Selat Lembeh, sebuah jalur perairan yang memukau di sebelah timur Kota Bitung, Sulawesi Utara, telah lama diakui sebagai salah satu destinasi penyelaman terbaik di dunia, khususnya bagi para penggemar fotografi makro bawah laut. Dikenal sebagai ‘surga’ dunia bawah air, selat ini menawarkan kekayaan biodiversitas yang tak tertandingi dan pemandangan laut yang menawan, menjadikannya magnet bagi penyelam berpengalaman dari seluruh penjuru bumi yang ingin menjelajahi keunikan ekosistemnya. Keindahan dan keunikan Selat Lembeh tidak hanya menarik perhatian para penyelam, tetapi juga para ilmuwan kelautan dan konservasionis, yang terus mempelajari dan berupaya melestarikan harta karun bawah laut ini.

sulutnetwork.com – Keindahan Selat Lembeh tidak hanya terletak pada bentang alam bawah lautnya yang eksotis, tetapi juga pada posisinya yang strategis sebagai gerbang maritim. Selat ini membentang sepanjang 16 kilometer dengan lebar rata-rata antara 1 hingga 2 kilometer, membentuk koridor perairan yang terlindungi dan menjadi habitat ideal bagi ribuan spesies laut. Dengan lebih dari 92 titik penyelaman yang tersebar di sepanjang selat, Lembeh menawarkan pengalaman menyelam yang beragam, mulai dari eksplorasi bangkai kapal bersejarah hingga pengamatan biota mikro yang langka, semua dapat dinikmati sepanjang tahun berkat lokasinya yang terlindung dari terpaan angin kencang dan arus laut yang ekstrem, sebuah kondisi yang sangat mendukung aktivitas penyelaman dan fotografi bawah air.

Secara geografis, Selat Lembeh memisahkan daratan utama Pulau Sulawesi dengan Pulau Lembeh, menciptakan sebuah perairan yang relatif tenang dan kaya nutrisi. Posisi geografis ini menjadikannya koridor alami yang mengalirkan plankton dan nutrisi dari laut lepas ke dalam selat, menciptakan rantai makanan yang subur dan mendukung kehidupan berbagai jenis biota laut. Kedalaman selat yang bervariasi, dari perairan dangkal hingga puluhan meter, ditambah dengan beragamnya substrat dasar laut seperti pasir vulkanik gelap, reruntuhan karang, dan bangkai kapal, menyediakan lingkungan yang ideal bagi berbagai spesies untuk hidup dan berkembang biak.

Salah satu daya tarik utama Selat Lembeh yang paling mendunia adalah reputasinya sebagai ‘surga fotografi makro bawah laut’. Istilah "muck diving" menjadi identik dengan Lembeh, merujuk pada gaya penyelaman di dasar laut berpasir gelap atau berlumpur yang kaya akan puing-puing organik dan anorganik. Lingkungan ini, meskipun sekilas tampak kurang menarik dibandingkan terumbu karang yang berwarna-warni, justru menjadi rumah bagi makhluk-makhluk mikro yang paling aneh, langka, dan berkamuflase sempurna. Kondisi air yang tenang dan visibilitas yang seringkali baik di kedalaman dangkal hingga menengah, memungkinkan para fotografer untuk mendekat dan menangkap detail menakjubkan dari biota-biota kecil ini. Para pemandu selam lokal di Lembeh terkenal dengan keahlian mereka dalam menemukan makhluk-makhluk mungil yang sulit terlihat, menjamin pengalaman fotografi yang tak terlupakan bagi setiap penyelam.

Kekayaan biodiversitas di Selat Lembeh sungguh luar biasa. Diperkirakan ada sekitar 300 famili binatang bawah laut dengan ribuan spesies yang mendiami perairan ini, menjadikannya salah satu titik panas keanekaragaman hayati di dalam Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang terkenal. Keberadaan berbagai jenis substrat, mulai dari terumbu karang yang sehat di beberapa area, hingga dasar berpasir gelap yang luas, menyediakan habitat mikro yang berbeda untuk beragam bentuk kehidupan. Ini termasuk berbagai jenis krustasea, moluska, ikan, dan sefalopoda, banyak di antaranya memiliki adaptasi unik untuk bertahan hidup di lingkungan khusus ini.

Di antara ribuan spesies tersebut, beberapa jenis biota unik berukuran mikro menjadi bintang utama bagi para fotografer makro. Salah satunya adalah kuda laut bargibanti pygmy (Hippocampus bargibanti), makhluk mungil berwarna abu-abu merah menyala yang berukuran tidak lebih dari kuku jari manusia. Kuda laut ini memiliki kemampuan kamuflase yang luar biasa, menyatu sempurna dengan gorgonian coral tempatnya tinggal. Selain itu, ada juga dwarf cuttlefish, sefalopoda kecil yang cerdas dengan kemampuan mengubah warna kulitnya secara dramatis untuk berkomunikasi atau berkamuflase, serta mimic octopus, gurita yang terkenal karena kemampuannya meniru bentuk dan perilaku berbagai hewan laut lain yang lebih berbahaya, seperti lionfish atau ular laut. Spesies lain yang juga sering ditemukan dan menjadi incaran para fotografer termasuk berbagai jenis nudibranch dengan warna-warni memukau, frogfish dengan kemampuan kamuflase sempurna, dan berbagai jenis udang serta kepiting hias yang bersembunyi di celah-celah karang atau di antara puing-puing.

Meskipun keindahan bawah laut Selat Lembeh sangat memukau, penting untuk dicatat bahwa pengalaman menyelam di sini sebagian besar diperuntukkan bagi penyelam yang sudah berpengalaman, bukan untuk pemula. Beberapa faktor berkontribusi pada rekomendasi ini. Pertama, fokus pada "muck diving" seringkali melibatkan pengamatan detail makhluk kecil di dasar yang berpasir atau berlumpur, yang membutuhkan kontrol daya apung (buoyancy) yang sangat baik untuk menghindari pengadukan sedimen dan merusak visibilitas. Kedua, beberapa titik penyelaman mungkin memiliki arus yang tidak terduga, meskipun secara umum selat ini terlindungi. Ketiga, eksplorasi bangkai kapal memerlukan sertifikasi khusus dan pengalaman yang memadai untuk memastikan keselamatan. Penyelam berpengalaman akan lebih mampu menghargai keunikan lingkungan dan biota yang ada, serta mempraktikkan etika menyelam yang bertanggung jawab.

Selat Lembeh juga menyimpan warisan sejarah yang menarik dalam bentuk bangkai kapal dari Perang Dunia II. Di wilayah selam Bimoli Wreck dan Mawali Wreck, para penyelam dapat menemukan kapal Jepang yang karam pada kedalaman antara 15 hingga 30 meter. Kapal-kapal ini, dengan panjang sekitar 65 meter, telah berubah menjadi terumbu karang buatan yang menakjubkan seiring berjalannya waktu. Bangkai kapal ini kini menjadi rumah bagi berbagai jenis biota laut, dengan pertumbuhan karang keras dan lunak yang subur menutupi struktur kapal. Menyelam di sekitar bangkai kapal ini, para penyelam akan dengan mudah menemukan spesies seperti pipefish yang bersembunyi di antara celah, nudibranch yang berwarna-warni, berbagai jenis udang dan lobster karang, serta ikan-ikan besar seperti barakuda dan tuna yang berpatroli di sekitarnya. Keberadaan bangkai kapal ini tidak hanya menawarkan pengalaman menyelam yang unik tetapi juga menjadi pengingat akan sejarah kelam yang kini telah menyatu dengan kehidupan bawah laut yang baru.

Alternatif lain untuk penyelaman yang tak kalah menarik adalah Teluk Kembahu. Lokasi ini memiliki ciri khas topografi dasar laut yang berpasir gelap dengan puing-puing berserakan, menciptakan habitat unik bagi berbagai makhluk laut. Salah satu spesies paling istimewa yang hanya dapat ditemukan di perairan ini adalah Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni). Ikan endemik ini memiliki pola tubuh hitam-putih yang khas dan sering terlihat bergerombol di antara puing-puing atau anemon. Keberadaan Banggai cardinalfish di sini sangat penting dari segi konservasi, mengingat statusnya sebagai spesies terancam punah akibat penangkapan liar untuk perdagangan ikan hias. Selain itu, di Teluk Kembahu juga dapat ditemukan spesies lain seperti mandarin fish yang terkenal dengan warna-warni cerah dan perilakunya yang pemalu, berbagai jenis goby yang sering bersimbiosis dengan udang, devilfish yang berkamuflase sempurna, frogfish yang unik, kepiting porselen yang hidup di anemon, dan razorfish yang berenang dengan posisi kepala ke bawah.

Bagi para petualang bawah laut yang mencari pengalaman berbeda, penyelaman di malam hari adalah suatu keharusan di Selat Lembeh, khususnya di areal selam Police Pier. Area yang memiliki kemiringan dangkal berpasir ini juga merupakan surga biota laut yang berbeda ketika matahari terbenam. Banyak makhluk nokturnal yang aktif pada malam hari mulai bermunculan, termasuk berbagai jenis gurita, cumi-cumi, kepiting, dan ikan-ikan yang bersembunyi di siang hari. Cahaya senter penyelam akan mengungkap warna-warna dan perilaku yang tidak terlihat di siang hari, menciptakan pengalaman yang magis. Tentunya, penyelaman malam harus dilakukan dengan bantuan pemandu berpengalaman yang jasanya biasanya disediakan di resort-resort di ujung selatan Pulau Lembeh, demi keselamatan dan untuk memaksimalkan peluang menemukan biota-biota unik yang hanya muncul di kegelapan.

Tidak hanya sebagai destinasi penyelaman kelas dunia, Selat Lembeh juga memainkan peran penting dalam pariwisata bahari global sebagai destinasi persinggahan kapal pesiar. Pelabuhan Samudera Bitung, yang strategis terletak di Selat Lembeh, menjadi gerbang bagi ribuan turis asing yang datang dengan kapal-kapal pesiar mewah. Kapal-kapal seperti MV Seabourn Quest, Arcadia, MV Odyssey, MV Vasco Da Gama, RMS Queen Mary 2, MS Noordam, Queen Victoria, MV Carnival Luminosa, dan Heritage Adventurer secara berkala bersandar di pelabuhan ini. Kedatangan kapal-kapal pesiar ini membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi Kota Bitung dan sekitarnya, mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, dan usaha kecil menengah yang melayani kebutuhan para turis. Wisatawan kapal pesiar seringkali memanfaatkan waktu singgah mereka untuk melakukan tur darat, menikmati keindahan alam Sulawesi Utara, dan tentu saja, sebagian dari mereka juga tertarik untuk merasakan pengalaman menyelam atau snorkeling di Selat Lembeh, memperkaya pengalaman liburan mereka dan memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi lokal.

Dengan segala keunikan dan kekayaan yang dimilikinya, Selat Lembeh bukan hanya sekadar destinasi wisata bahari biasa, melainkan sebuah ekosistem yang rapuh dan berharga yang membutuhkan perhatian dan upaya konservasi berkelanjutan. Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan laut di Lembeh terus digalakkan, baik oleh pemerintah daerah, komunitas penyelam, maupun pelaku industri pariwisata. Dengan pengelolaan yang bijaksana dan praktik pariwisata yang bertanggung jawab, Selat Lembeh akan terus memukau dunia dengan keindahan bawah lautnya dan menjadi rumah bagi ribuan spesies unik untuk generasi mendatang.


Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII Sulawesi Utara.