Thailand secara masif telah melepas ratusan hiu macan tutul muda (Indo-Pacific leopard shark) ke perairan lepas Pulau Maiton, Phuket, sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan untuk merevitalisasi populasi spesies hiu yang terancam punah di habitat alaminya. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya konservasi maritim yang lebih luas, menegaskan komitmen Thailand dalam menjaga keanekaragaman hayati lautnya yang kaya.

sulutnetwork.com – Proyek pelepasan hiu macan tutul muda, yang secara ilmiah dikenal sebagai Stegostoma fasciatum, dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2025, menjadi puncak dari program rehabilitasi dan aklimatisasi intensif yang melibatkan para ahli biologi kelautan, dokter hewan, dan konservasionis dari berbagai lembaga. Pemilihan Pulau Maiton sebagai lokasi pelepasan didasari oleh karakteristik perairannya yang mendukung, menjanjikan lingkungan yang optimal bagi adaptasi dan pertumbuhan hiu-hiu muda ini, sekaligus sebagai habitat alami yang ideal untuk pemijahan dan perlindungan jangka panjang.
Spesies hiu macan tutul Indo-Pasifik, yang juga dikenal sebagai hiu zebra karena pola unik pada tubuhnya saat masih muda, menghadapi ancaman serius di seluruh wilayah persebarannya. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikan spesies ini sebagai "Terancam Punah" (Endangered) dalam Daftar Merah, terutama akibat penangkapan ikan berlebihan—baik yang disengaja untuk sirip dan dagingnya maupun sebagai tangkapan sampingan—serta degradasi habitat terumbu karang yang merupakan rumah bagi mereka. Penurunan populasi yang drastis ini menggarisbawahi urgensi intervensi konservasi yang terkoordinasi dan berkelanjutan seperti yang dilakukan di Phuket.

Sebelum dilepaskan ke laut lepas, setiap individu hiu macan tutul muda menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh oleh tim dokter hewan laut dan ahli konservasi. Proses ini dimulai dengan pemindahan hiu dari fasilitas penangkaran ke tangki air sementara. Di dalam tangki ini, mereka diperiksa secara fisik untuk memastikan tidak ada luka atau penyakit, diambil sampel darah untuk analisis genetik dan kesehatan internal, serta diukur berat dan panjang tubuhnya. Penandaan mikrochip atau tag akustik juga dipasang pada setiap hiu untuk memfasilitasi pemantauan pergerakan dan tingkat kelangsungan hidup pasca-pelepasan, memberikan data krusial bagi evaluasi keberhasilan program.
Fase krusial berikutnya adalah aklimatisasi di "sea pen," sebuah kandang jaring besar yang ditempatkan di perairan dangkal Pulau Maiton. Sea pen ini dirancang untuk mensimulasikan kondisi lingkungan alami, memungkinkan hiu-hiu muda untuk beradaptasi dengan suhu air, salinitas, dan arus laut secara bertahap. Selama periode aklimatisasi ini, peran seorang "shark nanny" menjadi sangat vital. "Shark nanny" adalah tim konservasi yang bertugas memberi makan hiu secara teratur dan melatih mereka untuk mengembangkan naluri berburu serta keterampilan bertahan hidup di alam liar. Pelatihan ini mencakup pengenalan mangsa alami dan strategi menghindari predator, memastikan hiu memiliki bekal yang cukup sebelum menghadapi tantangan hidup mandiri di lautan luas.

Pelepasan hiu macan tutul muda ini tidak hanya menjadi simbol harapan, tetapi juga demonstrasi nyata dari kolaborasi antara pemerintah, komunitas ilmiah, dan masyarakat lokal. Acara pelepasan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, perwakilan lembaga konservasi, serta masyarakat yang antusias, berkumpul di dermaga Pulau Maiton. Dengan hitungan mundur yang penuh semangat, hiu-hiu tersebut dilepas dari sea pen, berenang bebas melewati kerumunan pengamat yang mengabadikan momen bersejarah ini dengan kamera dan ponsel mereka. Pemandangan hiu-hiu yang kembali berenang bebas di perairan Phuket memancarkan optimisme terhadap pemulihan ekosistem laut yang lebih sehat.
Upaya pemulihan hiu macan tutul Indo-Pasifik di Phuket ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berlipat ganda. Secara ekologis, peningkatan populasi hiu, sebagai predator puncak, akan membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut, mengendalikan populasi spesies lain, dan memastikan kesehatan terumbu karang yang menjadi fondasi kehidupan bawah laut. Secara ekonomi, inisiatif konservasi yang berhasil akan meningkatkan daya tarik pariwisata bahari berkelanjutan, khususnya ekowisata penyelaman, yang dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat lokal tanpa merusak lingkungan. Program ini juga berfungsi sebagai platform edukasi yang kuat, meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi hiu dan perlindungan habitat laut.

Para peneliti dan konservasionis berencana untuk terus memantau pergerakan dan kondisi hiu-hiu yang telah dilepaskan melalui teknologi pelacakan. Data yang terkumpul akan menjadi sangat berharga untuk memahami pola migrasi, penggunaan habitat, tingkat kelangsungan hidup, dan keberhasilan reproduksi spesies ini di alam liar. Informasi tersebut akan digunakan untuk menyempurnakan strategi konservasi di masa depan dan mengidentifikasi area-area perlindungan tambahan yang mungkin diperlukan. Komitmen terhadap penelitian berkelanjutan ini adalah kunci untuk memastikan bahwa upaya pelepasan bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi bagian dari strategi jangka panjang yang efektif dan berbasis sains.
Inisiatif di Pulau Maiton ini diharapkan menjadi model bagi program konservasi serupa di wilayah lain yang menghadapi ancaman terhadap keanekaragaman hayati lautnya. Keberhasilan program ini akan menjadi bukti bahwa dengan dedikasi, kolaborasi lintas sektor, dan penerapan ilmu pengetahuan yang tepat, spesies yang terancam punah masih memiliki peluang untuk bangkit kembali. Thailand, melalui program ambisiusnya, menunjukkan kepemimpinan dalam perlindungan lingkungan maritim, memberikan harapan baru bagi masa depan hiu macan tutul Indo-Pasifik dan ekosistem laut secara keseluruhan.




