Di tengah hiruk pikuk modernisasi Kota Depok, tepatnya di kawasan Cilangkap, Tapos, berdiri sebuah destinasi wisata religi yang menyimpan kisah-kisah menarik dan warisan spiritual mendalam. Tempat ini adalah Vihara Gayatri, sebuah kompleks peribadatan umat Buddha yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan, tetapi juga dikenal luas berkat keberadaan "Tujuh Sumur" yang diyakini memiliki sifat mistis dan sejarah panjang yang kaya. Keunikan ini menjadikan Vihara Gayatri sebagai titik persinggungan antara kepercayaan spiritual, sejarah lokal, dan akulturasi budaya yang harmonis.
sulutnetwork.com – Vihara Gayatri telah menjadi magnet bagi para peziarah dan wisatawan religi dari berbagai latar belakang, bukan hanya karena kemegahan arsitekturnya, tetapi lebih pada energi spiritual yang terpancar dari setiap sudutnya, khususnya dari Tujuh Sumur yang menjadi ikon utama. Untuk menyelami lebih dalam sejarah dan keunikan tempat ini, tim detikTravel berkesempatan berbincang dengan Tusijan (53), seorang pengelola senior Vihara Gayatri yang telah mengabdikan dirinya selama kurang lebih 30 tahun. Dedikasi Tusijan selama tiga dekade memberinya pemahaman mendalam tentang setiap detail dan evolusi vihara, menjadikannya saksi hidup perjalanan spiritual dan fisik tempat tersebut.
Tusijan mengungkapkan bahwa vihara ini telah berdiri selama puluhan tahun, jauh sebelum wilayah Depok berkembang pesat seperti saat ini. Menariknya, lokasi Vihara Gayatri yang sekarang bukanlah lokasi aslinya. "Pada 1983 atau 84 vihara itu dibangun di sini. Dulu aslinya di yang dipakai Alfamidi sekarang itu, lho. Iya, itu yang dari sini 100 meter, iya, ini pas pojokan, paling 50 meter dari sini itu. Dulu aslinya di situ, soalnya sekalian buka toko. Di sana juga masih ada meja. Ya, pindah ke sini. Pindah ke sini itu sekitar tahun 83-84 di situ. Pindah di sini begitu. Kalau namanya tetap Vihara Gayatri," ujar Tusijan saat diwawancarai di lokasi pada Rabu (4/2/2026). Perpindahan lokasi ini mengindikasikan adanya pertimbangan pragmatis, mungkin terkait dengan pengembangan area atau kebutuhan ruang yang lebih memadai untuk aktivitas keagamaan dan penerimaan umat. Meskipun demikian, esensi dan nama Vihara Gayatri tetap lestari, membawa serta jejak sejarahnya dari lokasi awal ke tempatnya yang sekarang.
Vihara Gayatri memiliki karakteristik unik karena kepemilikannya bersifat pribadi dan tidak berada di bawah naungan yayasan manapun. Pendiri vihara ini adalah seorang tokoh spiritual yang akrab disapa ‘Emak’, yang kini telah berusia 92 tahun. Usianya yang sepuh tidak mengurangi kharisma dan perannya sebagai figur sentral yang memegang teguh nilai-nilai spiritual vihara. Emak dikenal sebagai sosok yang memiliki kepekaan spiritual tinggi, dan visinya lah yang kemudian membentuk identitas Vihara Gayatri, termasuk keberadaan Tujuh Sumur yang legendaris.
Daya tarik utama Vihara Gayatri, sebagaimana diutarakan oleh Tusijan, adalah Tujuh Sumur. Sumur-sumur ini dibangun sekitar tahun 1992 atau 1993, hampir satu dekade setelah vihara menempati lokasi barunya. Asal-usul pembangunan Tujuh Sumur ini diselimuti aura mistis dan spiritual yang kental. Tusijan menyatakan bahwa sumur-sumur tersebut lahir dari sebuah wahyu ilahi yang diterima Emak. Wahyu ini datang setelah Emak melakukan perjalanan ziarah spiritual ke Goa Ciremai di Cirebon, sebuah situs yang telah lama dikenal sebagai tempat keramat dan pusat olah batin di Jawa Barat.
"Emak (pemilik vihara) ziarah ke Goa Ciremai, Cirebon. Jadi ibaratnya itu pohon cangkokan dari Cirebon, vihara tujuh sumur ini. Dia dikasih mimpi bahwa di sini ada mata air bagus, nah itulah yang bikin tujuh sumur itu Emak," kata Tusijan, menjelaskan metafora "pohon cangkokan" yang menyiratkan adanya transfer energi atau berkah spiritual dari situs leluhur ke lokasi baru di Depok. Mimpi tersebut menuntun Emak untuk menemukan sumber mata air yang istimewa di lokasi vihara, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tujuh sumur dengan fungsi dan makna yang berbeda-beda. Penamaan ketujuh sumur ini pun tidak sembarangan, melainkan diberikan oleh seorang tokoh spiritual terkemuka bernama Suhu Syahoki dari Borobudur, yang semakin menegaskan kedalaman makna dan tujuan spiritual dari setiap sumur.
Ketujuh sumur tersebut memiliki nama dan fungsi spiritual yang spesifik, mencerminkan berbagai aspek kehidupan manusia dan harapan akan berkah:
- Sumur Sri Ningsih: Dipercaya memiliki khasiat untuk menerangkan lahir batin. Ini merujuk pada pembersihan diri secara spiritual dan mental, membantu individu mencapai kejernihan pikiran, ketenangan hati, dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri serta tujuan hidup.
- Sumur Sri Waras: Digunakan dengan harapan untuk mendapatkan kesehatan dan sentosa. Air dari sumur ini diyakini membawa energi penyembuhan dan menjaga kebugaran tubuh serta pikiran, menjauhkan dari penyakit dan mara bahaya.
- Sumur Sri Lungguh: Berfungsi untuk kedudukan dan derajat. Sumur ini menjadi tempat bagi mereka yang memohon kelancaran dalam karir, peningkatan status sosial, atau pencapaian posisi yang lebih baik dalam kehidupan, baik di lingkungan pekerjaan maupun masyarakat.
- Sumur Sri Kunaratih Kumadjaya: Dikhususkan bagi mereka yang mencari jodoh. Nama Kunaratih dan Kumadjaya sendiri merujuk pada sepasang dewa-dewi cinta dalam mitologi Jawa, sehingga sumur ini menjadi simbol harapan bagi para lajang untuk menemukan pasangan hidup yang sesuai dan harmonis.
- Sumur Sri Rezeki: Ditujukan guna usaha mencari rezeki. Para peziarah yang ingin melancarkan usaha, meningkatkan pendapatan, atau mendapatkan keberuntungan dalam aspek finansial seringkali menggunakan air dari sumur ini sebagai bagian dari ritual doa mereka.
- Sumur Dewi Sri Mulyasari: Memiliki khasiat untuk pengobatan. Sumur ini diyakini dapat membantu dalam proses penyembuhan berbagai penyakit, baik fisik maupun non-fisik, dan seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang mencari alternatif pengobatan spiritual.
- Sumur Sri Pontjo Warno: Berfungsi guna segala tolak malapetaka. Air dari sumur ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak bala, melindungi dari nasib buruk, kesialan, dan berbagai bentuk bahaya atau bencana, memberikan rasa aman dan perlindungan spiritual.
Salah satu fenomena paling menarik dan seringkali menjadi perbincangan terkait Tujuh Sumur adalah debit airnya yang luar biasa. Tusijan menjelaskan bahwa air di ketujuh sumur ini diklaim tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau panjang melanda. "Biarpun kemarau panjang, turunnya cuma sejengkal dua jengkal. Kalau musim hujan malah penuh sampai nggak kelihatan sumurnya saking melimpahnya," kata Tusijan. Fenomena ini tidak hanya menambah kesan mistis, tetapi juga memperkuat keyakinan akan keberkahan dan keistimewaan sumber mata air di Vihara Gayatri. Ketersediaan air yang melimpah secara konsisten, terlepas dari kondisi iklim, menjadi bukti nyata bagi para peziarah akan kekuatan spiritual tempat tersebut.
Angka tujuh sendiri memiliki filosofi mendalam yang dijelaskan oleh Tusijan. "Sumur tujuh itu ibaratnya petunjuk supaya ‘tertuju’ cita-citanya. Apa yang diinginkan, usahanya, biar tertuju pada sasarannya," ujarnya. Dalam banyak kebudayaan dan tradisi spiritual, angka tujuh seringkali dianggap sebagai angka suci yang melambangkan kesempurnaan, kelengkapan, dan keberuntungan. Filosofi "tertuju" ini memberikan harapan dan keyakinan bagi para peziarah bahwa setiap doa dan harapan yang dipanjatkan di Tujuh Sumur akan memiliki fokus yang jelas dan arah yang pasti untuk mencapai tujuannya.
Vihara Gayatri juga merupakan cerminan akulturasi budaya yang kental, sebuah ciri khas yang sering ditemukan dalam praktik keagamaan di Indonesia. Meskipun "tuan rumah" utama di vihara ini adalah Dewi Kwan Im, bodhisatwa welas asih yang sangat dihormati dalam tradisi Buddha Mahayana, pengunjung juga dapat menemukan representasi tokoh-tokoh lokal yang dihormati. "Di sini tuan rumah-nya Kwan Im. Tapi ada juga Prabu Siliwangi (Raden Surya Kencana) sebagai penguasa Jawa Barat, dan lainnya," kata Tusijan. Kehadiran figur seperti Prabu Siliwangi, seorang raja legendaris dari Kerajaan Pajajaran yang sangat dihormati dalam tradisi Sunda, menunjukkan bagaimana Vihara Gayatri merangkul dan mengintegrasikan kepercayaan lokal dengan ajaran Buddha. Akulturasi ini menciptakan ruang spiritual yang inklusif, di mana berbagai keyakinan dapat hidup berdampingan secara harmonis, memperkaya tapestry spiritualitas Indonesia. Ini juga mencerminkan sikap toleransi dan keterbukaan yang menjadi pilar kehidupan beragama di tanah air.
Tujuh Sumur Vihara Gayatri terbuka untuk umum dan lintas agama, menyambut siapa saja yang ingin berdoa, melakukan ritual mandi, atau sekadar mencari ketenangan. Fleksibilitas ini menjadikan vihara sebagai pusat spiritual yang ramah bagi semua kalangan. Waktu-waktu tertentu seringkali menjadi puncak keramaian pengunjung. Malam Selasa Kliwon, sebuah penanggalan yang memiliki makna spiritual khusus dalam kalender Jawa, biasanya menjadi waktu paling ramai. Selain itu, akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu juga menjadi waktu favorit bagi pengunjung, dengan jam operasional mulai dari pukul 07.00 WIB hingga 19.00 WIB.
Namun, meskipun terbuka untuk umum, terdapat aturan ketat yang wajib dipatuhi oleh para pengunjung, terutama bagi wanita yang ingin melakukan ritual mandi di sumur. Tusijan mengingatkan, "Kalau mandi ada aturannya, kalau lagi haid itu nggak boleh." Aturan ini sejalan dengan banyak tradisi spiritual dan keagamaan yang memandang kondisi menstruasi sebagai masa yang membutuhkan kehati-hatian dalam melakukan ritual sakral, guna menjaga kesucian tempat dan prosesi. Kepatuhan terhadap aturan ini diyakini akan memaksimalkan manfaat spiritual yang dicari oleh para peziarah.
Vihara Gayatri dan Tujuh Sumurnya lebih dari sekadar tempat ibadah; ia adalah sebuah monumen hidup yang merefleksikan sejarah, spiritualitas, dan akulturasi budaya yang kaya di Depok. Bagi para pelancong yang ingin mencari ketenangan, merenungi sisi lain dari toleransi budaya di Indonesia, atau sekadar menjelajahi destinasi unik, Vihara Gayatri bisa menjadi pilihan menarik untuk disinggahi. Terlebih lagi, menjelang perayaan Imlek, suasana di vihara ini biasanya semakin semarak dan penuh makna, menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam dan berkesan bagi setiap pengunjung. Kehadiran Vihara Gayatri menjadi pengingat bahwa di tengah gemerlap kota metropolitan, masih ada ruang-ruang sakral yang menjaga dan melestarikan warisan spiritual nenek moyang, memperkaya khazanah budaya bangsa.
