Pertarungan sengit di Eredivisie 2025/2026 antara Excelsior dan Ajax berakhir imbang 2-2, menyuguhkan drama empat gol yang mendebarkan di Stadion Woudenstein, Rotterdam, pada Minggu (1/2/2026) malam WIB. Hasil ini menjadi sorotan utama setelah tuan rumah Excelsior berhasil bangkit dari ketertinggalan dua gol, dengan Miliano Jonathans tampil sebagai katalisator kebangkitan yang menginspirasi timnya untuk mengamankan satu poin penting.

sulutnetwork.com – Laga yang mempertemukan dua tim dengan ambisi berbeda di klasemen Liga Belanda ini awalnya didominasi oleh tim tamu, Ajax, yang berhasil unggul 0-2 di babak pertama melalui brace Mika Godts. Namun, perubahan strategi dan masuknya pemain pengganti, termasuk winger muda berdarah Indonesia, Miliano Jonathans, mengubah jalannya pertandingan secara drastis, memicu semangat juang Excelsior untuk menyamakan kedudukan dan mengamankan satu poin berharga di kandang. Pertandingan ini bukan hanya tentang poin di klasemen, tetapi juga tentang determinasi dan semangat juang yang tak menyerah, terutama dari tim tuan rumah yang sedang berjuang di papan bawah.

Eredivisie musim 2025/2026 telah memasuki pekan ke-21, dan setiap poin menjadi krusial bagi klub-klub yang bersaing di berbagai zona klasemen. Excelsior, yang sebelum pertandingan ini berada di posisi ke-13, sangat membutuhkan kemenangan atau setidaknya hasil imbang untuk menjauh dari zona degradasi. Sebaliknya, Ajax, salah satu raksasa sepak bola Belanda, datang ke Rotterdam dengan misi untuk memperbaiki posisi mereka di empat besar dan terus mengejar tiket Liga Champions. Mereka tahu bahwa setiap poin yang hilang bisa berakibat fatal dalam persaingan ketat di puncak klasemen, terutama dengan tim-tim seperti PSV Eindhoven dan Feyenoord yang terus menunjukkan konsistensi.

Stadion Woudenstein, meskipun tidak sebesar arena-arena lain di Eredivisie, selalu dikenal memiliki atmosfer yang intim dan penuh gairah. Para pendukung Excelsior terkenal loyal dan selalu memberikan dukungan penuh kepada tim mereka, tidak peduli seberapa berat tantangan yang dihadapi. Pada malam itu, di tengah cuaca Rotterdam yang cenderung dingin, harapan untuk meraih poin dari tim sekelas Ajax terasa seperti impian yang sulit dijangkau. Namun, semangat itu tak pernah padam, sebuah keyakinan yang nantinya akan terbayar lunas.

Pelatih Excelsior, Marinus Dijkhuizen, tampaknya telah menyiapkan strategi yang berfokus pada pertahanan kokoh dan serangan balik cepat untuk menghadapi Ajax yang agresif. Sementara itu, kubu Ajax, di bawah asuhan pelatih mereka, kemungkinan besar menginstruksikan para pemainnya untuk mendominasi penguasaan bola dan menekan sejak awal pertandingan. Formasi 4-3-3 khas Ajax dengan trio penyerang lincah dan gelandang kreatif diperkirakan akan menjadi andalan mereka, bertujuan untuk membongkar pertahanan berlapis Excelsior. Sebuah catatan menarik adalah rumor yang santer beredar mengenai Maarten Paes, kiper Timnas Indonesia, yang disebut-sebut akan segera bergabung dengan Ajax. Kehadirannya di masa depan menjadi salah satu topik hangat di kalangan penggemar sepak bola Indonesia dan Eredivisie.

Babak pertama dimulai dengan Ajax langsung mengambil inisiatif serangan. Dengan kualitas skuad yang lebih unggul, De Godenzonen tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan ritme permainan mereka. Tekanan konstan yang mereka lancarkan membuat pertahanan Excelsior harus bekerja keras sejak menit-menit awal. Kreativitas lini tengah Ajax yang dipimpin oleh pemain-pemain muda berbakat seperti Kenneth Taylor dan penyerang sayap lincah Mika Godts mulai terlihat jelas.

Gol pembuka akhirnya tercipta pada menit ke-21. Berawal dari skema serangan yang rapi di sisi kiri lapangan, bola dialirkan cepat ke jantung pertahanan Excelsior. Mika Godts, yang menunjukkan pergerakan cerdas tanpa bola, berhasil lolos dari kawalan bek lawan dan menerima umpan terobosan akurat. Dengan ketenangan seorang striker berpengalaman, Godts melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dijangankan oleh kiper Excelsior, Stijn van Gassel. Kedudukan berubah menjadi 0-1 untuk keunggulan tim tamu. Gol ini sedikit meruntuhkan semangat tuan rumah yang sudah berjuang keras menahan gempuran.

Setelah gol pertama, Ajax semakin percaya diri dan terus menggempur. Excelsior berusaha merespons dengan melancarkan beberapa serangan balik, namun upaya mereka seringkali terhenti di sepertiga akhir lapangan karena solidnya pertahanan Ajax yang dikomandoi oleh Jorrel Hato. Sebaliknya, Ajax memanfaatkan setiap celah yang muncul. Pada menit ke-40, Mika Godts kembali mencatatkan namanya di papan skor. Kali ini, golnya tercipta dari situasi bola mati. Sebuah sepak pojok yang dieksekusi dengan sempurna disambut dengan sundulan terarah oleh Godts, yang sekali lagi berhasil mengalahkan penjaga gawang Excelsior. Skor 0-2 bertahan hingga peluit jeda babak pertama dibunyikan, membuat para pendukung tuan rumah terdiam dan merasa pesimis.

Memasuki ruang ganti, Marinus Dijkhuizen dihadapkan pada tugas berat. Timnya tertinggal dua gol dan performa di babak pertama jauh dari harapan. Analisis taktis pasti dilakukan secara intensif, dengan instruksi untuk meningkatkan intensitas permainan, agresivitas dalam merebut bola, dan keberanian dalam menyerang. Di sisi lain, pelatih Ajax kemungkinan besar meminta timnya untuk mempertahankan fokus dan tidak mengendurkan tekanan, meskipun sudah unggul dua gol.

Babak kedua dimulai dengan Excelsior menunjukkan sedikit perubahan dalam pendekatan mereka. Mereka mulai bermain lebih menyerang dan mencoba menekan lini pertahanan Ajax lebih tinggi. Beberapa peluang tercipta, namun masih belum cukup untuk membahayakan gawang Ajax. Melihat timnya masih kesulitan menembus pertahanan lawan, Marinus Dijkhuizen memutuskan untuk melakukan sejumlah perubahan krusial. Pada menit ke-63, ia memasukkan Miliano Jonathans, winger muda yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribel mumpuni, menggantikan Derensili Sanches Fernandes. Pergantian ini terbukti menjadi titik balik dalam pertandingan.

Kehadiran Miliano Jonathans langsung memberikan dampak instan pada permainan Excelsior. Winger Timnas Indonesia itu membawa energi baru di sisi sayap, seringkali menciptakan situasi satu lawan satu yang merepotkan bek-bek Ajax. Kecepatannya dan kemampuannya dalam mengolah bola membuat serangan Excelsior menjadi lebih dinamis dan berbahaya. Para pendukung mulai merasakan adanya harapan, melihat gairah baru di lapangan.

Momentum kebangkitan Excelsior akhirnya terwujud pada menit ke-74. Berawal dari serangan yang dibangun rapi dari lini tengah, bola dialirkan ke sisi kanan lapangan. Gyan de Regt, yang juga baru masuk sebagai pemain pengganti, menunjukkan visi permainan yang brilian. Ia melepaskan umpan silang akurat yang melengkung indah ke dalam kotak penalti Ajax. Miliano Jonathans, yang bergerak cerdas di antara para bek lawan, menyambut bola dengan sundulan terarah. Bola meluncur deras ke sudut gawang tanpa bisa dijangkau kiper Ajax. Stadion Woudenstein bergemuruh, skor berubah menjadi 1-2. Gol ini bukan hanya sekadar gol, melainkan sebuah injeksi semangat yang luar biasa bagi seluruh tim dan para pendukung. Ini adalah gol pertama Jonathans di Eredivisie musim ini, sebuah momen yang tak terlupakan bagi sang pemain dan timnya.

Gol Jonathans melecut semangat juang Excelsior secara drastis. Mereka kini bermain dengan kepercayaan diri yang membara, seolah-olah memiliki keyakinan bahwa hasil imbang masih bisa diraih. Hanya lima menit berselang, pada menit ke-79, Excelsior kembali membuat kejutan besar. Kali ini, Arthur Zagre yang menjadi pahlawan. Berawal dari kemelut di depan gawang Ajax setelah tendangan sudut, bola liar jatuh di kaki Zagre. Dengan refleks cepat, ia melepaskan tembakan keras dari jarak dekat yang menghujam gawang Ajax. Skor menjadi imbang 2-2! Kegembiraan meledak di seluruh penjuru Stadion Woudenstein. Para pemain Excelsior merayakan gol ini dengan penuh emosi, menunjukkan betapa berharganya setiap poin dalam perjuangan mereka.

Di sisa waktu pertandingan, Excelsior berbalik menekan Ajax. Mereka bahkan beberapa kali menciptakan peluang berbahaya yang nyaris membalikkan keadaan. Ajax yang awalnya dominan, kini terlihat tertekan dan kesulitan mengembangkan permainan. Beberapa peluang terakhir untuk kedua tim gagal berbuah gol, dan peluit panjang akhirnya berbunyi, mengakhiri pertandingan dengan skor imbang 2-2. Hasil ini menjadi sebuah kejutan besar di Eredivisie, terutama mengingat dominasi Ajax di babak pertama.

Pasca-pertandingan, Marinus Dijkhuizen pasti merasa sangat bangga dengan semangat juang dan determinasi yang ditunjukkan oleh anak asuhnya. "Ini adalah bukti bahwa kami tidak pernah menyerah," ujarnya dalam konferensi pers, "Perubahan yang kami lakukan di babak kedua berhasil, dan Miliano Jonathans memberikan dampak yang luar biasa. Poin ini sangat berharga bagi kami dalam perjuangan di liga." Di sisi lain, pelatih Ajax terlihat kecewa dan frustrasi. "Kami seharusnya bisa mengamankan kemenangan ini setelah unggul dua gol," katanya, "Ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga fokus hingga peluit akhir. Kami harus menganalisis di mana letak kesalahan kami."

Bagi Miliano Jonathans, gol ini menjadi momen penting dalam kariernya. Sebagai winger muda yang juga merupakan bagian dari Timnas Indonesia, penampilan impresifnya di panggung Eredivisie akan semakin menarik perhatian publik dan pelatih tim nasional. Kontribusinya yang langsung mengubah jalannya pertandingan menunjukkan potensi besar yang dimilikinya. Ini adalah momentum yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dan membantunya berkembang lebih jauh di kancah sepak bola Eropa.

Dampak dari hasil imbang ini juga terasa di tabel klasemen. Excelsior masih tertahan di peringkat ke-13 dengan koleksi 23 poin dari 21 pertandingan. Meskipun tidak melonjak signifikan, satu poin dari tim sekelas Ajax sangat berarti dalam upaya mereka menjauh dari zona degradasi. Persaingan di papan bawah Eredivisie sangat ketat, dan setiap poin bisa menjadi penentu. Sementara itu, bagi Ajax, hasil ini merupakan sebuah kemunduran. Mereka turun ke posisi ke-4 klasemen dengan 38 poin, disalip oleh NEC Nijmegen yang berhasil meraih 39 poin. Ini menambah tekanan bagi Ajax dalam perebutan tiket kompetisi Eropa, terutama Liga Champions, yang merupakan target utama mereka setiap musim.

Kabar mengenai Maarten Paes yang akan bergabung dengan Ajax di masa depan juga menjadi sorotan. Dengan penampilan lini pertahanan Ajax yang terlihat rapuh di babak kedua, kebutuhan akan sosok kiper tangguh menjadi semakin jelas. Paes, dengan reputasinya sebagai salah satu kiper terbaik di MLS dan pengalamannya di Timnas Indonesia, diharapkan bisa membawa stabilitas dan kepercayaan diri di bawah mistar gawang Ajax.

Setelah drama di Woudenstein ini, Excelsior akan menghadapi pertandingan sulit lainnya dalam upaya mereka bertahan di Eredivisie. Sementara itu, Ajax harus segera berbenah dan mencari solusi atas permasalahan konsistensi mereka jika ingin kembali ke jalur kemenangan dan memenuhi ekspektasi besar dari para penggemar dan manajemen klub. Eredivisie musim 2025/2026 masih menyisakan banyak pertandingan, dan setiap pekan menjanjikan kejutan dan pertarungan sengit yang akan menentukan nasib setiap klub.