Kupang, Nusa Tenggara Timur – Kemeriahan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kupang dirayakan dengan penuh khidmat dan tradisi mendalam oleh keluarga besar Liu-Lay. Pada Senin (16/2/2026) malam, keluarga tersebut menggelar serangkaian ritual Tionghoa, termasuk pembakaran uang arwah atau Jinzhi, doa bersama, dan pemasangan tebu, yang menjadi simbol harapan dan penghormatan terhadap leluhur serta Sang Pencipta dalam menyongsong tahun baru.

sulutnetwork.com – Perayaan yang dipantau langsung oleh awak media ini menunjukkan betapa kuatnya akar tradisi Tionghoa yang masih dilestarikan di tengah masyarakat Kupang yang multikultural. Ritual tersebut diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh kepala keluarga, Edy Lauw, menggunakan hio atau dupa sebagai sarana penghubung spiritual. Prosesi ini menjadi inti dari perayaan, menandai dimulainya serangkaian kegiatan yang berbalut makna filosofis dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Doa bersama tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata dari rasa syukur dan penghormatan yang mendalam, sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda dalam keluarga agar senantiasa menghargai karunia kehidupan.

Pembakaran Jinzhi, atau uang arwah, menjadi salah satu ritual paling menonjol dalam perayaan Imlek yang dilakukan oleh keluarga Liu-Lay. Ritual ini melibatkan dua jenis uang arwah: uang arwah berlambang emas yang dipersembahkan bagi Sang Pencipta, dan uang arwah bergambar perak yang ditujukan bagi para leluhur. Perbedaan simbol ini mencerminkan hierarki penghormatan dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, di mana Sang Pencipta menempati posisi tertinggi, diikuti oleh para leluhur yang diyakini masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan keturunannya. Proses pembakaran ini diyakini sebagai cara untuk mengirimkan "mata uang" atau persembahan ke alam baka, memastikan bahwa para leluhur dan dewa-dewi senantiasa berkecukupan dan memberkati keluarga yang masih hidup.

Edy Lauw, yang juga dikenal dengan nama Liu Sun Nyan, menjelaskan bahwa ritual doa bersama ini memiliki tujuan ganda. "Doa bersama ini bertujuan agar anak-anak tahu selama kita masih menjalani hidup di dunia ini, kita harus bersyukur kepada Sang Kuasa," ujarnya di Kupang. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya rasa terima kasih atas segala berkah yang telah diterima, sebuah nilai fundamental dalam ajaran Konghucu dan filosofi Tionghoa pada umumnya. Selain itu, doa juga menjadi bentuk permohonan perlindungan dan restu dari para leluhur, memastikan kelangsungan kesejahteraan dan keharmonisan keluarga di tahun yang baru.

Tradisi pemasangan tebu di depan rumah juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek keluarga Liu-Lay. Menurut Edy, tebu melambangkan hal-hal yang "manis-manis" atau keberuntungan dan kemakmuran yang diharapkan akan datang di tahun yang baru. Simbolisme tebu ini sangat kaya dalam budaya Tionghoa; akarnya yang kuat dan batangnya yang tumbuh lurus ke atas seringkali diartikan sebagai harapan akan pertumbuhan yang stabil dan kemajuan yang berkelanjutan. Selain itu, rasa manis tebu diasosiasikan dengan kebahagiaan dan kehidupan yang penuh berkah. Pemasangan tebu di pintu masuk rumah diharapkan dapat menarik energi positif dan keberuntungan, melindungi rumah dari pengaruh buruk, dan memastikan kelimpahan rezeki.

Ritual doa kepada Sang Pencipta dilakukan di halaman rumah, sebuah lokasi terbuka yang melambangkan koneksi langsung dengan langit dan alam semesta. Sementara itu, doa kepada para leluhur dilaksanakan di dalam rumah, khususnya di area altar keluarga, yang merupakan tempat sakral untuk mengenang dan menghormati generasi pendahulu. Pemisahan lokasi doa ini menunjukkan perbedaan ranah spiritual yang dihormati: alam ilahi yang luas dan alam arwah leluhur yang lebih intim dengan keluarga. Setelah serangkaian doa dan penghormatan, prosesi dilanjutkan dengan pembakaran uang arwah, serta persembahan simbolis lainnya seperti sepatu dan baju yang juga dibakar. Benda-benda ini diyakini akan mencapai alam arwah dan digunakan oleh para leluhur yang telah meninggal dunia, menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang tidak terputus dari keturunan yang masih hidup.

Liu Sun Nyan menekankan pentingnya ritual ini sebagai jembatan antara generasi, menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak cucu. "Kami bersyukur dan mohon perlindungan dari leluhur-leluhur kami. Doa pertama bentuk penghormatan kami kepada Sang Pencipta," jelasnya, merangkum inti dari perayaan ini sebagai perpaduan antara rasa syukur, penghormatan, dan harapan. Imlek bukan hanya sekadar pergantian tahun, melainkan momen introspeksi, penguatan ikatan keluarga, dan pembaruan komitmen terhadap nilai-nilai spiritual dan budaya.

Perayaan Tahun Baru Imlek dalam tradisi Tionghoa secara luas dikenal sebagai festival musim semi, sebuah perayaan yang penuh dengan simbolisme dan makna mendalam yang berpusat pada harapan akan kemakmuran, kebahagiaan, dan keberuntungan di tahun yang akan datang. Kalender Kongzili, yang digunakan dalam penentuan tanggal Imlek, adalah kalender lunisolar yang berbeda dengan kalender Gregorian yang umum digunakan. Tahun 2577 Kongzili jatuh pada tahun 2026 Masehi, dan akan menandai dimulainya Tahun Ular Kayu, sebuah periode yang dalam astrologi Tionghoa dikaitkan dengan kebijaksanaan, keberuntungan, dan transformasi.

Sejarah Imlek di Indonesia sendiri telah melalui perjalanan panjang. Setelah sempat dilarang selama era Orde Baru, perayaan Imlek kembali diakui sebagai hari libur nasional pada awal tahun 2000-an. Pengakuan ini tidak hanya mengembalikan hak beragama dan berbudaya bagi etnis Tionghoa, tetapi juga memperkaya mozaik keberagaman budaya Indonesia. Di kota-kota seperti Kupang, yang memiliki komunitas Tionghoa yang cukup signifikan, Imlek menjadi salah satu perayaan yang turut meramaikan suasana kota, menunjukkan toleransi dan harmoni antarumat beragama dan berbudaya.

Tradisi membakar uang arwah atau Jinzhi telah menjadi praktik yang umum dalam budaya Tionghoa selama berabad-abad. Jinzhi sendiri adalah kertas yang dicetak menyerupai mata uang, emas batangan, atau barang-barang berharga lainnya. Kepercayaan di baliknya adalah bahwa dengan membakar Jinzhi, persembahan tersebut akan "dikirimkan" ke alam baka, memastikan bahwa roh leluhur dan dewa-dewi memiliki kebutuhan material yang cukup. Ini adalah bentuk filial piety atau bakti kepada orang tua dan leluhur yang sangat ditekankan dalam ajaran Konghucu. Tidak hanya uang, terkadang pakaian, rumah-rumahan, mobil-mobilan, hingga perangkat elektronik mini juga turut dibakar sebagai simbolis persembahan bagi kehidupan di alam lain.

Setelah semua ritual spiritual selesai, perayaan Imlek keluarga Liu-Lay ditutup dengan makan malam bersama keluarga. "Tradisi orang Tionghoa saat malam tahun baru dengan duduk makan bersama keluarga merupakan wujud kebersamaan itu selalu ada," pungkas Liu Sun Nyan. Makan malam bersama atau Nian Ye Fan adalah puncak dari perayaan Imlek, di mana seluruh anggota keluarga berkumpul, seringkali dari berbagai penjuru, untuk menikmati hidangan istimewa. Hidangan yang disajikan pun penuh dengan simbolisme. Misalnya, ikan utuh melambangkan kelimpahan (nian nian you yu), pangsit melambangkan kekayaan karena bentuknya menyerupai batangan emas kuno, dan mi panjang melambangkan umur panjang. Momen ini bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang mempererat ikatan keluarga, berbagi cerita, dan membangun kenangan yang tak terlupakan, menegaskan bahwa kebersamaan adalah harta tak ternilai dalam setiap keluarga Tionghoa.

Pemasangan tebu, selain untuk menarik hal-hal "manis", juga memiliki konotasi lain dalam beberapa tradisi Tionghoa, terutama yang terkait dengan legenda Dewa Dapur (Zao Jun) atau bahkan perayaan ulang tahun Kaisar Giok. Tebu sering ditempatkan di dekat pintu atau altar sebagai simbol tangga yang memungkinkan dewa-dewi naik dan turun dari surga. Dalam konteks keluarga Liu-Lay, penekanan pada "manis-manis" menunjukkan fokus pada aspek kebahagiaan dan kemakmuran yang diinginkan di tahun yang baru. Bersama dengan lampion merah, pohon jeruk kumquat, dan hiasan-hiasan lain yang mungkin juga dipasang, tebu melengkapi dekorasi Imlek yang kaya warna dan makna.

Seluruh rangkaian perayaan Imlek yang dilakukan keluarga Liu-Lay di Kupang ini menjadi cerminan nyata dari bagaimana tradisi dapat terus hidup dan berkembang melintasi zaman. Ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengajarkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus, dan memperkuat fondasi kebersamaan dalam keluarga. Di tengah dinamika kehidupan modern, komitmen terhadap tradisi semacam ini menunjukkan kekayaan budaya yang tak ternilai dan pentingnya menjaga identitas diri di tengah masyarakat global yang semakin terhubung. Melalui doa, persembahan, dan kebersamaan, keluarga Liu-Lay berharap dapat menyongsong Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dengan hati yang penuh syukur, harapan, dan berkah.