Perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 Masehi di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, akan kembali menjadi pusat perhatian dunia, memadukan kekhusyukan ibadah dengan daya tarik budaya dan inovasi modern. Sebagai situs warisan dunia UNESCO dan candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur selalu menjadi episentrum kegiatan Waisak yang menarik ribuan umat Buddha serta wisatawan dari berbagai penjuru global. Namun, pada hari puncak perayaan yang jatuh pada 31 Mei 2026, manajemen pengelola, InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, akan menerapkan kebijakan pembatasan operasional kunjungan wisata demi mendukung kelancaran dan kekhidmatan rangkaian ibadah.
sulutnetwork.com – Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM), Gistang Richard Panutur, menyampaikan bahwa operasional kunjungan wisata ke Candi Borobudur pada 31 Mei 2026 akan tetap dibuka hingga pukul 14.00 WIB. Setelah waktu tersebut, para pengunjung akan secara bertahap diarahkan untuk meninggalkan area candi guna memberikan ruang bagi persiapan rangkaian ibadah dan acara puncak Waisak. Kebijakan ini merupakan langkah proaktif untuk memastikan bahwa prosesi keagamaan dapat berjalan dengan lancar tanpa gangguan dari aktivitas pariwisata, sekaligus menjaga kesakralan dan kekhusyukan perayaan bagi para umat Buddha yang berpartisipasi.
Gistang Richard Panutur lebih lanjut menjelaskan bahwa pembatasan akses tidak hanya berlaku untuk waktu kunjungan, melainkan juga untuk area yang dapat diakses oleh wisatawan. Pada hari H perayaan Waisak, pengunjung hanya akan diperbolehkan berada di area pelataran candi dan tidak diizinkan untuk naik hingga ke struktur utama candi. Hal ini berbeda dengan hari-hari biasa di mana pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur dan relief candi hingga tingkat atas. Pembatasan ini adalah bagian dari upaya komprehensif untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi meditasi, doa, dan ritual keagamaan lainnya yang akan berlangsung di sekitar area candi.
"Secara operasional kami tetap buka sampai jam dua siang. Setelah jam dua siang kami akan mulai menganjurkan para pengunjung untuk meninggalkan lokasi karena kami mempersiapkan rangkaian Waisak. Untuk naik ke atas candi juga tidak bisa pada hari tersebut, hanya sampai pelataran saja," tegas Gistang di Magelang, Jawa Tengah, seperti dilansir dari Antara, Minggu (24/5/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen IDM untuk memprioritaskan fungsi Borobudur sebagai pusat spiritual umat Buddha selama perayaan Waisak, sembari tetap mengakomodasi minat wisatawan dalam batas-batas yang memungkinkan. Koordinasi erat dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian, TNI, dan organisasi keagamaan, menjadi kunci dalam implementasi kebijakan ini guna memastikan ketertiban dan keamanan.
Keputusan untuk membatasi akses naik ke struktur utama candi dan waktu operasional kunjungan wisata merupakan hasil evaluasi dan koordinasi yang matang antara pengelola candi, Kementerian Agama, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta perwakilan umat Buddha. Keseimbangan antara pelestarian situs warisan budaya, pemenuhan hak beribadah umat beragama, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan selalu menjadi perhatian utama. Pembatasan ini diharapkan tidak mengurangi esensi pengalaman Waisak, justru memperkaya nilai spiritual bagi umat dan memberikan gambaran tentang penghormatan terhadap tradisi bagi para wisatawan yang hadir.
Sementara itu, Ketua Lentera Perdamaian Waisak Borobudur, Fatmawati, mengungkapkan antusiasme yang tinggi terhadap rangkaian acara Waisak tahun ini. Ia menyampaikan bahwa jumlah lentera perdamaian yang akan diterbangkan mencapai 2.570 buah. Angka ini secara simbolis bertambah satu dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan harapan akan keberuntungan, kemajuan, dan berkah yang lebih besar bagi seluruh umat manusia. "Setiap tahun kami selalu menambah satu lentera supaya tambah hoki. Tahun ini jumlahnya 2.570 lentera perdamaian," katanya, menyoroti tradisi yang mengandung makna filosofis mendalam dalam setiap perayaan Waisak di Borobudur.
Pelepasan lentera perdamaian, atau yang dikenal sebagai lampion Waisak, adalah salah satu puncak acara yang paling dinantikan. Ribuan lentera yang mengangkasa di langit malam Borobudur menciptakan pemandangan spektakuler yang sarat makna, melambangkan penerangan batin, doa, dan harapan untuk perdamaian dunia. Prosesi ini tidak hanya menjadi daya tarik visual yang memukau bagi wisatawan, tetapi juga merupakan momen refleksi spiritual yang mendalam bagi umat Buddha, di mana setiap lentera membawa harapan dan aspirasi individu maupun kolektif.
Selain tradisi pelepasan lentera, perayaan Waisak tahun ini juga akan dimeriahkan dengan pertunjukan drone yang lebih megah dan inovatif. Fatmawati menuturkan bahwa pertunjukan drone akan menjadi daya tarik utama yang memadukan teknologi modern dengan spiritualitas. Sebanyak 570 drone akan diterbangkan menghiasi langit malam kawasan Borobudur, jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 450 drone. Peningkatan jumlah drone ini juga memiliki makna khusus, mengambil tiga digit terakhir dari tahun Buddhis 2570 BE, sehingga memberikan sentuhan personal dan relevansi kontekstual pada perayaan tersebut.
"Kalau tahun kemarin baru 450 drone, sekarang menjadi 570, mengambil tiga digit terakhir tahun Buddhis," jelas Fatmawati. Pertunjukan drone ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga dapat menyampaikan pesan-pesan perdamaian, toleransi, dan nilai-nilai luhur ajaran Buddha melalui formasi cahaya yang artistik di angkasa. Integrasi teknologi seperti drone dalam perayaan Waisak menunjukkan bagaimana tradisi kuno dapat beradaptasi dan berinovasi tanpa kehilangan esensi spiritualnya, menarik perhatian generasi muda dan memperluas jangkauan pesan Waisak ke khalayak yang lebih luas.
Perayaan Waisak di Borobudur setiap tahunnya memang telah menjadi magnet wisata religi dan budaya yang luar biasa. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, seperti Thailand, Sri Lanka, Myanmar, dan negara-negara lain, berbondong-bondong datang untuk mengikuti ritual keagamaan. Selain itu, wisatawan umum juga turut membanjiri kawasan ini untuk menyaksikan keunikan perayaan yang memadukan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Dampak ekonomi dari perayaan ini pun sangat signifikan, menghidupkan sektor pariwisata lokal mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, hingga penjualan cinderamata.
Rangkaian acara Waisak di Borobudur sendiri tidak hanya terbatas pada pelepasan lentera dan pertunjukan drone. Biasanya, perayaan dimulai dengan prosesi Pindapata, di mana para bhikkhu berjalan mengumpulkan persembahan dari umat. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi Tri Suci Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Pawon, dan puncaknya di Candi Borobudur. Prosesi ini melibatkan ribuan umat yang berjalan kaki membawa sesaji dan atribut keagamaan, diiringi lantunan doa dan gema mantra, menciptakan atmosfer spiritual yang sangat kuat dan mengharukan. Ritual Pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi searah jarum jam sebagai bentuk penghormatan, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.
Persiapan untuk perayaan akbar ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang kompleks. Mulai dari Kementerian Agama yang memfasilitasi umat Buddha, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mempromosikan acara sebagai daya tarik wisata, pemerintah daerah Magelang yang menyiapkan infrastruktur dan keamanan, hingga InJourney Destination Management sebagai pengelola situs. Berbagai organisasi Buddhis seperti Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), dan lainnya juga berperan penting dalam menyusun agenda ibadah dan memastikan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Keamanan menjadi prioritas utama dalam setiap perayaan Waisak di Borobudur. Aparat keamanan dari TNI dan Polri dikerahkan untuk menjaga ketertiban, mengatur lalu lintas, dan memastikan keselamatan seluruh peserta dan pengunjung. Tim medis dan relawan juga disiagakan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dan memberikan bantuan jika diperlukan. Semua elemen ini bekerja sama secara sinergis untuk menciptakan pengalaman Waisak yang aman, nyaman, dan berkesan bagi semua pihak.
Perayaan Waisak di Candi Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, melainkan juga simbol toleransi beragama di Indonesia. Keberagaman umat yang berkumpul di satu tempat suci untuk merayakan hari raya suci menunjukkan indahnya Bhinneka Tunggal Ika. Borobudur, dengan kemegahan dan sejarahnya, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas, serta antara spiritualitas dan pariwisata. Ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia warisan budaya yang kaya dan semangat kebersamaan yang kuat.
Melalui perayaan Waisak 2026 ini, Borobudur kembali menegaskan posisinya sebagai pusat spiritualitas dan destinasi wisata religi kelas dunia. Perpaduan antara tradisi pelepasan lentera yang khusyuk dengan atraksi modern pertunjukan drone yang memukau diharapkan akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung dan umat yang hadir. Meskipun dengan penyesuaian operasional untuk menjaga kekhusyukan, semangat Waisak untuk menyebarkan pesan perdamaian, kebahagiaan, dan pencerahan akan tetap terpancar dari kemegahan Candi Borobudur.




