Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan akan memicu lonjakan signifikan dalam pengeluaran perjalanan ke luar negeri pada tahun 2025. Fenomena ini, yang didorong oleh gelombang investasi masif di sektor AI, tidak hanya mengubah lanskap ekonomi regional tetapi juga secara fundamental membentuk kembali preferensi dan pola konsumsi masyarakat, khususnya dalam kategori perjalanan dan e-commerce. Proyeksi ini mengindikasikan pergeseran prioritas pengeluaran di tengah peningkatan kekuatan ekonomi yang signifikan di beberapa negara kunci.

sulutnetwork.com – Data terbaru dari Visa mengindikasikan bahwa tren ini sejalan dengan menguatnya daya ekonomi di berbagai negara di kawasan tersebut, yang sebagian besar didorong oleh investasi masif di sektor AI. Simon Baptist, Kepala Ekonom Visa Asia-Pasifik, menyoroti bahwa fokus utama investasi AI saat ini tertuju pada manufaktur semikonduktor dan pembangunan pusat data, yang secara langsung menciptakan gelombang kekayaan baru. Pernyataan Baptist, yang dilansir dari The Business Times pada Sabtu (7/2/2026), menekankan hubungan kausal antara investasi AI dan peningkatan pengeluaran konsumen, khususnya di sektor perjalanan.

Investasi triliunan dolar dalam infrastruktur AI, mulai dari fasilitas produksi chip semikonduktor canggih hingga pembangunan jaringan pusat data berskala besar, telah memicu gelombang aktivitas ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sektor-sektor ini tidak hanya menarik modal asing dan domestik dalam jumlah fantastis, tetapi juga menciptakan ribuan lapangan kerja baru yang bergaji tinggi dan mendorong inovasi teknologi pada skala yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Para profesional, insinyur, peneliti, dan pengusaha yang terlibat dalam ekosistem AI ini kini memiliki daya beli yang jauh lebih besar. Sebagaimana yang diamati oleh Baptist, "di mana ada orang yang menghasilkan uang dari booming investasi AI, mereka menghabiskan sebagian besar uang itu untuk bepergian." Pernyataan ini menggarisbawahi koneksi langsung dan kuat antara penciptaan kekayaan dari sektor teknologi tinggi dan pergeseran pola konsumsi menuju pengalaman, terutama perjalanan internasional yang seringkali dianggap sebagai simbol status dan pencapaian.

Dalam analisis mendalam mengenai pengeluaran konsumen, perjalanan telah muncul sebagai kategori yang paling menonjol dan mengalami pertumbuhan tercepat di kawasan Asia-Pasifik. Transaksi pedagang yang terkait langsung dengan perjalanan, seperti maskapai penerbangan, hotel, penyedia akomodasi, dan agen perjalanan, dilaporkan tumbuh 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pengeluaran rata-rata secara keseluruhan di berbagai sektor. Lebih lanjut, pengeluaran lintas batas atau internasional juga menunjukkan peningkatan yang pesat, menandakan bahwa masyarakat di Asia-Pasifik semakin berani, mampu, dan memiliki keinginan kuat untuk menjelajahi destinasi di luar negara mereka sendiri.

Simon Baptist menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 telah secara permanen mengubah preferensi dan prioritas konsumen, menempatkan perjalanan sebagai prioritas utama dalam daftar keinginan mereka. Pembatasan perjalanan yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menciptakan ‘permintaan terpendam’ atau pent-up demand yang kini dilepaskan dengan penuh semangat dan antusiasme. Konsumen tidak lagi hanya mencari kepuasan dari barang material, melainkan beralih mencari pengalaman yang memperkaya hidup, memori tak terlupakan, dan kesempatan untuk terhubung dengan budaya dan tempat baru setelah periode isolasi yang panjang. Perjalanan kini dianggap sebagai investasi dalam kesejahteraan pribadi, pengembangan diri, dan koneksi sosial, bukan sekadar pengeluaran opsional.

Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok muncul sebagai tujuan utama yang paling diminati oleh wisatawan internasional dari kawasan Asia-Pasifik. Daya tarik negara-negara ini sangat beragam, namun pariwisata budaya menjadi magnet utama yang menarik jutaan pengunjung. Jepang, dengan warisan budayanya yang kaya mulai dari kuil-kuil kuno yang sakral, taman-taman zen yang menenangkan, hingga budaya pop modern yang mendunia seperti anime dan manga, serta keindahan alamnya yang memukau di setiap musim, terus menjadi favorit. Korea Selatan menawarkan kombinasi unik antara tradisi yang dihormati dan modernitas yang inovatif, didukung oleh gelombang Hallyu (K-Pop dan drama Korea) yang mendunia, menarik jutaan penggemar setiap tahun untuk merasakan langsung budaya yang mereka kagumi. Sementara itu, Tiongkok, dengan sejarah ribuan tahun, situs-situs bersejarah ikonik seperti Tembok Besar dan Kota Terlarang, serta lanskap yang bervariasi dari pegunungan hingga kota-kota metropolitan futuristik, juga menarik minat yang besar.

Selain daya tarik budaya yang kuat, faktor mata uang dan geopolitik turut memainkan peran penting dalam membentuk pola perjalanan ini. Jepang dan Korea Selatan mendapatkan keuntungan signifikan dari mata uang mereka yang relatif lebih lemah terhadap dolar AS dan mata uang regional lainnya. Yen Jepang dan Won Korea yang melemah membuat biaya perjalanan, akomodasi, dan belanja menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan internasional. Hal ini secara efektif meningkatkan daya beli wisatawan dan mendorong mereka untuk memilih destinasi tersebut sebagai tujuan utama. Di sisi lain, Tiongkok mengalami peningkatan jumlah kunjungan setelah pemerintahnya melonggarkan kebijakan visa, mempermudah masuknya wisatawan internasional dan mengurangi hambatan birokrasi yang sebelumnya mungkin menghambat rencana perjalanan. Kebijakan visa yang lebih fleksibel ini membuka kembali pintu bagi pariwisata internasional ke Tiongkok setelah periode pembatasan yang ketat.

Fenomena lonjakan pengeluaran perjalanan ini tidak terlepas dari peran krusial para pelancong kaya atau ‘affluent travelers’. Diperkirakan bahwa segmen ini akan menyumbang hingga tiga perempat dari total pengeluaran tambahan untuk perjalanan pada tahun 2025. Pasar-pasar seperti Australia, Hong Kong, dan Singapura menjadi sumber utama para pelancong kelas atas ini. Negara-negara ini dikenal memiliki PDB per kapita yang tinggi, sektor keuangan yang kuat, dan populasi yang memiliki daya beli signifikan serta kecenderungan untuk melakukan perjalanan internasional.

Para pelancong dari pasar ini cenderung mencari pengalaman perjalanan yang lebih mewah, eksklusif, dan personalisasi, seperti menginap di resor bintang lima atau hotel butik mewah, menikmati santapan kuliner kelas dunia dari koki ternama, berbelanja merek-merek mewah, atau mengikuti tur budaya dan petualangan yang disesuaikan dengan minat khusus mereka. Kemampuan finansial mereka memungkinkan mereka untuk mengabaikan fluktuasi harga yang kecil dan lebih fokus pada kualitas, kenyamanan, serta pengalaman unik yang ditawarkan. Kontribusi besar dari segmen ini menunjukkan adanya polarisasi dalam konsumsi perjalanan, di mana pertumbuhan paling pesat terjadi di kalangan masyarakat dengan pendapatan tinggi yang diuntungkan dari boom ekonomi berbasis AI.

Selain sektor perjalanan, teknologi AI juga diproyeksikan akan membawa transformasi signifikan dalam lanskap pengeluaran e-commerce, yang saat ini merupakan segmen terbesar di Asia-Pasifik. Simon Baptist mengemukakan bahwa AI berpotensi menggeser sebagian besar transaksi yang sebelumnya dilakukan secara offline menjadi online. Ini bukan hanya sekadar digitalisasi, tetapi juga redefinisi fundamental tentang bagaimana transaksi dilakukan dan pengalaman berbelanja diciptakan.

Dengan kemajuan AI, agen cerdas dapat menganalisis dan memproses kode di balik setiap transaksi, bahkan tanpa memerlukan platform e-commerce tradisional dalam bentuk situs web atau aplikasi seperti yang kita kenal saat ini. Konsep ini membuka pintu bagi model belanja yang lebih terintegrasi, mulus, dan prediktif, di mana pembelian dapat terjadi melalui interaksi suara dengan asisten virtual, pesan teks yang dipersonalisasi, atau bahkan secara otomatis berdasarkan preferensi, kebiasaan, dan kebutuhan konsumen yang dipelajari oleh AI secara real-time. Dampak dari inovasi e-commerce berbasis AI ini diperkirakan akan paling cepat terlihat dan terasa di negara-negara dengan tingkat melek teknologi yang tinggi dan infrastruktur digital yang maju, seperti India dan Vietnam. Kedua negara ini memiliki populasi muda yang besar, tingkat adopsi smartphone dan internet yang pesat, serta ekosistem startup teknologi yang dinamis, menjadikan mereka lahan subur untuk eksperimen dan implementasi model e-commerce baru yang didukung AI.

Namun, di balik narasi pertumbuhan yang menggembirakan ini, terdapat realitas pertumbuhan pengeluaran yang masih belum merata di seluruh kawasan. Simon Baptist menyoroti bahwa di pasar-pasar berkembang yang besar seperti Indonesia, Tiongkok, dan India, kelas menengah belum sepenuhnya merasakan manfaat langsung dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Meskipun negara-negara ini mencatat pertumbuhan PDB yang impresif dan menarik investasi AI yang besar, manfaat ekonomi tersebut cenderung terkonsentrasi di sektor-sektor tertentu atau di kalangan kelompok masyarakat tertentu, sehingga tidak serta-merta meningkatkan daya beli dan pengeluaran konsumsi di segmen kelas menengah secara luas.

Baptist menjelaskan bahwa "pertumbuhan di ketiga pasar ini tidak terlalu berorientasi pada konsumsi." Ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi didorong lebih banyak oleh investasi skala besar, ekspor komoditas atau produk manufaktur, atau sektor industri tertentu yang padat modal, dibandingkan dengan peningkatan signifikan dalam pengeluaran rumah tangga dan konsumsi domestik. Akibatnya, meskipun ada kemajuan dalam infrastruktur dan teknologi, sebagian besar penduduk masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan standar hidup dan partisipasi mereka dalam ekonomi konsumsi yang lebih luas. Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan penting tentang inklusivitas pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh AI dan bagaimana manfaatnya dapat disalurkan lebih merata kepada seluruh lapisan masyarakat, guna menghindari polarisasi ekonomi yang lebih dalam.

Proyeksi lonjakan pengeluaran perjalanan dan transformasi e-commerce pada tahun 2025, yang dipicu oleh booming AI di Asia-Pasifik, menggarisbawahi perubahan fundamental dalam dinamika ekonomi dan sosial kawasan ini. Ke depan, peran AI diperkirakan akan semakin mendalam, tidak hanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi dan inovasi, tetapi juga dalam membentuk kembali perilaku konsumen dan lanskap pasar secara menyeluruh. Potensi AI untuk menciptakan kekayaan baru dan pengalaman konsumsi yang lebih canggih dan personalisasi sangat besar. Namun, tantangan terkait pemerataan pertumbuhan dan inklusivitas ekonomi tetap menjadi agenda penting bagi pembuat kebijakan di seluruh Asia-Pasifik. Bagaimana negara-negara di kawasan ini dapat memanfaatkan potensi AI secara maksimal sambil memastikan bahwa manfaatnya dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat akan menjadi kunci keberlanjutan dan stabilitas ekonomi jangka panjang. Perkembangan ini juga menuntut adaptasi berkelanjutan dari bisnis dan konsumen untuk tetap relevan dalam ekonomi yang terus berubah dengan cepat.