Gunung Ciremai di Jawa Barat tidak hanya dikenal sebagai destinasi favorit bagi para pendaki yang mencari tantangan dan keindahan alam, namun juga berperan vital sebagai "tower air" yang menopang kehidupan jutaan jiwa di empat kabupaten sekitarnya. Dengan kekayaan puluhan mata air yang tak pernah surut dan statusnya sebagai rumah bagi beragam satwa liar langka, kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menjadi indikator penting kelestarian lingkungan di Bumi Pasundan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui komitmen menjaga tutupan vegetasi hutan di wilayah ini, menegaskan pentingnya fungsi ekologis Ciremai sebagai penyedia air bersih dan pelindung keanekaragaman hayati.

sulutnetwork.com – Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, dalam sebuah forum strategis, menekankan bahwa kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare tersebut memegang peranan ekologis yang sangat besar. "Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya," ungkap Toni Anwar di sela kegiatan forum "Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030" KLHK di Kuningan, Jawa Barat, pada Selasa (12/5/2026), sebagaimana rilis yang diterima. Toni menambahkan, kelestarian hutan Ciremai adalah jaminan ketersediaan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu. Konsekuensi dari perubahan kondisi hutan secara drastis akan berdampak langsung pada krisis air bagi masyarakat sekitar.

Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut, Gunung Ciremai merupakan stratovolcano yang aktif, namun kekayaan alam di lerengnya adalah anugerah tak ternilai. Fungsi hidrologis Ciremai terwujud dalam jaringan mata air yang kompleks, mengalirkan air ke sungai-sungai utama yang menjadi sumber kehidupan. Air yang berasal dari puluhan mata air ini memiliki kualitas sangat tinggi karena melewati proses filtrasi alami oleh vegetasi hutan yang lebat dan tanah vulkanik yang subur. Ketersediaan air bersih yang stabil dan murni ini sangat krusial, tidak hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga mendukung sektor pertanian dan industri di empat kabupaten yang secara geografis berada di daerah tangkapan air Ciremai. Di tengah ancaman perubahan iklim dan peningkatan kebutuhan air, peran Ciremai sebagai "tower air" semakin tak tergantikan.

Komitmen KLHK untuk menjaga kelestarian tutupan vegetasi hutan di kawasan TNGC merupakan bagian integral dari upaya konservasi yang lebih luas dan target nasional Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Program FOLU Net Sink 2030 menargetkan agar sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya dapat menyerap lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada yang dilepaskan, sehingga berkontribusi signifikan terhadap mitigasi perubahan iklim. Toni Anwar menjelaskan bahwa melalui upaya rehabilitasi yang konsisten dan terarah, tutupan vegetasi di TNGC kini telah mencapai hampir 90 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari kondisi sebelum tahun 2004, di mana sebagian kawasan sempat mengalami degradasi dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayur yang masif, mengakibatkan hilangnya tutupan hutan dan penurunan kualitas lingkungan. Keberhasilan rehabilitasi ini dicapai melalui program penanaman kembali, penegakan hukum terhadap perambahan hutan, serta pelibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan.

Selain fungsi hidrologisnya yang vital, TNGC juga merupakan habitat kunci bagi sejumlah spesies prioritas yang terancam punah. Tiga di antaranya adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), dan Surili (Presbytis comata). Keberadaan satwa-satwa endemik ini menjadi indikator utama kesehatan ekosistem dan keutuhan lingkungan di gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut. Elang Jawa, yang merupakan burung nasional Indonesia, dikenal sebagai predator puncak dan keberadaannya menandakan rantai makanan yang sehat. Macan Tutul Jawa, subspesies Macan Tutul yang hanya ditemukan di Pulau Jawa, adalah karnivora besar yang perannya sangat penting dalam mengontrol populasi herbivora. Sementara itu, Surili adalah primata endemik Jawa yang hidup berkelompok dan sangat bergantung pada kondisi hutan primer yang lestari.

Toni Anwar menyebut ketiga spesies ini sebagai "akamsi" atau anak kampung sini, merujuk pada penghuni asli kawasan yang harus dilindungi bersama habitatnya. Munculnya Macan Tutul dalam kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili oleh tim patroli atau masyarakat adalah bukti nyata bahwa habitat di TNGC masih terjaga dengan baik. Upaya perlindungan terhadap satwa-satwa ini melibatkan berbagai strategi, mulai dari patroli rutin untuk mencegah perburuan liar, pemantauan populasi dan habitat, hingga edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa liar.

Model pengelolaan taman nasional Gunung Ciremai juga menonjolkan pendekatan berbasis gerakan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi menjadi garda terdepan dalam upaya perlindungan dan pengelolaan. Mereka menyadari hubungan timbal balik yang erat antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan, terutama melalui sektor pariwisata alam. Dalam konteks ini, warga bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek aktif yang diberdayakan. TNGC saat ini mengelola sebanyak 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dengan melibatkan masyarakat dari 54 desa penyangga. Salah satu contoh sukses adalah Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, di mana warga setempat yang dulunya berprofesi sebagai penggarap lahan di dalam kawasan taman nasional kini telah beralih profesi menjadi pengelola wisata. Mereka dilatih untuk menjadi pemandu wisata, pengelola homestay, penyedia jasa transportasi, hingga pengrajin produk lokal yang mendukung sektor pariwisata. Alih profesi ini tidak hanya memberikan alternatif mata pencaharian yang lebih berkelanjutan tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap kelestarian hutan.

Kegiatan "Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030" yang dilaksanakan pada 11-13 Mei 2026 di kawasan TNGC merupakan forum penting yang menggarisbawahi peran strategis perempuan dalam konservasi dan mitigasi perubahan iklim. Forum ini diikuti oleh perwakilan kehumasan kementerian/lembaga, lembaga konservasi swadaya masyarakat, serta pewarta nasional. Kehadiran perempuan dalam forum ini bertujuan untuk memperkuat jaringan, berbagi praktik terbaik, dan merumuskan strategi komunikasi yang efektif dalam mendukung target FOLU Net Sink 2030. Perempuan, dengan peran gandanya dalam keluarga dan masyarakat, seringkali menjadi agen perubahan yang efektif dalam mengadvokasi praktik-praktik berkelanjutan dan menumbuhkan kesadaran lingkungan.

Bagi para pendaki, Gunung Ciremai menawarkan pengalaman mendaki yang tak terlupakan dengan enam jalur pendakian resmi yang telah dikenal luas: jalur Apuy, Palutungan, Linggajati, Linggasana, Trisakti Sadarehe, dan Ciputri. Jalur Apuy di Majalengka dan Palutungan di Kuningan menjadi rute yang paling populer karena aksesnya yang relatif mudah, didukung oleh fasilitas basecamp yang cukup lengkap, serta pemandangan alam yang memukau. Dari Jakarta, pendaki dapat mencapai kawasan Gunung Ciremai menggunakan berbagai moda transportasi seperti kereta api, bus, travel, maupun kendaraan pribadi melalui Tol Cipali dengan waktu tempuh sekitar lima hingga tujuh jam perjalanan, tergantung kondisi lalu lintas.

Selain pesona pendakian, lereng Gunung Ciremai juga kaya akan destinasi wisata alam lainnya yang populer di kalangan wisatawan. Kawasan ini dikenal memiliki udara yang sejuk, panorama pegunungan yang menawan, serta berbagai wisata air alami yang menyegarkan. Beberapa destinasi favorit meliputi Telaga Biru Cicerem, sebuah danau kecil dengan air yang jernih berwarna kebiruan, di mana pengunjung dapat berinteraksi dengan ikan-ikan di dalamnya. Curug Putri Palutungan menawarkan suasana hutan yang asri dengan air terjun yang mempesona, ideal untuk relaksasi dan menikmati keindahan alam. Bumi Perkemahan Palutungan sering menjadi lokasi favorit untuk camping dan titik awal pendakian, dilengkapi dengan fasilitas dasar yang memadai. Ada pula Pemandian Air Panas Sangkanhurip yang terkenal dengan khasiat terapeutiknya, serta berbagai kawasan wisata alam yang dikelola masyarakat di Desa Cisantana, menawarkan pengalaman budaya dan alam yang autentik.

Keberadaan Gunung Ciremai sebagai jantung ekologis Jawa Barat, dengan segala kekayaan alam dan fungsi hidrologisnya, menegaskan pentingnya upaya konservasi yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian Ciremai agar terus menjadi "tower air" yang menghidupi dan "rumah" bagi keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi destinasi wisata alam yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.