Jakarta – Sepak bola Italia kembali diselimuti awan kelabu setelah Tim Nasional Italia dipastikan absen dari ajang Piala Dunia 2026. Ini menandai kegagalan lolos untuk ketiga kalinya secara beruntun, sebuah rekor memilukan yang belum pernah terjadi dalam sejarah panjang dan gemilang sepak bola Negeri Pizza. Absennya Gli Azzurri dari turnamen akbar empat tahunan ini berarti sudah 12 tahun lamanya para penggemar sepak bola dunia tidak menyaksikan sang juara empat kali Piala Dunia itu berlaga di panggung terbesar, sebuah periode kekosongan yang tak terbayangkan bagi salah satu raksasa sepak bola global.
sulutnetwork.com – Kekalahan pahit di final playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa menjadi penentu nasib Timnas Italia. Bermain tandang di Stadion Bilino Polje, Zenica, pada Rabu, 31 Maret 2026 (dini hari WIB), Italia harus mengakui keunggulan tuan rumah Bosnia & Herzegovina melalui drama adu penalti. Setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal dan babak tambahan, Italia takluk 1-4 dalam adu tos-tosan, mengulang mimpi buruk yang telah menghantui mereka dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya. Hasil ini tidak hanya mengakhiri harapan satu generasi pemain, tetapi juga memperpanjang masa kelam bagi sepak bola Italia, memicu seruan untuk evaluasi menyeluruh dari akar rumput hingga pucuk pimpinan federasi.
Drama di Zenica berlangsung menegangkan sejak awal. Italia, yang datang dengan beban sejarah dan ekspektasi besar, tampil di bawah tekanan. Bosnia & Herzegovina, meskipun berstatus underdog, menunjukkan semangat juang yang luar biasa dan berhasil unggul lebih dulu di babak pertama melalui serangan balik cepat. Italia baru bisa menyamakan kedudukan di babak kedua setelah perjuangan keras, namun gagal mencetak gol kemenangan di sisa waktu normal maupun dua babak tambahan. Ketegangan memuncak saat adu penalti dimulai. Tiga dari empat penendang Italia gagal menunaikan tugasnya, sementara Bosnia tampil sempurna, mengubur harapan Italia untuk berlaga di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Para pemain Italia tampak terpukul, tertunduk lesu di lapangan, menyaksikan kegembiraan lawan yang merayakan tiket ke Piala Dunia, sebuah pemandangan yang menyayat hati para tifosi di seluruh dunia.
Ini adalah pukulan ketiga secara berturut-turut yang dialami Italia dalam upaya mereka menuju Piala Dunia. Tragedi pertama terjadi menjelang Piala Dunia 2018 di Rusia. Saat itu, Italia, di bawah asuhan pelatih Gian Piero Ventura, gagal melewati hadangan Swedia di babak playoff. Setelah kalah tipis 0-1 di leg pertama di Solna, Italia hanya mampu bermain imbang 0-0 di leg kedua yang digelar di San Siro, Milan, pada 13 November 2017. Hasil tersebut menandai pertama kalinya Italia absen dari Piala Dunia sejak edisi 1958, sebuah guncangan besar bagi fondasi sepak bola mereka. Kiper legendaris Gianluigi Buffon, yang berharap mengakhiri karier internasionalnya di Piala Dunia, harus menelan pil pahit dan mengucapkan selamat tinggal tanpa tiket ke Rusia.
Empat tahun kemudian, menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar, harapan sempat membumbung tinggi. Italia baru saja menjuarai Euro 2020 (yang dimainkan pada tahun 2021), menunjukkan performa gemilang di bawah asuhan Roberto Mancini. Namun, euforia itu hancur berkeping-keping di babak semifinal playoff kualifikasi. Menghadapi lawan yang relatif tidak diunggulkan, Makedonia Utara, di kandang sendiri pada Maret 2022, Italia secara mengejutkan kalah 0-1. Gol tunggal di menit-menit akhir pertandingan menjadi penentu, mengulang kembali mimpi buruk absennya mereka dari turnamen akbar. Kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena datang setelah mereka meraih gelar juara Eropa, sebuah kontradiksi yang sulit dijelaskan dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang mentalitas dan performa tim di momen-momen krusial.
Rentetan kegagalan ini, dari 2018, 2022, hingga 2026, telah menciptakan jurang yang dalam bagi sepak bola Italia. Sejak memenangkan Piala Dunia 2006 di Jerman, prestasi Gli Azzurri memang menunjukkan tren menurun yang mengkhawatirkan. Di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, mereka tersingkir di fase grup sebagai juara bertahan, sebuah aib yang tak terbayangkan. Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 2014 di Brasil, mereka kembali gagal melaju dari fase grup. Dua kegagalan awal di fase grup ini, meskipun mengecewakan, masih memberikan sedikit hiburan bahwa Italia setidaknya berhasil lolos ke turnamen. Namun, dengan absennya mereka di tiga edisi berikutnya, "periode kelam" adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Absennya Italia selama 12 tahun berturut-turut dari Piala Dunia, dari 2018 hingga 2026, memiliki dampak yang sangat luas, tidak hanya pada level tim nasional tetapi juga pada seluruh ekosistem sepak bola Italia. Secara finansial, kerugian yang diderita sangat besar. Kehilangan pendapatan dari hak siar, sponsor, dan penjualan merchandise selama tiga edisi Piala Dunia adalah pukulan telak bagi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan klub-klub di bawahnya. Potensi pendapatan miliaran euro lenyap, yang seharusnya bisa digunakan untuk pengembangan infrastruktur, program pembinaan pemain muda, dan peningkatan kualitas liga.
Secara psikologis, efeknya jauh lebih dalam. Generasi muda penggemar sepak bola Italia tumbuh tanpa menyaksikan tim nasional mereka berlaga di Piala Dunia, sebuah pengalaman yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional. Para pemain muda yang bermimpi membela negaranya di panggung terbesar mungkin merasa demoralisasi. Kepercayaan diri sepak bola Italia secara keseluruhan terkikis, menimbulkan pertanyaan serius tentang status mereka sebagai salah satu kekuatan tradisional dunia. Reputasi Italia sebagai salah satu negara adidaya sepak bola, dengan empat gelar Piala Dunia, terancam. Citra mereka sebagai tim yang selalu kompetitif di turnamen besar kini tercoreng.
Banyak analis dan pengamat sepak bola menunjuk beberapa faktor penyebab kemerosotan ini. Salah satu argumen utama adalah kurangnya regenerasi pemain bertalenta di Italia. Meskipun Serie A masih dianggap sebagai salah satu liga top di Eropa, jumlah pemain Italia yang menjadi tulang punggung tim-tim besar dan tampil konsisten di level tertinggi semakin berkurang. Banyak klub Serie A cenderung mengandalkan pemain asing, sehingga kesempatan bagi talenta lokal untuk berkembang dan mendapatkan jam terbang minim. Sistem pembinaan usia muda juga dikritik karena dianggap gagal menghasilkan "produk" yang siap bersaing di kancah internasional.
Selain itu, instabilitas di kursi pelatih juga sering disebut sebagai masalah. Sejak Marcello Lippi mengundurkan diri setelah Piala Dunia 2010, Italia telah dilatih oleh sejumlah figur, namun tidak ada yang mampu membangun konsistensi jangka panjang atau mengembalikan kejayaan tim. Pergantian pelatih yang terlalu sering, ditambah dengan tekanan besar dari media dan publik, mempersulit proses pembangunan tim yang solid dan berkarakter. Taktik yang diterapkan juga kadang dianggap kurang adaptif terhadap perkembangan sepak bola modern yang semakin mengandalkan kecepatan, kekuatan fisik, dan fleksibilitas taktik.
Krisis ini mendorong desakan kuat untuk melakukan "evaluasi besar-besaran" di semua lini sepak bola Italia. Ini bukan hanya tentang mengganti pelatih atau beberapa pemain, tetapi tentang reformasi struktural yang mendalam. Fokus harus kembali pada pengembangan pemain muda, dengan investasi yang lebih besar pada akademi dan program-program pembinaan di seluruh negeri. Klub-klub Serie A mungkin perlu didorong atau bahkan diwajibkan untuk memberikan lebih banyak kesempatan bermain kepada talenta-talenta lokal. Selain itu, diperlukan pendekatan jangka panjang dan filosofi sepak bola nasional yang jelas, bukan hanya sekadar reaksi terhadap hasil pertandingan.
Masa depan Timnas Italia kini berada di persimpangan jalan. Jalan menuju pemulihan akan panjang dan berliku. Dibutuhkan kesabaran, visi yang jelas, dan kerja keras dari semua pihak yang terlibat: FIGC, klub-klub, pelatih, pemain, dan bahkan para penggemar. Mereka harus belajar dari kesalahan masa lalu dan membangun kembali fondasi sepak bola Italia agar kembali menjadi kekuatan yang disegani di pentas dunia. Tanpa perubahan drastis dan komitmen kuat, "periode kelam" ini bisa berubah menjadi "era kegelapan" yang lebih panjang, sebuah prospek yang menakutkan bagi negara yang begitu mencintai sepak bola. Dunia sepak bola tentu merindukan kehadiran Gli Azzurri di Piala Dunia, dengan gairah, drama, dan keindahan permainan khas Italia. Namun, untuk mewujudkannya, Italia harus menemukan kembali jati diri dan semangat juang mereka.
