sulutnetwork.com – Gelombang besar wisatawan global mengalihkan fokus destinasi liburan mereka dari Timur Tengah yang dilanda konflik menuju pesona Mediterania Eropa, terutama Spanyol dan Portugal. Fenomena ini memicu lonjakan signifikan dalam pemesanan penerbangan dan hotel di kedua negara Iberia tersebut, menandai pergeseran pola pariwisata internasional yang dramatis menjelang musim liburan utama. Para pelaku industri pariwisata memandang Spanyol dan Portugal sebagai “safe haven” atau tempat perlindungan yang aman di tengah ketidakpastian geopolitik, mengerek proyeksi pertumbuhan sektor ini di wilayah tersebut.
Data terbaru dari platform pemasaran perjalanan global, Sojern, yang dihimpun hingga 2 April lalu, mengonfirmasi lonjakan signifikan dalam minat perjalanan ke kedua negara. Spanyol mencatat peningkatan pemesanan penerbangan sebesar 32% secara tahunan, sementara pencarian hotel melonjak 28%. Di sisi lain, Portugal juga tidak ketinggalan, dengan kenaikan pemesanan penerbangan sebesar 21% dan pencarian hotel sebesar 16%. Angka-angka ini tidak hanya merefleksikan pemulihan pasca-pandemi, tetapi juga menunjukkan adanya perpindahan masif preferensi wisatawan yang mencari ketenangan dan keamanan.
Peningkatan ini terjadi di tengah menurunnya minat terhadap destinasi di Timur Tengah, sebuah wilayah yang sebelumnya menjadi daya tarik utama bagi jutaan wisatawan dari seluruh dunia. Perusahaan analisis perjalanan, Mabrian, melaporkan adanya penurunan signifikan dalam minat perjalanan ke Timur Tengah selama sebulan terakhir. Sebaliknya, kawasan Mediterania selatan, dengan Spanyol sebagai penerima manfaat utama, justru mengalami lonjakan permintaan yang substansial. Ini menggarisbawahi bagaimana faktor keamanan dan stabilitas menjadi pertimbangan krusial bagi wisatawan dalam merencanakan perjalanan mereka, terutama untuk liburan yang memerlukan perencanaan jauh-jauh hari.
Situasi kontras terlihat jelas di wilayah Mediterania timur, di mana destinasi seperti Siprus mengalami banyak pembatalan perjalanan. Dampak konflik yang meluas, termasuk gejolak yang terkait dengan Iran, telah menciptakan iklim ketidakpastian yang membuat banyak wisatawan enggan untuk mengambil risiko. Pembatalan ini, yang sebelumnya mungkin mengarah pada penundaan perjalanan, kini justru mengarah pada pengalihan total ke destinasi lain yang dianggap lebih aman dan stabil.
Oscar Perelli, Wakil Presiden Exceltur, organisasi pelaku usaha pariwisata terkemuka di Spanyol, menjelaskan fenomena ini sebagai efek “safe haven” yang mulai terlihat jelas. “Liburan musim panas direncanakan jauh-jauh hari. Ketika destinasi populer terdampak konflik, efek ‘safe haven’ sudah mulai terlihat dalam pemesanan ke Spanyol,” ujar Perelli, seperti dilansir dari The Economic Times pada Jumat (17/4/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa keputusan wisatawan bukan sekadar respons spontan, melainkan hasil dari pertimbangan matang yang memprioritaskan keamanan dan kenyamanan selama berlibur. Spanyol, dengan infrastruktur pariwisata yang matang, stabilitas politik, dan reputasi sebagai destinasi liburan yang ramah, secara alami menjadi pilihan utama.
Sylvia Weiler, General Manager Sojern untuk destinasi global, menambahkan bahwa wisatawan saat ini tidak membatalkan perjalanan mereka sepenuhnya, melainkan beradaptasi dengan memilih tujuan yang lebih aman. “Wisatawan beradaptasi, bukan mundur,” jelas Sylvia. Ini menunjukkan ketahanan industri pariwisata dan keinginan kuat masyarakat untuk tetap bepergian, meskipun harus mengubah rencana awal mereka. Fleksibilitas ini menjadi kunci, di mana platform perjalanan dan penyedia layanan akomodasi berperan penting dalam menyediakan alternatif yang menarik dan mudah diakses.
Lonjakan minat ini membawa angin segar bagi perekonomian Spanyol dan Portugal, yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. Exceltur kini menaikkan proyeksi sektor pariwisata Spanyol, memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,5% tahun ini, mencapai nilai fantastis 227 miliar euro atau setara dengan Rp 4.594,03 triliun. Lebih lanjut, organisasi tersebut juga memproyeksikan potensi tambahan sebesar 4,2 miliar euro (sekitar Rp 84 triliun) dari peralihan wisatawan dari destinasi yang kurang stabil. Angka ini menggambarkan dampak ekonomi yang signifikan dari pergeseran pola perjalanan global.
Tahun lalu, Spanyol telah mencetak rekor dengan menerima 97 juta wisatawan, sebuah pencapaian yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terkemuka di dunia. Dengan proyeksi peningkatan tahun ini, Spanyol berpotensi melampaui rekor tersebut, memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Infrastruktur yang sudah ada, seperti bandara modern, jaringan transportasi yang efisien, dan beragam pilihan akomodasi, siap menampung lonjakan jumlah wisatawan ini.
Asosiasi hotel Spanyol, CEHAT (Confederación Española de Hoteles y Alojamientos Turísticos), juga memproyeksikan dampak positif dari tren ini. Jorge Marichal, Presiden CEHAT, memperkirakan okupansi kamar hotel akan naik hingga 3% selama musim panas ini. Peningkatan okupansi ini tentu akan berdampak langsung pada pendapatan hotel, mendorong investasi lebih lanjut dalam fasilitas dan layanan, serta menciptakan peluang kerja baru di sektor perhotelan. Marichal juga mencatat bahwa wisatawan mulai memilih destinasi yang lebih jauh dari zona konflik, seperti Kepulauan Canary. Kepulauan ini, yang terletak di Samudra Atlantik di lepas pantai Afrika, menawarkan jarak geografis yang aman dan reputasi sebagai destinasi liburan yang tenang dan eksotis.
Kepulauan Canary, dengan iklimnya yang hangat sepanjang tahun, pantai-pantai yang indah, dan lanskap vulkanik yang unik, memang telah lama menjadi magnet bagi wisatawan Eropa. Peningkatan minat terhadap Kepulauan Canary dan destinasi serupa di Portugal, seperti Azores atau Madeira, menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya mencari keamanan geografis, tetapi juga pengalaman liburan yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk berita konflik. Ini juga mengindikasikan bahwa tren pariwisata kini lebih mengarah pada destinasi yang menawarkan ketenangan pikiran dan kesempatan untuk sepenuhnya melepaskan diri dari tekanan global.
Namun, di balik optimisme ini, risiko tetap mengintai dan dapat mempengaruhi proyeksi pertumbuhan yang cerah. Kenaikan harga bahan bakar, yang merupakan konsekuensi tidak langsung dari ketidakstabilan geopolitik, dapat menekan margin keuntungan maskapai penerbangan dan pada akhirnya menaikkan harga tiket bagi wisatawan. Gangguan di rute Timur Tengah juga dapat memperpanjang waktu tempuh penerbangan dan menambah biaya operasional. Faktor-faktor eksternal ini berpotensi menahan laju pertumbuhan yang diantisipasi.
Jorge Marichal dari CEHAT secara khusus menyoroti sensitivitas situasi terhadap perkembangan geopolitik. “Semuanya akan bergantung pada apa yang terjadi di Selat Hormuz, karena seluruh proyeksi bisa berubah,” ujar Marichal. Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk sebagian besar pasokan minyak dunia, memiliki implikasi global. Setiap gejolak atau gangguan di selat ini dapat memicu kenaikan harga minyak secara drastis, yang kemudian akan memengaruhi biaya transportasi dan operasional di seluruh dunia, termasuk sektor pariwisata. Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada maskapai penerbangan tetapi juga pada biaya logistik untuk pasokan hotel dan kebutuhan pariwisata lainnya, yang pada akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.
Selain risiko geopolitik dan ekonomi, tantangan lain yang mungkin muncul adalah potensi overtourism atau pariwisata berlebihan di destinasi yang populer. Dengan lonjakan jumlah wisatawan, Spanyol dan Portugal harus memastikan bahwa infrastruktur lokal, lingkungan, dan kualitas hidup penduduk tidak terganggu. Pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan menjadi sangat penting untuk menjaga daya tarik jangka panjang destinasi ini, menghindari kejenuhan, dan memastikan bahwa manfaat ekonomi tersebar secara adil.
Pergeseran besar dalam pola pariwisata global ini menegaskan bahwa industri ini sangat rentan terhadap dinamika geopolitik. Meskipun konflik di satu wilayah dapat merugikan destinasi tertentu, ia juga dapat menciptakan peluang emas bagi wilayah lain yang dianggap lebih aman dan stabil. Bagi Spanyol dan Portugal, situasi ini menjadi kesempatan untuk lebih mengukuhkan posisi mereka sebagai pemain kunci dalam peta pariwisata dunia, sekaligus tantangan untuk mengelola pertumbuhan ini secara bijaksana demi keberlanjutan jangka panjang.
Kondisi ini juga memberikan pelajaran berharga bagi seluruh industri pariwisata mengenai pentingnya diversifikasi pasar, ketahanan terhadap guncangan eksternal, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan preferensi dan kekhawatiran wisatawan. Masa depan pariwisata global mungkin akan terus dipengaruhi oleh lanskap geopolitik, menjadikan fleksibilitas dan keamanan sebagai pilar utama dalam strategi pengembangan destinasi.
(upd/wsw)




