Di tengah kompleks pemakaman bersejarah Makam Peneleh di Surabaya, sebuah bangunan tua yang tak lagi utuh berdiri sunyi, memendam kisah-kisah masa lalu yang kelam dan tak terungkap. Bangunan itu dikenal sebagai Omah Balung, sebuah "rumah tulang" yang menyimpan rahasia identitas dan nasib ribuan jasad tanpa nama, sekaligus menjadi simbol tantangan pelestarian cagar budaya di tengah gerusan waktu dan perubahan zaman. Kondisinya yang kian lapuk menjadi pengingat akan pentingnya merawat jejak-jejak sejarah kota yang kaya akan narasi.

sulutnetwork.com – Keberadaan Omah Balung di antara deretan nisan-nisan kuno Makam Peneleh telah lama menjadi daya tarik sekaligus misteri bagi para pengunjung dan peneliti sejarah. Bangunan yang kini hanya menyisakan tembok dan satu pilar itu menyimpan fungsi yang unik dan mengharukan: sebagai tempat penampungan tulang-belulang jenazah manusia yang identitasnya tidak diketahui. Inilah persemayaman terakhir bagi mereka yang dijuluki "Mr. X," jasad-jasad tak bertuan yang kisahnya lenyap bersama hembusan waktu.

Menurut Fahmi Lazuardi, seorang pemandu Makam Peneleh yang akrab dengan setiap sudut dan sejarah kompleks ini, Omah Balung secara khusus didedikasikan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi ‘Mr. X’. Julukan ini diberikan kepada jenazah-jenazah yang identitasnya tidak terungkap, seringkali akibat kecelakaan, musibah, atau kondisi lain yang membuat mereka tak dapat dikenali. Selain itu, tempat ini juga menampung tulang-belulang dari pemindahan makam-makam lama di kawasan Krembangan yang dilakukan pada masa lalu untuk keperluan pengembangan kota. "Ini untuk tempat penyimpanan Mr. X atau yang nggak diketahui identitase sama beberapa pindahan dari Krembangan," jelas Fahmi pada Jumat (10/4), menggarisbawahi praktik penampungan sisa-sisa jasad tak dikenal yang kerap ditemukan dalam proses urbanisasi dan penataan kota kolonial.

Proses pemindahan makam dari Krembangan, yang merupakan salah satu kawasan tertua di Surabaya, kemungkinan besar terjadi seiring dengan ekspansi kota dan kebutuhan akan lahan baru pada era kolonial. Jenazah-jenazah yang dipindahkan, terutama yang tidak lagi memiliki ahli waris atau identitasnya sulit dilacak, kemudian dikumpulkan dan tulangnya disimpan secara terpusat di Omah Balung. Praktik ini menunjukkan adanya upaya sistematis dalam pengelolaan jenazah pada masa lalu, meskipun dengan cara yang kini mungkin terlihat tidak lazim. Ini juga mencerminkan nilai kemanusiaan universal untuk memberikan tempat peristirahatan yang layak, meskipun hanya berupa tulang, bagi mereka yang tak lagi memiliki nama.

Tulang-belulang tanpa nama tersebut dikumpulkan dan ditempatkan dalam dua lubang penyimpanan yang berada di dalam bangunan Omah Balung. Kedua lubang ini menjadi semacam ossuarium komunal, di mana sisa-sisa fisik dari banyak individu menyatu, membentuk sebuah koleksi anonim yang menceritakan kisah kolektif tentang keberadaan manusia yang terlupakan. Keberadaan lubang-lubang ini menegaskan fungsi Omah Balung sebagai ruang penyimpanan massal, sebuah bukti nyata dari upaya pengelolaan jenazah dalam skala besar di masa lalu.

Namun, sejarah Omah Balung ternyata tidak sesederhana itu. Ada versi lain yang menyatakan bahwa bangunan ini juga sempat digunakan dalam sistem makam sewa yang diterapkan di Makam Peneleh pada abad ke-19. Sistem makam sewa ini muncul sebagai respons terhadap keterbatasan lahan pemakaman yang menjadi masalah umum di kota-kota besar kolonial seperti Surabaya. Seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi, lahan untuk pemakaman permanen semakin terbatas, memaksa pemerintah kolonial untuk mencari solusi alternatif.

Kuncarsono Prasetyo, seorang pengamat sejarah dari Begandring Soerabaia, menjelaskan lebih lanjut tentang sistem ini. "Jadi Peneleh pada tahun 1800-an itu sudah terbatas lahan makam, sehingga sempat menggunakan makam sewa. Jadi digunakan di lahan makam tidak permanen," urai Kuncar. Dalam sistem ini, keluarga yang menyewa lahan makam akan dikenakan biaya tertentu untuk jangka waktu tertentu. Jika keluarga tidak melanjutkan pembayaran sewa, jenazah yang dimakamkan akan dibongkar. Tulang-tulangnya kemudian dikumpulkan dan dijadikan satu di ruangan khusus, yakni di Omah Balung. Praktik ini menunjukkan bagaimana keterbatasan sumber daya dapat memengaruhi tradisi dan tata cara pemakaman, sekaligus menciptakan sebuah sistem yang efisien namun kadang kurang memperhatikan aspek emosional dan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sistem makam sewa ini memberikan gambaran tentang dinamika sosial-ekonomi masyarakat Surabaya pada masa kolonial. Lahan adalah komoditas berharga, bahkan untuk tempat peristirahatan terakhir. Mereka yang tidak mampu atau tidak lagi memiliki ahli waris yang membayar sewa, pada akhirnya akan melihat jasad leluhur mereka dipindahkan ke Omah Balung, bercampur dengan jasad-jasad tak dikenal lainnya. Ini juga menimbulkan pertanyaan tentang status sosial dan ekonomi mereka yang akhirnya berakhir di Omah Balung, menjadi bagian dari koleksi tulang-belulang tanpa nama.

Saat ini, bangunan Omah Balung jauh dari bentuk aslinya. Dari gambaran masa lalu, Omah Balung pernah memiliki gaya klasik Eropa dengan empat pilar megah dan atap yang menyerupai rumah mewah, mencerminkan estetika arsitektur kolonial yang lazim pada masanya. Bangunan ini mungkin dulunya merupakan struktur yang mengesankan, memberikan kesan hormat dan martabat bagi penghuninya, meskipun mereka adalah jasad tanpa nama. Pilar-pilar kokoh dan atap yang megah mungkin dirancang untuk memberikan kesan permanen dan penting, bahkan untuk tempat penyimpanan tulang.

Namun, berdasar pantauan di lokasi, Omah Balung saat ini tidak lagi memiliki atap, hanya tersisa tembok yang mengelilingi dan satu pilar di sisi kiri bangunan yang masih berdiri tegak. Sisa-sisa kejayaan arsitektur masa lalu kini hanya berupa puing yang termakan usia, diselimuti oleh alam. Tembok-temboknya bercat lumut tebal yang menua dan berhias tanaman rambat yang memeluk erat sisa-sisa dinding, menciptakan pemandangan yang sureal dan melankolis. Keindahan yang pernah ada kini digantikan oleh estetika alami dari pelapukan, di mana alam secara perlahan mengklaim kembali struktur buatan manusia.

Begitu pula dengan dua lubang penyimpanan tulang di dalamnya. Saat hendak melihat isi lubang, pengunjung harus menyingkap tanaman rambat yang tumbuh lebat dan menghalangi pandangan. Sayangnya, kondisi di dalam lubang tertutup sampah dan reruntuhan bangunan, menambah kesan terbengkalai dan tidak terawat. Sisa-sisa tulang tidak terlihat jelas karena tertimbun material yang jatuh akibat termakan usia, menyembunyikan bukti-bukti sejarah yang seharusnya menjadi bahan penelitian dan renungan. Kondisi ini mencerminkan kurangnya perhatian dan upaya pelestarian yang memadai terhadap situs bersejarah ini.

Selain kondisi Omah Balung yang memprihatinkan, Makam Peneleh secara keseluruhan juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah. Terdapat pula beberapa makam yang tampak rusak, dengan sejumlah nisan maupun keramik makam terlihat berlubang di bagian atas maupun bawah. Kerusakan ini tidak hanya menghilangkan keindahan arsitektur makam, tetapi juga mengancam integritas fisik jenazah yang dimakamkan di dalamnya. Salah satu makam yang tidak lagi tertulis identitasnya pada nisan bahkan harus ditutup oleh lembaran aluminium berkarat agar air hujan tidak masuk ke liang kuburnya, sebuah upaya darurat yang mencerminkan keputusasaan dalam menghadapi kerusakan yang terus berlanjut.

Ketika lembaran aluminium berkarat itu dibuka, masih terlihat tengkorak dan beberapa tulang almarhum yang beristirahat di sana, sebuah pemandangan yang mengharukan dan mengerikan sekaligus. Ini adalah bukti nyata bahwa di balik nisan yang rusak, masih ada sisa-sisa manusia yang menuntut penghormatan. Fahmi menjelaskan bahwa perbaikan makam tidak bisa sembarang dilakukan karena harus melalui persetujuan keluarga almarhum, sebuah prosedur yang seringkali sulit dipenuhi mengingat banyak keluarga yang sudah tidak diketahui keberadaannya atau pindah tempat.

Selain itu, jika hendak membangun ulang, bentuk dan bahan yang digunakan pun harus sama persis sebab Makam Peneleh merupakan cagar budaya yang dilindungi. Status cagar budaya ini, meskipun penting untuk menjaga keaslian sejarah, juga menjadi hambatan dalam proses renovasi dan pemeliharaan. "Ini bolong karena usia, nggak boleh dipugar juga. Karena bentuknya harus sama kalau mau dibangun ulang," ucap Fahmi, menyoroti dilema antara pelestarian keaslian dan kebutuhan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Setiap perubahan harus sesuai dengan peraturan ketat yang berlaku untuk situs warisan budaya, yang seringkali membutuhkan biaya besar dan keahlian khusus.

Faktor kedua yang menyebabkan beberapa makam rusak selain karena usia adalah karena peristiwa penjarahan yang sempat terjadi pada era 1970-an. Pegiat sejarah, Hendra, menjelaskan bahwa pada masa lalu, beberapa jenazah ada yang dikuburkan bersamaan dengan perhiasan atau barang berharga milik mendiang, sesuai dengan kepercayaan atau tradisi keluarga. Hal inilah yang memicu terjadinya penjarahan dan perusakan makam secara besar-besaran. Pencurian benda-benda berharga ini tidak hanya merusak makam secara fisik tetapi juga menghilangkan artefak-artefak berharga yang seharusnya menjadi bagian dari sejarah pribadi dan kolektif.

Hendra menambahkan bahwa sebelum tahun 2015, akses ke Makam Peneleh relatif bebas, bahkan seringkali digunakan sebagai tempat tidur para tunawisma (homeless). "Di bawah 2015 itu bebas orang masuk, dibuat tempat tidur para homeless. Jadi sejak 1970-an terjadi penjarahan karena ada harta yang dikubur. Nisan banyak yang diambil dan dihalusin lagi terus dijual," tutur Hendra. Kondisi tanpa pengawasan ini memperparah kerusakan, baik dari tindakan penjarahan maupun dari penggunaan tidak semestinya yang menyebabkan vandalisme dan pelapukan dipercepat. Banyak nisan yang dicuri, dihaluskan kembali, dan kemudian dijual, menghilangkan identitas dan penanda makam secara permanen.

Meski menghadapi berbagai tantangan dan kerusakan, Makam Peneleh tetap menyimpan banyak cerita dan nilai sejarah yang tak ternilai. Patung-patung indah penanda makam, meskipun beberapa rusak, masih banyak yang terjaga dan menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Kompleks pemakaman ini sudah lama ditutup sejak tahun 1940 dan mengukirkan 14.355 nama di nisan-nisannya, mencerminkan keragaman etnis dan status sosial masyarakat Surabaya pada era kolonial, mulai dari pejabat Belanda, pedagang Tionghoa, hingga priyayi Jawa.

Pengunjung yang datang, baik dari dalam maupun luar negeri, umumnya memiliki tujuan untuk berziarah atau mempelajari sejarah. Mengingat di Makam Peneleh terdapat sejumlah makam tokoh penting di Surabaya, seperti mantan wali kota, tokoh pejuang, hingga keluarga-keluarga terpandang pada masanya. Keberadaan makam-makam ini menjadikan Peneleh sebagai situs warisan budaya yang penting untuk studi genealogi, sejarah sosial, dan arsitektur pemakaman kolonial.

Namun, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, keluarga dari jenazah yang telah dimakamkan di sana masih dapat menambahkan nama atau abu anggota keluarga lain pada makam yang sama sebagai penanda. Praktik ini menunjukkan bahwa meskipun telah ditutup puluhan tahun, ikatan keluarga dan tradisi pemakaman masih hidup dalam beberapa komunitas. Diketahui, praktik tersebut terakhir dilakukan pada tahun 2022, membuktikan bahwa Makam Peneleh, meskipun tua dan rusak, masih memiliki relevansi dan makna bagi generasi saat ini. Omah Balung dan Makam Peneleh adalah narasi visual tentang sejarah Surabaya, sebuah pengingat akan pentingnya menjaga warisan masa lalu untuk memahami identitas masa kini dan merencanakan masa depan.