Paris terguncang oleh insiden tragis pada Jumat sore, 13 Februari 2026, ketika seorang pria ditembak mati oleh petugas kepolisian di salah satu monumen paling ikonik di ibu kota Prancis, Arc de Triomphe. Peristiwa berdarah ini terjadi di tengah prosesi upacara api abadi yang sakral, memicu kepanikan dan respons keamanan yang masif di area yang selalu ramai pengunjung tersebut. Pria tersebut diduga kuat berupaya menyerang petugas dengan pisau dan gunting, mengancam keselamatan dalam sebuah upacara yang didedikasikan untuk menghormati para pahlawan perang Prancis.

sulutnetwork.com – Mengutip laporan dari The Independent pada Sabtu, 14 Februari 2026, insiden bermula saat pria tersebut secara tiba-tiba mengacungkan pisau dan gunting, bergerak agresif menuju salah satu petugas yang berjaga dalam upacara penyalaan api abadi di makam Tentara Tak Dikenal. Kesigapan aparat menjadi kunci dalam mencegah potensi korban lebih lanjut. Petugas lain yang melihat ancaman serius tersebut dengan cepat melepaskan tembakan untuk melumpuhkan pelaku. Kepolisian Prancis segera mengonfirmasi bahwa tidak ada warga sipil maupun anggota polisi lain yang terluka dalam baku tembak singkat namun fatal itu, menunjukkan profesionalisme dan respons cepat aparat dalam menghadapi situasi genting.

Upacara penyalaan api abadi di Arc de Triomphe adalah ritual harian yang khidmat, diselenggarakan setiap malam untuk mengenang Tentara Tak Dikenal yang dimakamkan di bawah lengkungan monumen megah tersebut sejak 1921. Ritual ini menjadi simbol abadi penghormatan terhadap para prajurit yang gugur dalam Perang Dunia I dan konflik-konflik lainnya, menjaga semangat nasionalisme dan pengorbanan tetap hidup di hati rakyat Prancis. Insiden penyerangan di tengah prosesi yang sakral ini tidak hanya mengejutkan tetapi juga dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap nilai-nilai historis dan patriotisme yang diemban oleh monumen tersebut. Kehadiran ribuan wisatawan dan warga lokal yang sering menyaksikan upacara ini menambah tingkat kegentingan situasi, di mana setiap ancaman dapat dengan cepat berubah menjadi bencana massal.

Kantor kejaksaan antiterorisme Prancis (PNAT) segera mengambil alih penyelidikan atas insiden ini, mengindikasikan adanya dugaan kuat motif terorisme di balik penyerangan tersebut. Menurut keterangan resmi dari PNAT, tersangka merupakan warga negara Prancis kelahiran tahun 1978. Pria tersebut meninggal dunia di rumah sakit setelah menderita luka tembak yang serius. Pihak berwenang memilih untuk tidak merilis identitas lengkapnya kepada publik, sebuah langkah standar dalam penyelidikan awal yang sensitif untuk menghindari spekulasi dan menjaga integritas proses hukum. Penyelidikan awal telah dibuka atas dugaan percobaan pembunuhan yang berkaitan dengan aksi terorisme, menyoroti kekhawatiran yang mendalam mengenai ancaman ekstremisme di dalam negeri.

Penyelidikan lebih lanjut oleh kantor kejaksaan mengungkapkan rekam jejak kriminal pelaku yang mengkhawatirkan. Pria tersebut diketahui merupakan seorang residivis yang sebelumnya telah dijatuhi hukuman 17 tahun penjara oleh pengadilan di Brussels, Belgia, pada tahun 2013. Hukuman tersebut dijatuhkan atas dakwaan percobaan pembunuhan bermotif terorisme terhadap tiga petugas polisi di Molenbeek, Belgia, setahun sebelumnya, yakni pada tahun 2012. Molenbeek, sebuah distrik di Brussels, dikenal sebagai salah satu pusat radikalisasi di Eropa, tempat beberapa pelaku serangan teroris di Paris pada November 2015 pernah tinggal atau merencanakan aksinya. Latar belakang ini secara signifikan memperkuat dugaan motif terorisme dalam insiden di Arc de Triomphe.

Setelah menjalani masa hukumannya di Belgia, pelaku dipindahkan ke Prancis pada tahun 2015 untuk melanjutkan sisa masa penahanannya. Data dari kejaksaan menunjukkan bahwa ia baru saja dibebaskan dari penjara pada tanggal 24 Desember 2025, kurang dari dua bulan sebelum insiden di Arc de Triomphe. Sejak pembebasannya, ia berada di bawah pengawasan dan pemantauan yudisial, sebuah mekanisme yang dirancang untuk mengawasi individu-individu yang dianggap berisiko tinggi setelah menjalani hukuman atas kejahatan terkait terorisme. Insiden ini secara tidak langsung memunculkan pertanyaan kritis mengenai efektivitas sistem pengawasan dan program deradikalisasi bagi narapidana terorisme yang telah dibebaskan. Tantangan dalam memantau individu-individu berisiko tinggi yang telah menyelesaikan masa hukumannya memang menjadi isu kompleks yang dihadapi banyak negara di Eropa.

Arc de Triomphe, sebagai salah satu simbol paling kuat dari identitas dan sejarah Prancis, sering kali menjadi target simbolis bagi serangan atau aksi protes. Dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk menghormati kemenangan militer Prancis, monumen ini berdiri megah di ujung barat Champs-Élysées, melambangkan kebesaran dan ketahanan bangsa. Di bawah lengkungannya yang kolosal terletak Makam Tentara Tak Dikenal, tempat api abadi menyala tanpa henti. Monumen ini bukan hanya daya tarik wisata, tetapi juga pusat peringatan nasional, tempat upacara-upacara penting kenegaraan sering diselenggarakan. Serangan terhadap lokasi seperti ini memiliki dampak psikologis yang jauh lebih besar daripada sekadar kerugian fisik, karena ia menyerang fondasi simbolis sebuah bangsa.

Peristiwa ini juga menambah daftar panjang insiden terkait terorisme yang melanda Prancis dalam beberapa tahun terakhir, sebuah negara yang telah menjadi sasaran berulang kali oleh kelompok ekstremis. Mulai dari serangan terhadap majalah Charlie Hebdo pada 2015, serangkaian serangan terkoordinasi di Paris pada November 2015, hingga serangan truk di Nice pada 2016, Prancis telah berada di garis depan perang melawan terorisme. Ancaman dari individu-individu yang teradikalisasi, sering disebut sebagai "serigala tunggal", tetap menjadi tantangan serius bagi lembaga keamanan Prancis, mengingat sulitnya mendeteksi dan mencegah serangan dari individu yang bertindak secara independen. Pemerintah Prancis telah mengimplementasikan berbagai undang-undang antiterorisme yang ketat dan meningkatkan kewaspadaan keamanan nasional, namun insiden seperti ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut tetap nyata dan terus berkembang.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, melalui akun media sosial X-nya, segera menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada aparat kepolisian atas kesigapan dan keberanian mereka dalam menghadapi ancaman tersebut. Pernyataan ini menegaskan dukungan pemerintah terhadap pasukan keamanan yang bertugas melindungi masyarakat dari bahaya. Pada Jumat malam, setelah insiden terjadi, kehadiran polisi dan pasukan keamanan terlihat meningkat drastis di sekitar monumen Arc de Triomphe. Area di sekitar monumen sempat ditutup untuk umum sebagai bagian dari langkah-langkah keamanan dan untuk memfasilitasi penyelidikan forensik, meskipun bundaran lalu lintas di sekelilingnya tetap dibuka bagi kendaraan.

Sebagai dampak langsung dari insiden tersebut, stasiun metro terdekat juga ditutup sementara atas permintaan kepolisian, menurut operator transportasi umum Paris, RATP. Penutupan ini dilakukan untuk memastikan keamanan publik dan memudahkan pergerakan tim investigasi serta personel keamanan. Langkah-langkah darurat seperti ini adalah protokol standar dalam menghadapi insiden keamanan berskala besar di area publik yang padat. Penutupan area dan transportasi publik, meskipun menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga dan wisatawan, dianggap krusial untuk mengendalikan situasi dan mencegah potensi bahaya lebih lanjut.

Insiden di Arc de Triomphe sekali lagi menyoroti kompleksitas dan urgensi upaya kontraterorisme di Prancis dan Eropa. Kasus ini melibatkan seorang residivis dengan riwayat terorisme lintas negara, menuntut koordinasi erat antara lembaga keamanan Prancis dan Belgia. Pertukaran informasi intelijen dan kerja sama dalam memantau individu-individu berisiko tinggi adalah elemen krusial dalam memerangi jaringan terorisme yang seringkali tidak mengenal batas negara. Sementara penyelidikan terus berlangsung untuk mengungkap motif dan detail lengkap insiden ini, pihak berwenang di Prancis menegaskan komitmen mereka untuk menjaga keamanan warga dan melindungi simbol-simbol nasional dari segala bentuk ancaman. Peristiwa ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan tantangan berkelanjutan dalam menjaga keamanan di tengah ancaman terorisme global.