Peristiwa tak terduga yang melibatkan Paku Buwono (PB) XIV Purbaya menjadi sorotan publik dan viral di media sosial setelah ia kedapatan mengganti busana, khususnya kain jarik, saat menghadiri acara halalbihalal di Sasana Narendra, Keraton Solo, pada Kamis (26/3) lalu. Insiden pergantian busana ini memicu perbincangan luas, bukan karena alasan busana yang tidak pantas, melainkan karena kain jarik bermotif parang yang dikenakannya ternyata terbalik, sebuah kekeliruan yang dianggap cukup signifikan dalam konteks adat Jawa.

sulutnetwork.com – Momen pergantian jarik oleh Paku Buwono XIV Purbaya, yang merupakan salah satu figur sentral dalam lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat, pertama kali mencuat di grup-grup media sosial yang berfokus pada pemerhati budaya keraton. Sebuah unggahan di grup Facebook "Pemerhati Karaton Mataram Hadiningrat" menjadi pemicu utama diskusi publik. Unggahan tersebut secara spesifik menyebutkan bahwa Gusti Purbaya, sapaan akrab Paku Buwono XIV Purbaya, awalnya menghadiri acara dengan jarik yang terbalik. Kekeliruan ini baru disadari oleh orang-orang di sekitarnya setelah acara berjalan cukup lama, yang kemudian mendorong Gusti Purbaya untuk segera mengganti pakaiannya demi menjaga kesakralan dan kepantasan dalam tradisi keraton.

Kejadian yang menyita perhatian ini segera mendapatkan konfirmasi dari pihak keraton. GKR Panembahan Timoer Rumbay, yang menjabat sebagai Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya sekaligus kakak kandungnya, membenarkan insiden pergantian jarik tersebut. Ia menjelaskan bahwa alasan di balik pergantian jarik yang mendadak itu sangat sederhana, yakni karena "lerengnya kuwalik" atau motif batik parang pada jarik tersebut terbalik. Penjelasan ini diberikan GKR Rumbay saat dihubungi awak media pada Senin (30/3), beberapa hari setelah insiden tersebut menjadi perbincangan hangat.

Kain jarik, sebagai salah satu elemen busana tradisional Jawa, memiliki makna dan tata cara pemakaian yang sangat spesifik, terutama di lingkungan keraton. Motif parang, yang dikenakan oleh Paku Buwono XIV Purbaya, adalah salah satu motif batik tertua dan paling dihormati dalam tradisi Jawa. Motif ini secara historis hanya boleh dikenakan oleh raja dan bangsawan tinggi, melambangkan kekuasaan, kesinambungan, dan semangat perjuangan. Pola diagonal yang khas pada motif parang, yang menyerupai ombak bergelombang, memiliki filosofi mendalam tentang kekuatan yang tak pernah padam. Oleh karena itu, penempatan motif yang terbalik, atau "lereng kuwalik," tidak hanya dianggap sebagai kesalahan estetika, tetapi juga dapat dimaknai sebagai ketidaksempurnaan atau bahkan ketidakpatutan dalam konteks adat yang sarat makna.

GKR Rumbay menambahkan bahwa kekeliruan dalam pemakaian jarik ini bermula dari kesalahan penata busana saat melakukan proses "miru," yakni melipat kain jarik agar menghasilkan wiru (lipatan) yang rapi dan sesuai standar. Proses miru ini membutuhkan ketelitian tinggi, karena setiap lipatan dan arah motif harus diperhatikan agar sesuai dengan pakem (aturan baku) yang berlaku. "Ganti jarik, karena ternyata yang miru (melipat) jarik juga salah," ungkap GKR Rumbay, mengindikasikan bahwa kesalahan tersebut murni berasal dari aspek teknis penataan busana, bukan disengaja.

Selain faktor kesalahan penata busana, GKR Rumbay juga mengungkapkan adanya faktor lain yang berkontribusi terhadap insiden ini, yaitu kondisi yang serba terburu-buru. Ia menjelaskan bahwa ia, Gusti Sekar, ibu mereka, dan Paku Buwono XIV Purbaya sendiri, sedang dalam kondisi tidak fit sejak malam sebelumnya karena mengalami diare akibat salah makan. Kondisi kesehatan yang menurun dan persiapan yang mendesak membuat mereka semua bergegas, sehingga meningkatkan potensi terjadinya kekeliruan kecil seperti penataan jarik yang terbalik. "Wajar saja ketika kita terburu-buru kemudian ada kesalahan, karena sebetulnya kemarin kita semua itu sedang diare. Saya, Gusti Sekar, ibu dan beliau itu dari malam sebelumnya sedang diare karena kami mungkin salah makan sesuatu, ini hanya karena terburu-buru saja sih," terangnya, memberikan perspektif manusiawi di balik insiden tersebut.

GKR Rumbay juga menegaskan bahwa insiden ini tidak perlu dibesar-besarkan atau dikait-kaitkan dengan pertanda-pertanda lain yang bersifat mistis atau negatif. Dalam pandangannya, ini hanyalah sebuah kekeliruan kecil yang dapat segera dibenarkan dan tidak mengurangi esensi maupun kesakralan acara halalbihalal yang telah diselenggarakan. "Menurut saya tidak ada yang perlu perhatian khusus atau dikait-kaitkan dengan pertanda dan lain sebagainya ya. Ini kan hanya hal kecil yang bisa segera dibetulkan lagi," pungkasnya, berusaha meredam spekulasi dan menjaga nama baik keraton.

Acara halalbihalal yang menjadi latar belakang insiden ini sendiri merupakan sebuah perhelatan penting yang diselenggarakan oleh Paku Buwono XIV Purbaya di Sasana Narendra, Keraton Solo. Halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia, khususnya Jawa, setelah Hari Raya Idulfitri, yang bertujuan untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Bagi keraton, acara semacam ini memiliki dimensi yang lebih dalam, yakni sebagai ajang untuk menjaga hubungan harmonis antara keluarga keraton, sentono dalem (kerabat), abdi dalem (pegawai keraton), dan masyarakat umum.

Sasana Narendra, lokasi acara, merupakan salah satu bagian penting dari kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat. Bangunan ini memiliki nilai historis dan arsitektural yang tinggi, sering digunakan untuk berbagai upacara adat dan pertemuan penting. Suasana di Sasana Narendra pada hari itu dipenuhi dengan nuansa kebersamaan dan kekeluargaan, meskipun sempat diwarnai insiden kecil tersebut. Para warga yang hadir juga dipersilakan untuk menikmati hidangan tradisional yang disediakan secara prasmanan, seperti sambal goreng dan opor, yang menambah kehangatan acara.

Halalbihalal yang dipimpin oleh Sri Susuhunan Paku Buwono Empat Belas itu dihadiri oleh sejumlah figur penting dari keluarga keraton. Turut hadir sang ibunda, GKR Paku Buwono XIII, serta dua kakak perempuannya, GKR Panembahan Timoer Rumbay dan GKR Dewi Ratih Widyasari. Kehadiran kerabat dekat, termasuk kakak dan adik Paku Buwono XIII, serta abdi dalem dan puluhan masyarakat umum, semakin memperkuat nuansa kebersamaan dan keterbukaan keraton terhadap rakyatnya.

Paku Buwono XIV Purbaya, dalam kesempatan tersebut, mengenakan beskap berwarna hijau senada dengan sang ibu dan kedua kakaknya, dipadukan dengan jarik bermotif parang. Sementara itu, adik Paku Buwono XIII terlihat memakai kebaya oranye, menciptakan harmoni warna dalam busana keluarga inti. Mereka semua duduk di kursi kehormatan, memimpin jalannya acara. Prosesi utama halalbihalal diawali dengan Paku Buwono XIV Purbaya melakukan sungkem kepada ibunya, GKR Paku Buwono XIII, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf. Setelah itu, ia melanjutkan sungkeman kepada kedua kakak perempuannya, dan kemudian kepada adik Paku Buwono XIII.

Ritual sungkeman ini merupakan inti dari tradisi halalbihalal, melambangkan kerendahan hati, pengakuan atas hierarki, dan keinginan tulus untuk membersihkan diri dari kesalahan. Setelah prosesi sungkeman keluarga inti selesai, Paku Buwono XIV Purbaya bersama seluruh anggota keluarga berdiri di tangga Sasana Narendra untuk menyalami para sentono dalem, abdi dalem, dan puluhan warga yang hadir. Momen ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk secara langsung bersalaman dan berinteraksi dengan figur-figur keraton, mempererat hubungan antara raja dan rakyatnya. Setelah sesi bersalaman, para hadirin dipersilakan untuk menyantap berbagai hidangan lezat yang telah disediakan, mengakhiri acara dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Insiden kecil mengenai jarik terbalik ini, meskipun sempat viral dan menjadi perbincangan, pada akhirnya disikapi dengan bijaksana oleh pihak keraton. Kejadian ini secara tidak langsung juga menyoroti bagaimana detail-detail kecil dalam adat istiadat keraton masih sangat dijaga dan dihormati, serta bagaimana pengawasan publik melalui media sosial dapat dengan cepat mengangkat sebuah peristiwa, sekecil apa pun, ke permukaan. Lebih dari itu, respons dari pihak keraton yang mengakui kesalahan dan memberikan penjelasan yang transparan menunjukkan sisi manusiawi dari figur-figur keraton yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisi, namun juga mengakui adanya potensi kekeliruan dalam proses pelaksanaannya.