Sebuah pemandangan arsitektur yang mencolok dan tak lazim menyapa siapa pun yang melintasi Jalan H Soleh RT 002/RW 07 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, berdiri megah sebuah bangunan yang sekilas menyerupai kelenteng tradisional Tionghoa, namun sejatinya adalah sebuah rumah ibadah umat Muslim: Masjid Tjia Khang Hoo. Struktur yang memadukan keindahan oriental dengan fungsi sakral Islam ini menjadi simbol perpaduan budaya dan toleransi yang menarik perhatian, menantang persepsi umum tentang identitas arsitektur masjid.
sulutnetwork.com – Dengan dominasi warna merah cerah dan kuning keemasan yang mencolok, Masjid Tjia Khang Hoo secara visual memang menyerupai sebuah kelenteng, lengkap dengan ornamen dan detail yang kaya akan nuansa Tionghoa. Kehadirannya di Jakarta Timur bukan hanya sekadar bangunan unik, melainkan sebuah narasi tentang akulturasi, sejarah keluarga, dan keberagaman yang damai. Muhammad Wildan Hakiki, ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) sekaligus cucu dari almarhum Tjia Kang Hoo, menjadi salah satu sosok sentral yang mengisahkan latar belakang dan filosofi di balik pendirian masjid istimewa ini, mengungkap bagaimana identitas Tionghoa dapat berpadu harmonis dengan ajaran Islam.
Perpaduan Arsitektur yang Memukau
Gaya arsitektur Masjid Tjia Khang Hoo adalah perwujudan nyata dari perpaduan budaya yang kaya. Pemilihan warna merah dan kuning keemasan, yang secara tradisional sangat identik dengan kebudayaan Tionghoa, bukanlah sebuah kebetulan, melainkan keputusan yang disengaja untuk menonjolkan identitas unik bangunan tersebut. Wildan Hakiki menjelaskan bahwa referensi dari bangunan-bangunan Cina menjadi inspirasi utama dalam menentukan palet warna ini. Warna merah dalam budaya Tionghoa melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran, sementara kuning keemasan sering dikaitkan dengan kekayaan, kemuliaan, dan kekaisaran. Perpaduan kedua warna ini menciptakan visual yang kuat dan penuh makna, berbeda jauh dari arsitektur masjid pada umumnya yang sering didominasi oleh warna hijau, putih, atau biru dengan kubah dan menara menjulang.
Eksterior masjid yang megah, mulai dari bagian depan hingga gerbang utamanya, telah menjadi daya tarik tersendiri dan spot foto favorit bagi para pengunjung dan jamaah. Banyak yang awalnya keliru mengira bangunan ini adalah sebuah kuil atau kelenteng, sebelum akhirnya menyadari bahwa di balik kemegahan arsitektur Tionghoa ini, terdapat sebuah masjid yang aktif digunakan untuk ibadah umat Muslim. Fenomena ini tidak hanya menciptakan kejutan visual, tetapi juga memicu rasa ingin tahu dan apresiasi terhadap keberanian desain yang memadukan dua identitas budaya yang berbeda.
Salah satu aspek yang paling mengejutkan dan membanggakan dari Masjid Tjia Khang Hoo adalah bahwa seluruh hiasan dan material yang digunakan, meskipun bernuansa oriental, sepenuhnya merupakan karya anak bangsa. Wildan Hakiki dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada satu pun material yang didatangkan dari luar negeri. Ini menegaskan komitmen terhadap penggunaan produk lokal dan pemberdayaan pengrajin dalam negeri. Sebagai contoh yang paling mencolok, Wildan menyebutkan material kuningan asli yang digunakan di ruang utama masjid. Kuningan tersebut merupakan hasil karya handmade dari pengrajin di Boyolali, Jawa Tengah. Ini menunjukkan kualitas kerajinan tangan lokal yang mampu bersaing dan menghasilkan karya seni yang indah dan berkelas.
Selain kuningan, bingkai kaca dan berbagai hiasan lainnya juga dibuat secara khusus oleh para pengrajin lokal. Keahlian mereka dalam menciptakan detail-detail ornamen yang rumit dan presisi mencerminkan kekayaan warisan seni dan kerajinan Indonesia. Setiap bingkai dan hiasan dirancang untuk melengkapi arsitektur unik bangunan, memastikan bahwa perpaduan budaya Tionghoa dan Islam terwujud secara harmonis dalam setiap sudutnya. Penggunaan material dalam negeri ini tidak hanya mendukung ekonomi lokal, tetapi juga menjadi bukti bahwa kreativitas dan keterampilan bangsa Indonesia mampu menghadirkan keindahan arsitektur yang berkelas dunia.
Di dalam ruang utama masjid, keindahan arsitektur dan seni lokal semakin terpancar. Kaligrafi Asmaul Husna yang terukir indah pada material kuningan menjadi pusat perhatian, memadukan sentuhan Islam yang mendalam dengan estetika Tionghoa. Kombinasi ini menciptakan suasana yang khusyuk namun tetap mempertahankan identitas visual yang khas. Desain interior Masjid Tjia Khang Hoo adalah sebuah dialog antara dua budaya, di mana nilai-nilai spiritual Islam disampaikan melalui medium seni yang terinspirasi dari tradisi Tionghoa, menghasilkan pengalaman beribadah yang unik dan penuh makna.
Sosok Tjia Kang Hoo dan Jejak Sejarah Keluarga
Nama Masjid Tjia Khang Hoo sendiri merupakan penghormatan terhadap seorang tokoh penting dalam sejarah keluarga Wildan, yaitu kakeknya, Tjia Kang Hoo. Kisah Tjia Kang Hoo adalah inti dari narasi akulturasi di balik masjid ini. Ia adalah seorang keturunan Tionghoa yang kemudian memeluk agama Islam. Perjalanannya menuju Islam terjadi karena pernikahannya dengan seorang perempuan Betawi asli bernama Hajah Rodiah, nenek Wildan. Keputusan untuk memeluk Islam demi pernikahan ini menjadi titik balik penting yang mengawali jejak sejarah keluarga yang kaya akan perpaduan budaya. Setelah memeluk Islam, Tjia Kang Hoo mengganti namanya menjadi Haji Abdul Soleh, sebuah nama yang mencerminkan identitas barunya sebagai seorang Muslim.
Sejarah pendirian masjid ini sangat personal dan berakar pada peninggalan keluarga. Tanah tempat masjid berdiri saat ini dulunya adalah lokasi rumah tinggal almarhum Tjia Kang Hoo. Setelah kakek dan nenek Wildan wafat, sang ayah, H. Budianto, berinisiatif untuk memugar dan mengubah rumah peninggalan tersebut menjadi sebuah masjid. Keputusan ini bukanlah sekadar membangun tempat ibadah, melainkan sebuah upaya untuk melestarikan memori dan warisan leluhur.
Meskipun H. Budianto telah memeluk Islam dan merupakan generasi penerus yang teguh dalam keyakinannya, ia tidak ingin melupakan akar sejarah keluarganya yang berasal dari etnis Tionghoa. Inilah alasan utama di balik pemilihan desain masjid yang menyerupai kelenteng. Wildan mengutip ayahnya yang menyatakan keinginan untuk "tidak ingin melupakanlah sejarah asal-usul keluarga kita. Keluarga kita ini kan kita masih ada keturunan Tionghoa walaupun kita sudah Islam, tapi ayah saya tuh pengin tidak ingin melupakan kalau kita tuh masih ada keturunan etnis Tionghoanya." Pernyataan ini menegaskan bahwa masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sebuah monumen budaya yang merayakan identitas ganda: keislaman yang kuat berpadu dengan kebanggaan akan warisan Tionghoa.
Desain unik ini juga menjadi representasi visual dari bagaimana identitas budaya dapat dipertahankan dan dihargai, bahkan ketika seseorang telah beralih keyakinan. Ini mengirimkan pesan kuat tentang inklusivitas Islam yang dapat mengakomodasi dan merayakan keragaman budaya. Masjid Tjia Khang Hoo menjadi bukti bahwa berislam tidak berarti harus melepaskan identitas kultural asal, melainkan dapat diperkaya olehnya. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menghargai setiap manusia dengan latar belakangnya, serta memandang keanekaragaman sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Simbol Toleransi dan Keharmonisan Komunitas
Di luar keunikan arsitekturnya, keberadaan Masjid Tjia Khang Hoo juga menonjol sebagai simbol toleransi dan keharmonisan yang indah di lingkungannya. Wildan menceritakan bahwa di kawasan Jalan Tipar, tempat masjid berdiri, keluarganya hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat sekitar yang mayoritas menganut Konghucu. Bahkan, sebagian besar warga Konghucu di area tersebut masih merupakan bagian dari keluarga besar almarhum kakek Wildan, seperti kakak atau adik dari Tjia Kang Hoo. Situasi ini menciptakan ikatan kekerabatan yang kuat yang melampaui perbedaan agama.
Yang lebih menggembirakan adalah fakta bahwa kehadiran masjid ini tidak mendapatkan penolakan sama sekali dari masyarakat setempat. Sebaliknya, justru disambut dengan gembira oleh warga non-Muslim. Respon positif ini adalah cerminan dari budaya toleransi yang telah lama terjalin di lingkungan tersebut, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan saling menghormati. Masjid Tjia Khang Hoo secara efektif menjadi jembatan antar-komunitas, memperkuat ikatan sosial di antara warga dengan latar belakang yang beragam.
Salah satu gambaran paling mengharukan dari toleransi ini adalah bagaimana halaman masjid yang luas dan indah seringkali menjadi tempat bermain bagi cucu-cucu warga setempat pada sore hari. Pemandangan anak-anak dari berbagai latar belakang yang berlarian dan bermain bersama di halaman masjid adalah manifestasi nyata dari perdamaian dan kebersamaan. Area masjid yang seharusnya menjadi ruang sakral bagi umat Muslim, juga berfungsi sebagai ruang komunal yang terbuka bagi semua, tanpa memandang agama. Hal ini membuat area tersebut menjadi lebih ramai, hangat, dan hidup, mencerminkan semangat berbagi dan persaudaraan yang sejati.
Masjid Tjia Khang Hoo mengajarkan bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, tetapi juga dapat menjadi pusat komunitas yang mempromosikan nilai-nilai universal seperti persatuan, saling pengertian, dan penerimaan. Keberadaannya di Jakarta Timur menjadi pengingat penting akan keberagaman Indonesia dan bagaimana perbedaan dapat dirayakan sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber perpecahan. Ini adalah model ideal dari bagaimana masyarakat multikultural dapat hidup berdampingan, dengan setiap identitas dihormati dan setiap individu merasa diterima.
Bagi para pelancong dan individu yang tertarik pada arsitektur unik atau studi tentang toleransi antarumat beragama, Masjid Tjia Khang Hoo merupakan destinasi yang wajib dikunjungi. Terletak di Jalan H Soleh RT 002/RW 07 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, masjid ini menawarkan lebih dari sekadar pengalaman beribadah. Pengunjung dapat mengagumi keindahan arsitektur yang memadukan dua budaya besar, merenungkan sejarah keluarga yang menginspirasi, dan menyaksikan secara langsung manifestasi toleransi yang hidup. Di ruang utama, kaligrafi kuningan yang menakjubkan bertuliskan Asmaul Husna akan menyambut para pengunjung, mengundang mereka untuk merenung dan merasakan kedamaian spiritual di tengah kemegahan arsitektur yang tak biasa. Masjid Tjia Khang Hoo bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah kisah hidup, sebuah pelajaran tentang identitas, dan sebuah mercusuar toleransi di tengah dinamika masyarakat modern.
