Sulutnetwork.com – Beredar video di media sosial (medsos) yang memperlihatkan dugaan tindakan perpeloncoan terhadap pekerja imigran Indonesia yang berada di Jepang.

Dalam postingan akun TikTok @panbobolidos, memperlihatkan para junior yang baru tiba diminta memakan natto, kedelai fermentasi khas Jepang seraya dalam tekanan para seniornya.

Suasana dalam video tampak tegang, dan terdengar teriakan seperti “telan!”, “habiskan!”.

Tindakan tersebut, diduga terjadi ketika para junior duduk berbaris tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana hitam.

Para junior PMI di Jepang itu juga berpenampilan dengan kepala plontos, dan dikelilingi senior yang mengawasi mereka dari dekat.

Terkini, postingan tersebut telah dihapus oleh pemilik akun, terlebih setelah mendapatkan sorotan tajam dari warganet di medsos.

Hal tersebut menuai kecaman warganet usai melihat tindakan perpeloncoan yang kerap melibatkan senioritas dan berakar dari budaya kolonial.

Bagi yang belum tahu, perpeloncoan identik dengan kekerasan secara fisik maupun verbal.

Kendati demikian, perpeloncoan kini telah dilarang dan bertransformasi menjadi bentuk pengenalan lingkungan yang lebih edukatif, dengan sebutan masa orientasi siswa (MOS) ataupun Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek).

Berujung Permintaan Maaf dari Senior

Secara terpisah, pihak senior yang viral atas insiden itu mengutarakan permohonan maafnya di hadapan publik.

Melalui akun TikTok yang sama, @panbobolidos, pada Selasa, 3 Maret 2026, seorang pria yang mengaku sebagai pengunggah video sekaligus salah satu senior kemudian memberikan klarifikasi.

“Saya atas nama akun yang sudah mengupload video yang lagi viral,” ungkap pria tersebut.

“Hari ini saya akan mengklarifikasi tentang video anak-anak yang lagi viral makan natto. Saya dan senpai (senior) yang lain tidak bermaksud untuk membully atau menyakiti,” tambahnya.

Makan Seadanya Selama Pelayaran Kapal

Dalam pernyataannya, senior PMI di Jepang itu membeberkan tujuan dari adanya tindakan tersebut sebagai upaya pengenalan terhadap lingkungan bekerja dalam pelayaran kapal.

“Tujuan kami biar adik-adik kami yang baru datang bisa membiasakan diri untuk makan makanan yang ada di kapal Jepang, karena di kapal biasanya makan seadanya,” bebernya.

“Seperti natto, sashimi, telur mentah. Yang kerja di kapal pasti ada yang paham juga,” tambah pria tersebut.

Atas aksi perpeloncoan itu, pihak senior PMI di Jepang mengaku telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada para juniornya.

“Tolong dan juga saya meminta maaf yang sebesar-besarnya,” ungkap pria tersebut.

“Saya bersama senpai (senior) yang lain sudah minta maaf juga,” tandasnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari KBRI Tokyo terkait kejadian yang sedang ramai dibahas tersebut.

Sebagian kalangan menilai, otoritas berwenang diharapkan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap proses orientasi.

Hal tersebut, agar praktik senioritas tidak menimbulkan tekanan yang berlebihan bagi para pekerja imigran Indonesia di masa mendatang.***