Insiden memilukan ambruknya lantai dua Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda di kawasan Istana Siak, Provinsi Riau, pada Sabtu (31/1/2026), telah menyisakan luka dan kekhawatiran mendalam. Sebanyak 17 orang, sebagian besar adalah pelajar, mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan yang tiba-tiba runtuh. Peristiwa ini sontak memicu desakan keras dari berbagai pihak, termasuk anggota parlemen, agar pemerintah segera melakukan pemugaran komprehensif dan menetapkan kawasan Istana Siak sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) demi menjamin keselamatan pengunjung dan keberlanjutan pelestarian cagar budaya.

sulutnetwork.com – Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, menjadi salah satu suara terdepan yang menuntut penanganan serius atas tragedi ini. Menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa para pelajar dan rombongan wisata, Munief mengungkapkan bahwa pihaknya segera berkoordinasi dengan Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, sesaat setelah kabar runtuhnya bangunan bersejarah tersebut tersebar luas. Koordinasi cepat ini menunjukkan urgensi masalah dan harapan akan respons tanggap dari pemerintah pusat, mengingat Tangsi Belanda merupakan bagian integral dari kompleks Istana Siak yang kaya akan sejarah dan nilai budaya.

Insiden nahas tersebut terjadi ketika rombongan siswa-siswi SD IT Baitul Ridho dari Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, sedang asyik mengikuti kegiatan wisata edukasi di lokasi tersebut. Mereka tengah mempelajari sejarah panjang bangunan peninggalan kolonial Belanda itu ketika musibah tak terduga menimpa. Material lantai dua yang terbuat dari papan kayu tua, diduga sudah dalam kondisi lapuk dan tidak mampu menahan beban rombongan yang kebetulan berkumpul di satu titik, ambruk secara tiba-tiba. Detik-detik runtuhnya lantai tersebut menciptakan kepanikan luar biasa di antara para pengunjung dan rombongan, mengubah suasana belajar yang ceria menjadi teriakan minta tolong dan kekacauan.

Dua puluh delapan tahun setelah Indonesia merdeka, bangunan bersejarah ini terus menjadi saksi bisu perjalanan bangsa. Namun, kondisi fisiknya yang rentan, seperti yang terbukti dari insiden ini, menunjukkan bahwa warisan budaya semacam ini membutuhkan perhatian dan perawatan ekstra. Sebanyak 15 siswa-siswi, seorang guru pendamping, dan seorang pemandu wisata setempat menjadi korban luka-luka. Meskipun sebagian besar luka yang dialami tergolong ringan, insiden ini berpotensi menimbulkan trauma psikologis, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan langsung atau menjadi korban reruntuhan. Kondisi ini menekankan pentingnya tidak hanya pemulihan fisik bangunan tetapi juga pemulihan mental bagi para korban.

Menyikapi insiden tersebut, Hendry Munief menegaskan bahwa Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memberikan respons yang "cepat dan bagus". Menteri segera berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk menindaklanjuti kasus ini, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah cagar budaya dan keselamatan publik. Dalam dialognya, Munief secara khusus meminta agar kawasan Istana Siak segera dipugar secara menyeluruh dan ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Penetapan KSPN diharapkan dapat menjadi payung hukum dan kebijakan yang kuat untuk memastikan alokasi anggaran yang memadai, perencanaan terpadu, dan pengelolaan profesional terhadap seluruh potensi pariwisata di kawasan tersebut, termasuk pemeliharaan cagar budayanya.

Penetapan suatu kawasan sebagai KSPN memiliki implikasi besar. Kawasan yang berstatus KSPN akan mendapatkan prioritas dalam pengembangan infrastruktur, promosi pariwisata, dan, yang terpenting dalam konteks ini, alokasi dana untuk konservasi dan pemeliharaan cagar budaya. Dengan status KSPN, Istana Siak dan sekitarnya tidak hanya akan menerima perhatian dari Kementerian Pariwisata, tetapi juga dari kementerian terkait lainnya seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk infrastruktur, dan Kementerian Kebudayaan untuk aspek konservasi. Hal ini akan memungkinkan revitalisasi yang lebih komprehensif, tidak hanya pada Tangsi Belanda tetapi juga pada fasilitas pendukung lainnya di kompleks Istana Siak yang mungkin juga telah usang dan membahayakan pengunjung.

Munief lebih lanjut menjelaskan bahwa beberapa fasilitas dan objek di Kawasan Istana Siak, yang merupakan ikon sejarah dan pariwisata Riau, sudah tidak layak dan berpotensi membahayakan pengunjung. Kondisi ini menjadi argumen kuat mengapa penetapan KSPN sangat mendesak. Dengan demikian, perbaikan dan pemeliharaan dapat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, bukan hanya sekadar tambal sulam yang justru berujung pada insiden serupa di masa mendatang. Istana Siak Sri Indrapura, dengan sejarah kesultanannya yang gemilang dan arsitektur Melayu yang khas, adalah permata budaya yang wajib dilindungi dan dikelola dengan standar tertinggi.

Namun, di balik desakan pemugaran dan penetapan KSPN, Hendry Munief juga melontarkan pertanyaan serius terkait penyebab ambruknya bangunan tersebut. Ia menyoroti fakta bahwa titik yang ambruk itu adalah bagian yang direnovasi pada tahun 2018 dengan anggaran sebesar Rp5,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Baru 7 tahun fasilitas tersebut sudah ambruk. Ini perlu ditelusuri. Ini juga catatan dari kita ke Kementerian Kebudayaan agar ditelusuri dan dijadikan pelajaran, jangan sampai terulang kembali," tegas Munief. Pertanyaan ini menyinggung isu akuntabilitas dan kualitas pengerjaan proyek renovasi cagar budaya yang dibiayai negara.

Investigasi mendalam sangat diperlukan untuk mengungkap mengapa bangunan yang baru direnovasi beberapa tahun lalu bisa ambruk. Apakah ada kesalahan dalam perencanaan, pemilihan material, atau pelaksanaan konstruksi? Siapa kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut dan bagaimana proses pengawasannya? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kegagalan serupa di situs-situs cagar budaya lainnya di Indonesia. Transparansi dalam penggunaan anggaran negara untuk proyek-proyek pelestarian cagar budaya juga harus menjadi prioritas, memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar digunakan untuk kepentingan pelestarian dan keselamatan.

Insiden ini bukan hanya tentang ambruknya sebuah bangunan, melainkan juga tentang ambruknya kepercayaan publik terhadap pengelolaan cagar budaya. Runtuhnya lantai dua Tangsi Belanda, yang merupakan bagian dari kompleks Istana Siak, salah satu destinasi wisata unggulan di Riau, mengirimkan sinyal peringatan keras kepada semua pihak terkait. Tangsi Belanda sendiri dulunya adalah barak militer Belanda, yang kemudian bertransformasi menjadi bagian dari kompleks wisata sejarah Istana Siak. Arsitektur kolonialnya yang unik menjadikannya daya tarik tersendiri, namun nilai historis ini harus diimbangi dengan jaminan keamanan bagi setiap pengunjung.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Siak dan Pemerintah Provinsi Riau, juga memiliki peran sentral dalam memastikan pemeliharaan cagar budaya di wilayahnya. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat menjadi kunci untuk keberhasilan program pelestarian. Anggaran daerah, meskipun terbatas, dapat dialokasikan untuk perawatan rutin dan pengawasan, sementara pemerintah pusat dapat memberikan dukungan finansial dan keahlian teknis yang lebih besar, terutama untuk proyek-proyek restorasi skala besar.

Peristiwa ini juga memantik diskusi lebih luas mengenai tantangan yang dihadapi dalam upaya pelestarian cagar budaya di Indonesia. Banyak bangunan bersejarah yang sudah tua dan rentan, memerlukan perawatan khusus, teknologi konservasi yang canggih, dan sumber daya manusia yang ahli. Perubahan iklim, kelembaban, dan aktivitas manusia secara terus-menerus menggerus kekuatan struktur bangunan-bangunan ini. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang melibatkan ahli sejarah, arsitek konservasi, insinyur sipil, dan masyarakat lokal sangat diperlukan.

Di samping itu, pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya cagar budaya juga harus terus ditingkatkan. Kunjungan edukasi seperti yang dilakukan oleh rombongan SD IT Baitul Ridho adalah langkah positif, namun harus diiringi dengan jaminan keselamatan. Pengelola situs harus memastikan bahwa setiap area yang dibuka untuk umum aman dan telah melalui pemeriksaan rutin. Pemasangan tanda peringatan, pembatasan jumlah pengunjung di area tertentu, dan pembaruan informasi kondisi bangunan secara berkala juga merupakan langkah preventif yang esensial.

Dalam jangka panjang, visi untuk Istana Siak dan seluruh kawasan sekitarnya haruslah menjadi model pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan dan aman. Penetapan KSPN dapat membuka pintu bagi investasi lebih lanjut, pengembangan infrastruktur yang ramah pengunjung, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata dan konservasi. Ini bukan hanya tentang memperbaiki kerusakan yang ada, tetapi tentang membangun masa depan di mana warisan budaya dapat terus dinikmati, dipelajari, dan dihargai oleh generasi mendatang tanpa mengorbankan keselamatan.

Hendry Munief menutup pernyataannya dengan ungkapan simpati yang mendalam. "Terkait insiden, kami turut berduka atas kejadian yang menimpa pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak sekolah. Mudah-mudahan anak-anak tidak trauma berkunjung ke wisata budaya lagi," tuturnya. Ungkapan ini merangkum harapan semua pihak: bahwa tragedi ini, meskipun menyakitkan, akan menjadi momentum untuk perbaikan mendasar, sehingga situs-situs bersejarah Indonesia dapat terus menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan, dengan jaminan keamanan yang tak tergoyahkan.