Di tengah pegunungan Slovakia yang indah, sebuah desa kuno bernama Vlkolínec kini menghadapi dilema eksistensial. Desa yang telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1993 ini, secara mengejutkan, justru mengajukan permohonan agar status prestisius tersebut dicabut. Permintaan ini muncul dari keluhan mendalam para penduduknya yang merasa bahwa aturan pelestarian dan lonjakan turis telah merusak tatanan kehidupan tradisional mereka, mengubah desa yang hidup menjadi museum terbuka yang sepi dan mati.

sulutnetwork.com – Berada di Slovakia tengah, Vlkolínec telah lama menjadi permata tersembunyi yang kini terancam kehilangan esensinya. Desa ini pertama kali menarik perhatian dunia dan UNESCO berkat keunikan arsitektur tradisional pegunungan Carpathian utara yang masih sangat terjaga. Rumah-rumah kayu yang khas dengan atap sirap dan tata letak desa yang otentik mencerminkan gaya hidup pedesaan Eropa Tengah berabad-abad yang lalu. Keindahan dan keaslian ini menjadikannya daya tarik utama, berhasil menarik hingga 100.000 turis setiap tahunnya. Namun, di balik angka kunjungan yang mengesankan dan pengakuan internasional, tersembunyi suara-suara keluhan dari penduduk asli yang merasa terpinggirkan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO seharusnya membawa kehormatan, prestise, dan dukungan untuk pelestarian. Sejak dicantumkan pada tahun 1993, Vlkolínec memang telah menerima perhatian dan sumber daya yang signifikan untuk menjaga keaslian bangunannya. Ini termasuk dana untuk restorasi dan pemeliharaan struktur kayu yang rapuh, serta promosi global yang meningkatkan profil desa di mata wisatawan internasional. Awalnya, status ini diharapkan dapat menyeimbangkan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi lokal melalui pariwis. Namun, seperti yang sering terjadi dalam kasus situs warisan dunia yang "hidup," keseimbangan tersebut terbukti sulit dipertahankan.

Penduduk Vlkolínec mengeluhkan bahwa aturan ketat yang diberlakukan untuk menjaga status UNESCO mereka telah membatasi kemampuan mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara normal. "UNESCO melindungi rumah-rumah, tetapi bukan orang-orangnya," ungkap Anton Sabucha, penduduk tetap tertua di desa itu yang berusia 67 tahun, kepada harian lokal Slovakia, Denník N. Keluhan utama berkisar pada pembatasan aktivitas dasar yang selama ini menjadi bagian integral dari kehidupan pedesaan. Mereka tidak dapat lagi memelihara hewan ternak atau bertani di lahan kecil mereka dengan bebas seperti dulu, karena dianggap dapat mengganggu estetika atau merusak lingkungan yang dilindungi. Modifikasi rumah, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti perbaikan atau modernisasi sanitasi, menjadi sangat sulit dan mahal karena harus mengikuti standar pelestarian yang ketat.

Selain pembatasan internal, invasi privasi oleh turis menjadi masalah yang sangat mengganggu. Dengan ratusan ribu pengunjung setiap tahun, desa ini sering kali dipenuhi oleh keramaian yang tidak biasa untuk sebuah pemukiman pedesaan kecil. Warga melaporkan insiden turis yang kerap masuk ke halaman pribadi mereka, mengintip ke jendela rumah, atau bahkan masuk ke area terlarang yang ditujukan untuk penduduk. Pesepeda dan pejalan kaki sering kali mengabaikan tanda-tanda "Properti pribadi" atau "Dilarang memotret" yang dipasang oleh Sabucha dan warga lainnya. Sabucha bahkan harus memasang penghalang dan tanda peringatan berulang kali, namun ia mengaku bahwa peringatan itu seringkali tidak digubris oleh wisatawan yang terlalu antusias. Situasi ini menciptakan perasaan tidak aman dan terganggu bagi penduduk, mengubah rumah mereka yang seharusnya menjadi tempat perlindungan menjadi pameran publik.

Tekanan psikologis dan sosial yang dialami warga tidak dapat diremehkan. Mereka merasa seperti "pameran hidup" di museum terbuka, di mana setiap aspek kehidupan mereka diawasi dan dinilai oleh orang asing. Kehilangan privasi ini mengikis rasa memiliki dan kenyamanan di lingkungan sendiri. Desa yang dulunya merupakan komunitas yang erat dan mandiri, kini terasa seperti panggung tempat mereka dipaksa untuk tampil. "Kami akan hidup lebih baik jika UNESCO menghapus kami dari daftar situs warisan dunia," ujar seorang warga, yang mencerminkan frustrasi kolektif terhadap situasi yang mereka hadapi. Pernyataan ini menunjukkan betapa parahnya dampak status warisan dunia terhadap kualitas hidup mereka, hingga mereka rela kehilangan pengakuan internasional demi kembali ke ketenangan dan kebebasan yang dulu mereka nikmati.

Milos Dudas, seorang pakar warisan budaya, memberikan perspektif yang lebih luas mengenai dilema Vlkolínec. Ia menjelaskan bahwa Vlkolínec terdaftar bukan hanya karena arsitekturnya yang istimewa, tetapi juga karena statusnya sebagai "permukiman yang berfungsi." Artinya, desa ini diakui sebagai warisan karena ia adalah komunitas yang hidup dan terus beradaptasi, bukan sekadar artefak mati. Namun, Dudas mengakui bahwa "pencantuman tersebut membawa kehormatan dan prestise, tetapi juga masalah." Ia mengamati bahwa peningkatan pariwisata yang tidak terkendali telah menyebabkan hilangnya privasi yang ekstrem dan transformasi rumah-rumah permanen menjadi pondok akhir pekan. Ini adalah tren yang mengkhawatirkan karena mengancam kelangsungan Vlkolínec sebagai permukiman yang hidup dan fungsional.

Transformasi rumah-rumah menjadi pondok akhir pekan atau properti sewaan untuk turis memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius. Ketika penduduk asli menjual properti mereka kepada pihak luar yang hanya menggunakannya untuk tujuan pariwisata, desa kehilangan penghuni tetapnya. Hal ini tidak hanya mengikis struktur sosial komunitas tetapi juga mengurangi jumlah orang yang memiliki ikatan emosional dan historis dengan desa tersebut. Dudas memperingatkan bahwa "lingkungan sangat rapuh dan rentan." Jika tren ini terus berlanjut, Vlkolínec berisiko menjadi "museum terbuka yang kosong dan mati," sebuah ironi pahit mengingat tujuan awal UNESCO adalah untuk melestarikan kehidupan dan budaya. Desa ini akan kehilangan denyut nadinya, berubah menjadi cangkang tanpa jiwa, hanya menjadi tontonan bagi wisatawan tanpa ada kehidupan nyata di dalamnya.

Situasi ini diperparah oleh kenyataan bahwa populasi desa juga menyusut dengan cepat. Pada tahun 1993, saat Vlkolínec pertama kali diakui UNESCO, tujuh keluarga yang terdiri dari 27 orang tinggal di sana secara permanen. Namun, saat ini, angka tersebut telah merosot drastis menjadi hanya empat keluarga dan 14 penduduk yang tersisa. Penurunan populasi yang signifikan ini adalah indikator nyata dari tekanan yang dihadapi komunitas. Generasi muda cenderung pindah ke kota untuk mencari peluang ekonomi yang lebih baik atau menghindari pembatasan gaya hidup yang diberlakukan di desa. Kurangnya peluang kerja di luar sektor pariwisata yang terbatas, ditambah dengan kesulitan untuk membangun atau memodifikasi rumah sesuai kebutuhan modern, membuat Vlkolínec menjadi tempat yang kurang menarik bagi mereka yang ingin memulai atau melanjutkan kehidupan keluarga.

Dampak dari penyusutan populasi ini sangat mendalam. Kehilangan penduduk berarti hilangnya pengetahuan lokal, tradisi, dan praktik budaya yang secara turun-temurun membentuk identitas Vlkolínec. Siapa yang akan mewariskan cerita-cerita lama, keterampilan bertukang kayu tradisional, atau cara hidup pedesaan yang unik jika tidak ada lagi penduduk asli yang tinggal di sana? Desa ini berisiko kehilangan "jiwanya," meninggalkan hanya bangunan-bangunan kosong yang indah namun tanpa cerita. Kondisi ini menyoroti paradoks pelestarian warisan budaya: jika upaya pelestarian mengorbankan keberlanjutan komunitas yang menciptakan dan menjaga warisan tersebut, apa yang sebenarnya kita lestarikan?

Meskipun menghadapi tantangan ini, Vlkolínec tetap menjadi salah satu dari hanya tiga permukiman pedesaan serupa yang terpelihara di Eropa Tengah, bersama dengan situs-situs di Hongaria dan Republik Ceko. Status unik ini menambah kerumitan dalam permintaan pencabutan statusnya. Kehilangan Vlkolínec dari daftar UNESCO akan menjadi pukulan telak bagi warisan budaya Slovakia dan Eropa, serta menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana UNESCO dan pemerintah negara anggota dapat menyeimbangkan pelestarian warisan dengan kebutuhan komunitas lokal yang hidup. Ini bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang cara hidup dan identitas yang unik.

Penghapusan sebuah situs dari daftar Warisan Dunia UNESCO adalah langkah yang sangat jarang terjadi dan sensitif secara politik. Proses ini membutuhkan keputusan bersama dari negara yang bersangkutan, dalam hal ini Slovakia, dan Komite Warisan Dunia UNESCO. Sejak awal pembentukannya, hanya sedikit situs yang pernah dihapus dari daftar, dan sebagian besar karena kerusakan yang tidak dapat diperbaiki atau hilangnya nilai universal luar biasa (Outstanding Universal Value/OUV) akibat pembangunan atau konflik. Kasus Vlkolínec akan menjadi salah satu kasus yang sangat unik karena inisiatif untuk delisting datang dari penduduknya sendiri, bukan karena ancaman fisik terhadap situs tersebut. Ini akan menjadi preseden penting yang dapat membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana UNESCO dapat lebih responsif terhadap kebutuhan komunitas lokal.

Jika Vlkolínec akhirnya dihapus dari daftar, ada konsekuensi yang beragam. Di satu sisi, desa tersebut mungkin kehilangan sebagian daya tarik pariwisatanya, yang dapat mengurangi pendapatan bagi beberapa bisnis lokal yang bergantung pada turis. Namun, di sisi lain, penduduk akan mendapatkan kembali kendali atas properti dan kehidupan mereka. Mereka dapat kembali memelihara hewan, bertani tanpa batasan ketat, dan memodifikasi rumah sesuai kebutuhan modern, yang berpotensi menarik kembali generasi muda dan menghidupkan kembali komunitas. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara pelestarian yang bermakna dan memungkinkan kehidupan yang layak bagi penghuninya.

Masa depan Vlkolínec kini berada di persimpangan jalan. Kisah desa ini menyoroti sebuah pertanyaan fundamental yang relevan bagi banyak situs warisan dunia lainnya di seluruh dunia: bagaimana kita dapat melestarikan warisan budaya tanpa mengorbankan kesejahteraan dan keberlanjutan komunitas yang menjadikannya hidup? Diperlukan pendekatan yang lebih sensitif dan partisipatif, di mana suara penduduk lokal tidak hanya didengar tetapi juga menjadi inti dari setiap keputusan terkait pelestarian. Mungkin ini berarti mengembangkan model pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab, atau memberikan otonomi yang lebih besar kepada komunitas dalam mengelola warisan mereka sendiri, sambil tetap mendapatkan dukungan teknis dan finansial dari UNESCO. Hanya dengan menemukan keseimbangan ini, warisan dunia seperti Vlkolínec dapat terus hidup, tidak hanya sebagai monumen masa lalu, tetapi sebagai komunitas yang dinamis dan bersemangat di masa kini dan masa depan.