Sebuah insiden misterius menyelimuti Kabupaten Garut, Jawa Barat, ketika seorang remaja berusia 16 tahun dilaporkan hilang secara tak lazim di kaki Gunung Guntur. Pencarian yang melibatkan berbagai unsur akhirnya menemukan remaja tersebut dalam kondisi yang mengagetkan: telanjang dan dalam keadaan linglung, jauh dari lokasi awal ia terakhir terlihat. Kondisi kejiwaan remaja yang kini sulit diajak berkomunikasi ini menambah teka-teki di balik hilangnya dan penemuannya yang penuh kejanggalan.

sulutnetwork.com – Peristiwa ini bermula pada Minggu, 29 Maret, ketika MR, remaja yang masih berstatus pelajar asal Garut, memutuskan untuk ikut serta dalam aktivitas mencari serangga di area perbukitan yang berbatasan langsung dengan kawasan Gunung Guntur. Ia ditemani oleh kakak perempuannya, Ai, serta keponakannya yang baru berusia 13 tahun. Keterangan dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa rombongan kecil ini beranjak dari kediaman mereka dengan tujuan yang rutin dilakukan oleh keluarga, namun pada hari itu, nasib berkata lain bagi MR.

Kapolsek Tarogong Kaler, Iptu Ate Ahmad Hermawan, menjelaskan detail awal kejadian kepada awak media pada Senin, 30 Maret. Menurutnya, MR bersama Ai dan anaknya sedang mencari serangga jenis tonggeret. Lokasi pencarian mereka berada di perbukitan Sanghiang, sebuah wilayah yang masuk dalam administrasi Kampung Cimuncang, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler. Kawasan ini dikenal dengan kontur tanahnya yang berbukit-bukit dan vegetasi yang cukup rapat, menjadikannya habitat ideal bagi berbagai jenis serangga.

Pencarian serangga tonggeret sendiri bukanlah kegiatan sembarangan bagi keluarga tersebut. Tonggeret memiliki nilai ekonomis karena kerap dicari sebagai bahan baku untuk campuran kosmetik maupun obat tradisional. Suami Ai, yang biasanya menjadi penanggung jawab kegiatan ini, berhalangan hadir karena sedang bekerja di proyek bangunan. Oleh karena itu, Ai mengambil alih peran tersebut dan mengajak MR serta anaknya untuk turut serta. Mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB, dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang cukup banyak sebelum hari beranjak siang.

Perjalanan mereka menuju lokasi pencarian yang lebih dalam memakan waktu dan tenaga. Setelah berjalan kaki sekitar satu kilometer dari titik awal, rombongan tersebut tiba di sebuah perkebunan cabai milik warga setempat. Ini adalah titik di mana keanehan mulai terjadi. Pada sekitar pukul 12.00 WIB, Ai dan anaknya menyadari bahwa MR sudah tidak lagi berada di dekat mereka. Perpisahan ini terjadi begitu saja, tanpa ada tanda-tanda atau peringatan sebelumnya, meninggalkan Ai dan anaknya dalam kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam.

Sebelum insiden perpisahan itu, Ai dan anaknya telah merasakan gelagat aneh dari MR. Iptu Ate Ahmad Hermawan mengungkapkan bahwa sepanjang perjalanan, MR kerap kali meracau. Pembicaraannya mulai melantur, bahkan beberapa kali ia terdengar membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan hantu dan fenomena mistis. Tingkah laku MR yang tidak biasa ini membuat keponakannya yang masih kecil merasa ketakutan dan berulang kali meminta untuk segera kembali pulang ke rumah. "Di jalan, anak Ai minta pulang. Katanya dia takut, karena pamannya (MR) bicaranya seram. Membicarakan hantu. Banyak membahas hal mistis seperti hantu, sehingga menyebabkan saksi ingin pulang," terang Ate.

Kondisi psikis MR yang tampak terganggu dan pembicaraannya yang melantur tentang hal-hal mistis menjadi latar belakang yang mencemaskan sebelum ia menghilang. Setelah menyadari MR tidak ada, Ai dan anaknya berusaha mencari di sekitar area perkebunan cabai tersebut. Namun, pencarian awal mereka tidak membuahkan hasil. Waktu terus berjalan, dan kekhawatiran pun semakin memuncak. Hingga pukul 13.00 WIB, karena MR tidak kunjung ditemukan, Ai dan anaknya memutuskan untuk kembali ke permukiman warga terdekat.

Setibanya di permukiman, mereka segera melaporkan hilangnya MR kepada pihak keluarga dan warga setempat. Berita ini dengan cepat menyebar dan memicu kepanikan. Warga sekitar pun berinisiatif untuk segera melakukan pencarian. Namun, setelah beberapa jam pencarian mandiri oleh warga dan keluarga juga tidak menemukan titik terang, situasi semakin genting. Akhirnya, pada pukul 20.30 WIB, pihak keluarga memutuskan untuk melaporkan kejadian hilangnya MR secara resmi kepada aparat kepolisian di Polsek Tarogong Kaler, berharap bantuan dari pihak berwenang.

Merespons laporan tersebut, Polsek Tarogong Kaler segera membentuk tim gabungan untuk melakukan pencarian. Operasi pencarian besar-besaran pun dimulai pada Minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB. Tim gabungan ini terdiri dari personel kepolisian, anggota TNI, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan lokal, serta masyarakat setempat yang memiliki pemahaman tentang medan di kaki Gunung Guntur. Pencarian di malam hari di area perbukitan yang gelap dan minim penerangan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Mereka harus berhati-hati melintasi lereng, semak belukar, dan rintangan alam lainnya.

Sekitar pukul 22.00 WIB, hanya satu jam setelah pencarian resmi dimulai, sebuah informasi mengejutkan diterima oleh petugas gabungan. MR dilaporkan telah ditemukan. Namun, lokasi penemuannya lah yang menimbulkan keheranan dan menambah daftar kejanggalan dalam kasus ini. MR ditemukan di kawasan Kampung Cipepe, sebuah desa yang masuk dalam wilayah administratif Desa Mekargalih. Lokasi ini berada di kecamatan yang berbeda dari titik awal ia menghilang, dan yang lebih mencengangkan, akses menuju ke sana dari lokasi awal sangatlah minim dan sulit dijangkau.

Iptu Ate Ahmad Hermawan menyoroti keanehan lokasi penemuan tersebut. "Hanya ada dua jalan menuju lokasi penemuan. Satu melalui permukiman penduduk, yang kedua melalui jalan raya. Dua-duanya ramai dan jaraknya memang jauh menuju lokasi penemuan," jelas Ate. Ini berarti, MR tidak mungkin berjalan kaki secara normal dan tanpa bantuan untuk mencapai lokasi tersebut dalam kondisi sadar, apalagi tanpa pakaian. Jarak yang jauh dan medan yang berbeda kecamatan menunjukkan adanya anomali signifikan yang sulit dijelaskan secara logologis.

Selain jauhnya lokasi, kondisi MR saat ditemukan juga menambah misteri. Menurut penuturan saksi pertama yang menemukannya, korban ditemukan dalam keadaan telanjang bulat dan tampak sangat linglung. Ia tidak mengenakan sehelai pakaian pun, sebuah detail yang semakin memperkeruh penyelidikan. Sebelumnya, pada Minggu sore, seorang warga di sekitar lokasi penemuan, dekat Kampung Cipepe, juga sempat melihat keberadaan MR. Saat itu, kondisinya sudah telanjang dada. Namun, ketika ditanya, MR tidak merespons. Ia hanya terlihat komat-kamit tanpa mengeluarkan suara yang jelas, seolah sedang berbicara sendiri atau dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya.

Setelah ditemukan, MR kemudian dievakuasi oleh petugas desa ke kediamannya di kawasan Tarogong Kaler. Pihak kepolisian dan petugas lainnya berusaha untuk memintai keterangan dari MR untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi selama ia menghilang. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. MR tidak dapat menjelaskan secara runtut dan jelas apa yang telah dialaminya. Kondisinya yang linglung dan sulit berkomunikasi menjadi penghalang utama dalam menggali informasi langsung dari korban.

Iptu Ate juga mengulang kembali keterangan dari beberapa saksi lain yang melihat MR sebelum ia ditemukan secara resmi. Salah seorang pemilik lahan di dekat perbukitan Sanghiang, lokasi awal MR menghilang, sempat melihat remaja tersebut. Saat itu, MR tampak bertatapan kosong dan juga berbicara sendiri, mengonfirmasi perilaku aneh yang sudah terlihat sejak awal perjalanan. Kesaksian-kesaksian ini memperkuat dugaan bahwa MR telah mengalami gangguan kejiwaan atau berada dalam kondisi tidak normal jauh sebelum ia ditemukan dalam keadaan telanjang di lokasi yang jauh.

Meskipun kasus ini sarat akan unsur-unsur yang cenderung dikaitkan dengan hal mistis oleh masyarakat setempat, Iptu Ate Ahmad Hermawan menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melakukan penyelidikan secara ilmiah. Aparat kepolisian berkomitmen untuk mencari penyebab pasti mengapa korban bisa menghilang dan ditemukan dalam kondisi demikian, dengan berpegang pada metode investigasi yang rasional dan terukur. "Sejak malam tadi personel kami masih melakukan pendampingan. Anggota masih melakukan penyelidikan," pungkas Ate, menekankan bahwa kasus ini masih dalam penanganan serius.

Perkembangan terkini mengenai kondisi MR disampaikan pada Selasa, 31 Maret. Iptu Ate menuturkan bahwa pihak keluarga dan petugas desa setempat berencana untuk membawa MR ke puskesmas. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi kesehatan fisik maupun psikisnya. Pemeriksaan medis ini diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai apa yang mungkin telah terjadi pada MR, apakah ada luka fisik, atau kondisi kejiwaan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Kondisi MR yang masih linglung dan melantur pasca kejadian horor yang menimpanya menjadi kendala besar bagi polisi dalam mengungkap kronologi sebenarnya. Saat dimintai keterangan oleh petugas, MR seringkali tidak nyambung saat diajak berbicara. Dalam salah satu kesempatan, ia bahkan mengutarakan cerita bahwa ia bisa hilang karena dikejar geng motor. Namun, keterangan ini dengan cepat dibantah oleh kesaksian Ai dan anaknya, serta tidak didukung oleh bukti-bukti di lapangan. "Saat kami melakukan penyelidikan dan memintai keterangan, memang yang bersangkutan tidak nyambung saat diajak berbicara. Kepada petugas yang bersangkutan bilang bisa hilang karena dikejar geng motor. Padahal, menurut keterangan saksi, kejadian itu tidak ada," kata Ate.

Pernyataan MR tentang "geng motor" dianggap sebagai bagian dari delusi atau kebingungan yang dialaminya. Hal ini semakin memperkuat urgensi pemeriksaan kejiwaan. Tim penyidik terus berupaya mengumpulkan informasi dari berbagai saksi dan menganalisis setiap detail yang ada, sembari menunggu hasil pemeriksaan dari pihak medis. Kepolisian berharap, dengan adanya pemeriksaan kesehatan dan kejiwaan, akan ada titik terang yang dapat menjelaskan secara logis rentetan kejadian aneh yang menimpa MR.

Kasus hilangnya MR di kaki Gunung Guntur yang berujung pada penemuan dirinya dalam kondisi telanjang dan linglung ini telah menyisakan banyak pertanyaan. Baik pihak kepolisian maupun keluarga berharap agar pemeriksaan medis dan psikis dapat memberikan jawaban yang konkret. Penyelidikan masih terus berjalan, dengan fokus pada pengumpulan fakta dan upaya untuk mengembalikan kondisi MR agar dapat berkomunikasi secara normal dan menceritakan apa yang sebenarnya ia alami. Misteri di balik peristiwa ini masih menggantung, menanti kejelasan dari hasil investigasi yang mendalam.