitatnya, sebuah praktik yang dikenal sebagai fang sheng. Praktik ini tidak hanya bertujuan memberikan kebebasan, tetapi juga menumbuhkan welas asih, menciptakan karma baik, dan menginspirasi kebaikan.

Penggabungan kebudayaan lokal dan ajaran kitab suci Buddha, menurut Lama, menghasilkan sebuah upacara yang kaya makna. "Kebudayaan dan ajaran, kata Lama, dari kebudayaan dan ajaran kitab suci digabungkan. Selain itu, juga mendoakan semua makhluk agar hidup sejahtera," ujarnya. Upacara ini menjadi simbol ucapan terima kasih kepada bumi yang telah memberikan kesejahteraan. Doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan kepada makhluk kasat mata seperti ikan dan burung, tetapi juga seluruh makhluk hidup, baik yang terlihat maupun tidak. "Tidak kelihatan mungkin di bumi ada makhluk-makhluk kecil dan juga yang beterbangan serangga semua kita doakan agar sejahtera hidup panjang umur," jelas Lama, memperluas cakupan doa menjadi universal dan inklusif.

Aspek penting lainnya adalah perhatian MUNI terhadap ekologi. Lama Santoso Liem menegaskan bahwa pemilihan jenis ikan yang dilepaskan sangat selektif, disesuaikan dengan habitat dan ekosistem Sungai Progo. "Tahun ini, kita merilis sampai sekitar 6 sampai 10 ribu ikan. Kita tidak ingin melakukan kontroversi, jadi kita serahkan (warga setempat) dan tidak merusak ekosistem di sini," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen MUNI untuk menjalankan praktik fang sheng secara bertanggung jawab, menghindari dampak negatif terhadap lingkungan yang kerap menjadi kritik. Keterlibatan warga setempat juga mencerminkan upaya kolaborasi dengan komunitas lokal demi keberlanjutan praktik ramah lingkungan.

Salah satu peserta yang diwawancarai mengungkapkan rasa syukurnya dapat mengikuti acara fang sheng di Sungai Progo menjelang Waisak. Peserta yang tidak ingin disebut namanya itu menjelaskan, ini adalah tahun ketiga partisipasinya. "Ini tahun ketiga saya mengikuti fang sheng dan lebih senang mengajak teman saya," katanya. Pengalaman berulang ini menunjukkan kepuasan spiritual dan keinginan berbagi kebaikan. Harapannya melampaui manfaat pribadi; ia mendoakan agar kebaikan yang ditebarkan membawa berkat bagi bangsa Indonesia dan seluruh makhluk hidup. "Harapannya semoga kebaikan ini juga memberikan berkat bagi bangsa Indonesia dan kita semua. Saya mendoakan semua makhluk hidup berbahagia," tambahnya, mencerminkan semangat altruisme yang menjadi inti ajaran Buddha.

Praktik fang sheng (放生), yang secara harfiah berarti "melepaskan kehidupan," berakar dalam tradisi Buddhis Mahayana. Intinya adalah manifestasi kasih sayang (karuna) terhadap semua makhluk hidup dan mengumpulkan karma baik. Setiap tindakan menyelamatkan nyawa dianggap perbuatan kebajikan yang sangat besar, membawa manfaat spiritual. Filosofi di baliknya adalah keyakinan bahwa semua makhluk ingin hidup dan bebas dari penderitaan. Dengan membebaskan mereka dari penangkaran, umat Buddha berharap meniru welas asih Sang Buddha.

Pelepasan ini menjadi semakin relevan mengingat momennya yang berdekatan dengan perayaan Tri Suci Waisak. Waisak adalah hari raya terpenting bagi umat Buddha, memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Pangeran Siddhartha Gautama: kelahirannya, pencapaian pencerahan sempurna (menjadi Buddha), dan parinirvana (wafatnya). Hari Waisak adalah waktu untuk refleksi, meditasi, dan praktik kebajikan. Melakukan fang sheng menjelang Waisak dianggap cara efektif mempraktikkan ajaran kasih sayang universal dan mengumpulkan pahala, mempersiapkan diri secara spiritual. Ini juga mengingatkan akan interkoneksi semua kehidupan dan tanggung jawab manusia untuk melindunginya.

Dalam konteks yang lebih luas, etika lingkungan dalam Buddhisme sangat menekankan penghargaan terhadap alam dan segala isinya. Ajaran Buddha memandang manusia sebagai bagian integral dari alam. Oleh karena itu, tindakan seperti fang sheng, ketika dilakukan bijaksana dan bertanggung jawab, sejalan dengan prinsip pelestarian lingkungan. Pemilihan spesies lokal dan konsultasi ahli lingkungan, seperti ditekankan MUNI, krusial memastikan praktik ini bermanfaat secara spiritual dan ekologis, membedakannya dari praktik yang dapat merusak ekosistem.

Sungai Progo sendiri memiliki nilai ekologis dan budaya signifikan di wilayah Magelang. Sebagai salah satu sungai besar di Jawa Tengah, Progo adalah sumber kehidupan bagi banyak komunitas dan habitat