Sebuah kisah pilu menyelimuti keluarga Wayne Harvey, seorang ekspatriat asal Australia yang menghembuskan napas terakhirnya di Bali. Kematian pria berusia 69 tahun itu diklaim oleh pihak keluarga sebagai akibat langsung dari kegagalan Konsulat Australia dalam menerbitkan paspor darurat yang sangat dibutuhkan. Insiden ini menyoroti celah fatal dalam prosedur bantuan konsuler dan dampak tragis dari birokrasi yang kaku di tengah situasi darurat medis.
sulutnetwork.com – Peristiwa nahas yang menimpa Wayne Harvey, yang telah lama menetap di Pulau Dewata, bermula pada Malam Natal tahun 2022. Pada saat itu, Wayne didiagnosis menderita apendisitis akut atau peradangan usus buntu yang memerlukan tindakan medis segera. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Puri Raharja di Denpasar untuk mendapatkan penanganan. Setelah menjalani operasi pengangkatan usus buntu, kondisi Wayne Harvey bukannya membaik, melainkan justru mengalami komplikasi serius. Pihak rumah sakit lantas menghubungi Jake Harvey, putra tunggal Wayne, untuk mengabarkan perkembangan kesehatan ayahnya yang memburuk.
Panggilan telepon dari pihak RS Puri Raharja kepada Jake Harvey membawa kabar yang mengkhawatirkan. Diberitahukan bahwa Wayne mengalami komplikasi pasca-operasi yang memerlukan perawatan medis yang lebih intensif dan fasilitas yang lebih memadai. Oleh karena itu, Wayne disarankan untuk segera dirujuk ke Rumah Sakit Profesor Ngoerah, salah satu rumah sakit rujukan utama di Bali, yang diharapkan dapat memberikan penanganan yang lebih optimal. Namun, rencana pemindahan Wayne ke RS Profesor Ngoerah menemui hambatan yang krusial dan tak terduga: paspor milik Wayne Harvey dinyatakan hilang. Tanpa dokumen identitas resmi yang sah, proses administrasi untuk pemindahan antar rumah sakit, apalagi untuk seorang warga negara asing, menjadi mustahil.
Sebagai satu-satunya kerabat dekat yang berada di Bali dan bertanggung jawab penuh atas ayahnya, Jake Harvey segera mengambil tindakan. Pada tanggal 1 Januari 2023, di tengah suasana liburan Tahun Baru, Jake menghubungi layanan darurat 24 jam Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia. Dalam keputusasaan, ia menjelaskan secara rinci kondisi ayahnya yang tidak sadarkan diri dan sakit kritis, terbaring lemah dengan alat bantu kehidupan. Jake memohon agar pihak Deplu Australia dapat segera mengeluarkan paspor darurat, sebuah dokumen vital yang akan memungkinkan ayahnya ditransfer ke rumah sakit yang lebih lengkap dan sesuai untuk menangani komplikasi yang dialaminya.
Namun, permintaan mendesak Jake Harvey disambut dengan respons yang mengejutkan dan memicu rasa frustrasi yang mendalam. Petugas konsulat yang menangani kasus tersebut menyatakan bahwa mereka tidak dapat memproses permintaan paspor darurat tanpa izin langsung dari Wayne Harvey, sang pemilik paspor, dengan alasan Undang-Undang Privasi Australia. Alasan ini, meskipun secara hukum beralasan, terasa sangat tidak relevan dan menghambat di tengah situasi darurat medis yang mengancam jiwa. Wayne dalam kondisi tidak sadar dan tidak mampu memberikan persetujuan apa pun.
Selama lebih dari dua hari yang menegangkan, Jake Harvey terus-menerus mengirimkan email dan melakukan panggilan telepon ke pihak Konsulat Australia, memohon bantuan dan menjelaskan urgensi situasi. Ia bahkan mengirimkan video dan foto-foto kondisi ayahnya yang terpasang berbagai alat penunjang kehidupan, berharap dapat meyakinkan pihak konsulat akan betapa seriusnya keadaan Wayne. "Ini memakan waktu sangat lama. Saya muak dengan alasan privasi," kata Jake dengan nada kesal, menggambarkan betapa frustrasinya ia berhadapan dengan birokrasi di tengah krisis. Ia bahkan menyarankan agar pihak konsulat menghubungi sendiri rumah sakit untuk mendapatkan persetujuan dari Wayne, meskipun secara praktis hal itu tidak mungkin mengingat kondisi ayahnya yang tidak sadarkan diri. Jake merasa bahwa pihak konsulat seharusnya dapat mencari cara lain untuk memverifikasi situasi dan memfasilitasi penerbitan paspor darurat.
Pada tanggal 3 Januari, setelah rentetan upaya dari Jake, pihak Konsulat akhirnya mengirimkan email balasan. Email tersebut berisi rangkuman kondisi kesehatan Wayne Harvey yang didasarkan pada informasi yang mereka terima dari seorang perawat yang bertugas di RS Puri Raharja. Ironisnya, dalam email tersebut, pihak konsulat juga menginformasikan kepada Jake bahwa rumah sakit rujukan, RS Profesor Ngoerah, "tidak sesuai dengan standar" yang diharapkan oleh Australia. Lebih lanjut, mereka mengklaim bahwa kondisi Wayne sudah stabil dan menunjukkan tanda-tanda membaik. Informasi ini sontak membuat Jake merasa sangat janggal dan berkebalikan dengan apa yang ia dengar langsung dari dokter yang merawat ayahnya serta rekan-rekan ayahnya yang juga memantau kondisi Wayne.
Merasa ada ketidaksesuaian yang mencolok, Jake segera membalas email tersebut. Ia bersikeras bahwa Wayne tetap membutuhkan paspornya agar bisa dipindahkan ke rumah sakit lain seandainya kondisinya memburuk lagi, atau jika RS Profesor Ngoerah memang tidak dianggap memadai. Ia menegaskan bahwa pilihan rumah sakit lain tetap harus terbuka, dan kuncinya adalah paspor. "Bisakah pihak Konsulat membantu dengan dokumen tersebut?" tanya Jake dalam emailnya, mengulang permintaan esensialnya. Namun, email balasan Jake tersebut tidak pernah dijawab. Demikian pula dengan email-email lanjutan yang ia kirimkan untuk menanyakan perkembangan dan meminta kejelasan lebih lanjut, semuanya dibiarkan tanpa respons, menambah beban emosional dan keputusasaan yang dirasakan Jake.
Waktu terus berjalan, dan kondisi Wayne Harvey semakin kritis. Pihak Konsulat Australia tetap tidak menerbitkan paspor darurat yang sangat diharapkan. Akibatnya, Wayne tidak dapat dipindahkan ke rumah sakit lain yang mungkin dapat memberikan perawatan yang lebih baik atau fasilitas yang lebih lengkap. Wayne Harvey akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di RS Puri Raharja pada tanggal 7 Januari 2023, tepat satu minggu setelah ia didiagnosis apendisitis. Kematiannya menandai akhir tragis dari perjuangan Jake melawan birokrasi di tengah duka mendalam.
Dua hari setelah kematian ayahnya, Jake Harvey melayangkan komplain resmi terhadap pelayanan yang diberikan oleh Konsulat Australia. Ia merasa bahwa kelalaian dalam menerbitkan paspor darurat telah berkontribusi pada kematian ayahnya. Namun, komplain yang diajukan Jake itu diabaikan sepenuhnya, tanpa respons atau tindak lanjut yang berarti, selama lebih dari dua tahun. Waktu berlalu, dan Jake tetap tidak mendapatkan kejelasan atau permintaan maaf atas insiden yang menimpa keluarganya.
Baru 27 bulan kemudian, setelah Jake mengirimkan email tindak lanjut pada pertengahan tahun 2025 yang berisi rasa frustrasinya yang mendalam karena komplainnya tidak pernah dibalas, Departemen Luar Negeri Australia akhirnya memberikan respons. Balasan email tersebut datang dari Paula Brewer, Asisten Sekretaris untuk Konsulat. Dalam emailnya, Brewer menyampaikan, "Kami memahami kekhawatiran yang Anda sampaikan mengenai interaksi Anda dengan Pusat Darurat Konsuler. Pengalaman Anda telah dibagikan kepada tim dan manajer terkait untuk membantu kami meningkatkan cara berkomunikasi dengan pihak keluarga selama situasi kritis."
Brewer melanjutkan dengan mengakui adanya kekurangan dalam penanganan kasus Wayne. "Dalam kasus ayah Anda, tampaknya kami tidak paham betul tentang keseriusan kondisi kesehatannya. Setelah terbukti dia tidak dapat memberikan persetujuan, pihak Konsulat mengambil langkah untuk membagikan informasi, termasuk laporan medis kepada Anda," jelas Paula Brewer. Ia kemudian menambahkan, "Namun, saya mengakui bahwa proses dan jangka waktu yang ternyata masih hari libur nasional, tidak dijelaskan dengan jelas kepada Anda pada saat itu. Saya sungguh menyesal atas segala kesulitan tambahan yang mungkin ditimbulkan selama masa-masa menyakitkan itu." Pernyataan ini, meskipun berupa permintaan maaf, terasa terlambat dan kurang substantif bagi Jake yang telah kehilangan ayahnya.
Membaca email balasan tersebut, Jake Harvey merasa kecewa dan menuntut penjelasan lebih lanjut. Alasan bahwa pihak Deplu Australia "tidak paham betul tentang betapa serius kondisi kesehatan ayahnya" sungguh tidak dapat diterima oleh Jake. Ia menegaskan kembali fakta-fakta kunci yang telah berulang kali disampaikannya: "Dia tidak sadarkan diri akibat komplikasi setelah operasi pengangkatan usus buntu. Dia tidak bisa dipindahkan tanpa paspornya dan paspornya hilang. Karena itulah kami menghubungi layanan konsuler. Kami benar-benar membutuhkan bantuan untuk paspor itu." Jake merasa bahwa informasi yang ia berikan seharusnya sudah cukup untuk memahami urgensi dan keseriusan situasi.
Menanggapi tuntutan Jake, seorang pejabat konsuler Australia lainnya memberikan respons lebih lanjut, menyatakan, "Kami memahami betapa menyedihkannya kematian ayah Anda bagi Anda dan keluarga, dan kami sangat menyesal layanan konsuler yang diberikan terkait kasus Wayne tidak memenuhi harapan." Namun, hingga kini, pihak Deplu Australia tetap bersikukuh bahwa mereka tidak dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai detail kasus tersebut, dengan alasan adanya kebijakan privasi. Kebijakan privasi yang sama yang pada awalnya menghambat penerbitan paspor darurat bagi Wayne Harvey, kini kembali menjadi penghalang bagi Jake untuk mendapatkan kejelasan dan keadilan atas kematian ayahnya. Kasus ini menjadi pengingat pahit akan batas-batas birokrasi dan pentingnya empati dalam pelayanan konsuler, terutama di saat-saat paling rentan.
