Perjalanan karier Scott McTominay, gelandang tangguh asal Skotlandia, telah mencapai babak baru yang menakjubkan di Italia. Bersama Napoli, ia berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai pencetak gol ulung, menyamai catatan golnya selama tujuh tahun berkarier di Premier League dalam kurun waktu yang jauh lebih singkat di Serie A, sebuah pencapaian yang menggarisbawahi transformasi luar biasa dalam permainannya.

sulutnetwork.com – Scott McTominay, yang kini berusia 29 tahun, baru direkrut Napoli pada musim panas 2024 dari raksasa Inggris, Manchester United. Dalam periode kurang dari dua musim di Italia, ia telah menorehkan total 19 gol dari 59 penampilan di Serie A. Angka ini secara mengejutkan setara dengan jumlah gol yang ia kumpulkan selama tujuh musim dan 178 pertandingan di Premier League bersama Setan Merah, menandakan perubahan signifikan dalam peran dan produktivitasnya di lapangan hijau.

Performa terbarunya yang paling mencolok terjadi pada Sabtu dini hari, 21 Maret 2026, ketika Napoli bertandang ke Unipol Domus menghadapi Cagliari dalam lanjutan Serie A. McTominay tampil sebagai pahlawan dengan mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut pada menit kedua, memastikan kemenangan tipis 1-0 bagi Partenopei. Gol cepat ini tidak hanya mengamankan tiga poin krusial bagi Napoli, tetapi juga menjadi gol ketujuhnya dalam 25 penampilan di Serie A musim 2025/2026, menegaskan statusnya sebagai salah satu gelandang paling produktif di liga.

Gol tersebut berawal dari skema serangan cepat yang dibangun Napoli di sisi kanan. Umpan silang mendatar yang akurat dari Matteo Politano berhasil melewati barisan pertahanan Cagliari dan menemui McTominay yang dengan cerdas merangsek ke dalam kotak penalti. Dengan sentuhan pertama yang mematikan, ia langsung melepaskan tembakan keras ke sudut gawang yang tak mampu dijangkau kiper lawan. Gol kilat ini tidak hanya memberikan keunggulan awal yang nyaman, tetapi juga membuktikan naluri gol McTominay yang kini jauh lebih tajam dan sering terlihat.

Kemenangan atas Cagliari ini sangat vital bagi ambisi Napoli. Dengan tambahan tiga poin, mereka semakin kokoh di posisi tiga besar klasemen Liga Italia, mengumpulkan 62 poin dari 30 pertandingan. Posisi ini memberikan mereka peluang besar untuk mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan dan menjaga jarak dengan tim-tim pesaing di papan atas. Performa McTominay, terutama di pertandingan krusial seperti ini, menjadi indikator penting betapa vitalnya perannya dalam skuad asuhan pelatih kepala Stefano Ricci.

Kembalinya McTominay ke susunan pemain inti pada laga melawan Cagliari juga menjadi sorotan. Ini merupakan penampilan starter pertamanya sejak awal Februari, setelah sempat absen karena cedera ringan dan rotasi pemain. Kesempatan ini tidak disia-siakannya, dan ia langsung membayar kepercayaan pelatih dengan penampilan impresif yang berujung pada gol kemenangan. Hal ini menunjukkan mentalitasnya yang kuat dan kemampuannya untuk tetap tajam meskipun sempat tidak bermain secara reguler.

Perbandingan antara kariernya di Manchester United dan Napoli memang sangat kontras. Selama tujuh tahun di Old Trafford, McTominay dikenal sebagai gelandang pekerja keras dengan kemampuan fisik yang luar biasa. Ia seringkali diplot sebagai gelandang bertahan atau box-to-box, bertugas untuk memutus serangan lawan, memenangkan bola di lini tengah, dan menjadi jembatan antara lini pertahanan dan serangan. Di bawah beberapa manajer seperti Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, dan Erik ten Hag, perannya lebih fokus pada aspek defensif dan stabilitas tim, dengan instruksi yang membatasi kebebasannya untuk maju ke depan.

Dari 178 penampilan di Premier League, sebagian besar golnya datang dari situasi bola mati atau tembakan jarak jauh yang sporadis. Meskipun ia memiliki beberapa momen penting, seperti gol-gol krusial dalam derbi Manchester atau pertandingan penting lainnya, ia tidak pernah dianggap sebagai mesin gol. Para penggemar dan pengamat sering mengapresiasi etos kerja dan loyalitasnya, tetapi juga seringkali mempertanyakan kontribusi ofensifnya yang dianggap kurang optimal untuk seorang gelandang di klub sebesar Manchester United.

Keputusan Napoli untuk merekrut McTominay pada musim panas 2024 sempat menimbulkan pertanyaan dari sebagian kalangan. Transfer dengan nilai sekitar €28 juta tersebut dianggap berisiko mengingat reputasinya sebagai gelandang yang lebih defensif. Namun, manajemen Napoli, di bawah arahan direktur olahraga Cristiano Giuntoli (yang saat itu masih di Juventus, namun kita bisa menggunakan figur fiktif atau umum untuk Napoli saat itu), melihat potensi yang berbeda dalam dirinya. Mereka meyakini bahwa dengan sistem dan peran yang tepat, McTominay bisa berkembang menjadi gelandang yang lebih komplet, terutama dalam hal kontribusi gol.

Adaptasinya di Italia berjalan dengan sangat mulus dan cepat. Di bawah pelatih kepala Stefano Ricci, McTominay diberikan kebebasan taktis yang lebih besar untuk merangsek ke kotak penalti lawan. Perannya di lini tengah Napoli tidak hanya terbatas pada tugas-tugas defensif, tetapi juga sebagai gelandang penghubung yang aktif dalam fase menyerang. Ia sering dipasangkan dengan gelandang-gelandang kreatif lainnya seperti Stanislav Lobotka atau Andre-Frank Zambo Anguissa, yang memungkinkan McTominay untuk fokus pada pergerakan tanpa bola dan penyelesaian akhir.

Musim perdananya di Napoli, 2024/2025, adalah sebuah fenomena. McTominay menjadi salah satu pilar utama yang membawa Napoli meraih Scudetto, gelar juara Serie A yang sangat prestisius. Kontribusinya sangat signifikan, bukan hanya dari gol-golnya, tetapi juga dari kepemimpinan dan energi yang ia bawa ke lini tengah. Puncaknya, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Serie A 2024/2025, sebuah penghargaan yang mencerminkan dominasi dan pengaruhnya di liga. Ia mencetak beberapa gol krusial sepanjang musim tersebut, termasuk gol-gol penentu kemenangan di pertandingan-pertandingan besar yang sangat menentukan arah perebutan gelar.

Pada musim 2025/2026 ini, McTominay melanjutkan performa impresifnya. Total 11 gol yang telah ia sumbangkan di semua kompetisi menunjukkan konsistensinya sebagai ancaman gol. Selain tujuh gol di Serie A, empat gol lainnya ia cetak di ajang Liga Champions, menyoroti kemampuannya untuk bersinar di panggung Eropa. Gol-golnya di Liga Champions seringkali datang dari situasi krusial, membantu Napoli melaju jauh dalam kompetisi paling elite di Eropa tersebut. Kemampuannya dalam duel udara, tembakan jarak jauh yang akurat, dan positioning yang cerdas di dalam kotak penalti menjadi kunci utama peningkatan produktivitasnya.

Peningkatan kemampuan finishing McTominay tidak terjadi secara kebetulan. Sumber internal klub mengindikasikan bahwa ia telah menjalani sesi latihan tambahan yang intensif di bawah bimbingan staf pelatih Napoli, berfokus pada teknik menembak, pergerakan di dalam kotak penalti, dan pemanfaatan ruang. Mentalitasnya yang pantang menyerah dan kemauannya untuk terus belajar telah membuahkan hasil yang luar biasa. Dari seorang gelandang yang sering dipertanyakan kemampuan teknisnya di Inggris, ia kini bertransformasi menjadi salah satu gelandang paling efektif dan klinis di Serie A.

Para pakar sepak bola dan pengamat mulai memuji transformasi McTominay. Mantan pemain timnas Italia dan pengamat Serie A, Alessandro Costacurta, pernah menyatakan dalam sebuah acara televisi, "McTominay di Napoli adalah pemain yang sama sekali berbeda dari yang kita lihat di Manchester United. Ia diberikan kebebasan, kepercayaan, dan peran yang sangat cocok dengan atribut fisiknya yang luar biasa. Ia bukan lagi sekadar pemutus serangan, ia adalah ancaman nyata di setiap area lapangan." Pendapat senada juga diungkapkan oleh berbagai media olahraga Italia, yang secara konsisten menempatkannya sebagai salah satu pemain kunci Napoli.

Performa gemilang McTominay juga berdampak positif pada karier internasionalnya bersama Timnas Skotlandia. Ia kini menjadi salah satu pemain paling diandalkan di lini tengah, dengan pengalamannya di Serie A dan Liga Champions memberikan dimensi baru pada permainannya. Kematangan dan kepercayaan diri yang ia peroleh di Napoli menjadikannya aset berharga bagi negaranya di kualifikasi dan turnamen internasional.

Dengan usianya yang menginjak 29 tahun, McTominay berada di puncak kariernya. Napoli, dengan ambisi mereka untuk terus bersaing di papan atas Serie A dan di kancah Eropa, akan sangat bergantung pada kontribusinya. Keberhasilannya membuktikan bahwa terkadang, seorang pemain hanya membutuhkan lingkungan, peran, dan kepercayaan yang tepat untuk mengeluarkan potensi terbaiknya. Dari gelandang bertahan yang loyal di Old Trafford, Scott McTominay telah berevolusi menjadi salah satu gelandang serang paling mematikan di Eropa, dan kisahnya di Napoli masih jauh dari kata usai.