Masjid Tjia Khang Hoo di Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, berdiri sebagai sebuah anomali arsitektur yang memukau sekaligus menjadi simbol nyata dari kerukunan antarumat beragama. Dengan desain yang mengadopsi gaya Tionghoa yang khas, masjid ini tidak hanya menarik perhatian para pelancong dan pemerhati arsitektur, tetapi juga menyimpan kisah mendalam tentang toleransi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakatnya. Keberadaannya di sebuah lingkungan yang mayoritas penduduknya non-Muslim justru mempertegas pesan damai dan penerimaan, menjadikannya sebuah oase spiritual dan budaya yang tak ternilai di ibu kota.

sulutnetwork.com – Masjid Tjia Khang Hoo, yang berlokasi strategis di Jalan H Soleh RT 002/RW 07 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, merupakan sebuah mahakarya yang belum sepenuhnya rampung namun telah memancarkan pesona luar biasa. Ketua Dewan Kemakmuran (DKM) Masjid, Muhammad Wildan Hakiki, menjelaskan bahwa masjid ini adalah buah karya ayahnya, H. Budianto, dan dibangun sebagai penghormatan kepada sang kakek, almarhum Tjia Khang Hoo. Dengan proses pembangunan yang telah mencapai sekitar 80 persen penyelesaian, masjid ini memasuki tahap akhir, siap menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial yang lebih komprehensif.

Arsitektur Masjid Tjia Khang Hoo adalah daya tarik utamanya, membedakannya dari masjid-masjid lain pada umumnya. Mengadopsi gaya Tionghoa yang kental, masjid ini memukau dengan atap genteng melengkung yang menyerupai pagoda, dominasi warna merah dan emas yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan dalam budaya Tionghoa, serta ornamen-ornamen artistik yang sarat makna. Pilar-pilar megah, ukiran-ukiran naga atau motif awan yang halus, serta lampion-lampion yang kerap menghiasi, semuanya berpadu menciptakan perpaduan visual yang harmonis sekaligus mencolok. Gaya ini bukan sekadar estetika, melainkan juga sebuah penghormatan terhadap identitas leluhur dan akar budaya keluarga pendiri yang memiliki darah Tionghoa, menegaskan bahwa Islam dapat bersanding indah dengan beragam tradisi lokal.

Nama "Tjia Khang Hoo" sendiri bukan sekadar label, melainkan sebuah narasi yang mengikat masjid ini dengan sejarah panjang keluarga dan komunitas di Pekayon. Almarhum Tjia Khang Hoo, sang kakek, merupakan sosok yang memiliki ikatan kuat dengan lingkungan tersebut. Penamaan masjid dengan namanya adalah sebuah tribut yang mendalam, mengingatkan akan pentingnya menghargai warisan leluhur dan meneruskan nilai-nilai positif yang telah mereka tanamkan. Keluarga Wildan Hakiki telah lama bermukim di Pekayon, membangun jalinan kekerabatan dan persahabatan yang erat dengan tetangga-tetangga mereka, baik Muslim maupun non-Muslim. Ikatan inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya harmoni yang terus terjaga hingga kini.

Salah satu aspek paling mengagumkan dari Masjid Tjia Khang Hoo adalah kisah toleransi yang terpancar dari setiap sudutnya. Meskipun terletak di wilayah yang mayoritas penduduknya menganut agama non-Muslim, Muhammad Wildan Hakiki menegaskan bahwa hubungan harmonis antarwarga selalu terjaga dengan baik. "Walaupun kita di kawasan mayoritas beragama non-muslim, tapi karena di situ kakek saya kebetulan asli situ dan masih keluarga besar semua jadi mereka sih alhamdulillah masih mendukunglah dengan ini kan karena dan sampai sekarang tuh tidak ada gesekan kan seperti dilihat," ujar Wildan kepada detikTravel, menggambarkan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan dan persahabatan yang telah terbangun secara turun-temurun.

Keberadaan masjid ini di tengah komunitas yang beragam justru menjadi katalisator bagi interaksi positif dan saling pengertian. Wildan menambahkan bahwa kedekatan fisik dengan tempat ibadah lain, seperti gereja yang berdampingan langsung dengan masjid dan sebuah vihara yang tidak jauh dari lokasi, menjadi bukti nyata betapa toleransi bukan hanya konsep, melainkan praktik sehari-hari. Menariknya, pemilik vihara tersebut bahkan memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Wildan, semakin memperkuat ikatan emosional dan sosial antar pemeluk agama yang berbeda.

Semangat kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada sekadar berdampingan. Selama acara keagamaan Islam, seperti peringatan Maulid Nabi, warga non-Muslim secara aktif dan sukarela turut berpartisipasi. Mereka bahu-membahu membantu berbagai tugas, mulai dari memasang spanduk, mengatur area parkir agar tidak mengganggu lalu lintas, hingga memastikan kelancaran acara. Partisipasi semacam ini bukan hanya bentuk dukungan, melainkan juga cerminan dari rasa memiliki dan kebersamaan yang mendalam, menunjukkan bahwa batas-batas agama dapat dilebur oleh semangat persaudaraan dan gotong royong.

Komitmen Masjid Tjia Khang Hoo dalam menjaga dan merayakan keragaman budaya juga terlihat jelas menjelang perayaan Imlek. Sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi Tionghoa yang merupakan bagian dari identitas pendiri, masjid ini secara khusus akan menghiasi jalan menuju pintu masuknya dengan lentera-lentera berwarna-warni. "Jadi insyaallah nanti kita sepanjang jalan itu, itu kita mau masang lampion untuk menyambut tahun baru Imlek," kata Wildan. Ia juga menjelaskan filosofi di balik pemasangan lampion tersebut, "seperti saya bilang kan sebenarnya kayak lampion itu enggak ada arti makna apa-apa kan? Itu kan hanya seni lah kita bilang gitu, itu nanti mungkin kita ini." Pernyataan ini menegaskan bahwa perayaan budaya dapat dilakukan tanpa mengikis nilai-nilai keagamaan, melainkan justru memperkaya dan menjadi jembatan silaturahmi.

Hubungan kolaboratif ini semakin diperkuat melalui kunjungan timbal balik antarumat beragama. Pengurus masjid dengan tangan terbuka menerima undangan yang diajukan oleh vihara setempat untuk menghadiri acara-acara mereka, menunjukkan sikap saling menghormati dan ingin memahami. Sebuah peristiwa yang cukup berkesan terjadi pada Mei 2025 (mengacu pada waktu yang disebutkan dalam berita), ketika seorang Bhante dari Thailand, yang sedang dalam perjalanan spiritual menuju Borobudur, menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid tersebut. Kunjungan spontan dari tokoh agama lain ini merupakan pengakuan akan atmosfer damai dan keterbukaan yang terpancar dari Masjid Tjia Khang Hoo, menjadikannya bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga tempat pertemuan lintas iman.

Selain menjadi simbol toleransi, Masjid Tjia Khang Hoo juga sangat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan yang berfokus pada pendidikan dan pembinaan umat. Jadwal ceramah keagamaan di tempat ini cukup padat dan bervariasi. Setiap hari Senin, diadakan kelas tajwid Al-Qur’an untuk memastikan jemaah dapat membaca kitab suci dengan benar dan tartil. Selain itu, ada pula diskusi-diskusi menarik mengenai fikih, yang membahas berbagai hukum Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta sesi Yasinan yang rutin untuk mempererat ikatan spiritual dan sosial di antara jemaah.

Namun, salah satu program paling unik dan esensial yang ditawarkan oleh Masjid Tjia Khang Hoo adalah "Pengajian Khusus Mualaf" yang diadakan setiap hari Minggu. Program ini secara khusus dirancang untuk membimbing para mualaf dari "nol" lagi, sebuah inisiatif yang sangat krusial mengingat banyak individu yang memeluk Islam, terutama karena pernikahan, seringkali belum mendapatkan bimbingan mendalam mengenai praktik-praktik keagamaan fundamental. Wildan menjelaskan bagaimana program ini mendukung para mualaf di komunitas lokal, termasuk anggota keluarganya sendiri yang baru saja memeluk Islam.

Masjid ini mengakomodasi kelompok peserta yang beragam, mulai dari lansia hingga pemuda, dengan menyediakan ustaz yang dikenal karena kesabarannya yang luar biasa. "Ustaznya itu yang bener-bener yang harus sabar, di mana bisa dibilang, dikatakan sabar karena kita, kita maksudnya bilang ke ustaznya ini, ini ibaratnya kita mulai dari nol lagi untuk bimbing," kata Wildan. Para mualaf dibimbing secara bertahap, mulai dari tata cara berwudu yang benar, gerakan dan bacaan salat lima waktu, hingga pengenalan huruf hijaiyah melalui metode Iqra, dan secara bertahap memasuki tahap membaca Al-Qur’an. Pendekatan ini sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan menghilangkan rasa malu atau canggung bagi mereka yang baru memulai perjalanan spiritualnya dalam Islam. Program ini tidak hanya mengisi kekosongan bimbingan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi para mualaf untuk tumbuh dalam iman mereka.

Masjid Tjia Khang Hoo, dengan segala keunikan arsitektur Tionghoa dan dedikasinya terhadap nilai-nilai toleransi serta pendidikan keagamaan, telah membuktikan dirinya sebagai sebuah permata spiritual di Jakarta Timur. Masjid ini bukan hanya sebuah tempat ibadah, melainkan sebuah pusat komunitas yang aktif, sebuah laboratorium toleransi yang hidup, dan sebuah rumah bagi mereka yang mencari bimbingan spiritual. Keberadaannya menjadi pengingat kuat akan indahnya keragaman dan kekuatan harmoni dalam masyarakat majemuk.