Sektor perhotelan di Indonesia diproyeksikan menghadapi tantangan signifikan pada tahun 2026, ditandai oleh potensi penurunan okupansi yang dipicu oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah serta pergeseran prioritas alokasi dana ke sektor-sektor strategis lainnya. Situasi ini mengemuka di tengah upaya industri yang masih berjuang untuk pulih sepenuhnya pascapandemi, menimbulkan kekhawatiran baru bagi keberlanjutan bisnis hotel di berbagai daerah.

sulutnetwork.com – Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dalam sebuah konferensi pers pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PHRI di Semarang yang diikuti secara daring pada Selasa, 10 Februari 2026, menegaskan bahwa sektor perhotelan Indonesia berada dalam periode yang rawan, khususnya terkait tingkat okupansi. Pernyataan ini didasarkan pada adanya pemangkasan anggaran yang lebih luas oleh pemerintah. Pemotongan anggaran tersebut secara langsung berdampak pada berkurangnya aktivitas yang melibatkan penggunaan fasilitas hotel oleh lembaga-lembaga pemerintah, seperti rapat, seminar, atau perjalanan dinas, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pendapatan hotel, terutama di kota-kota besar. Hariyadi menyoroti bahwa kebijakan efisiensi ini tidak hanya bersifat temporer, melainkan merupakan bagian dari strategi fiskal jangka menengah pemerintah yang perlu diantisipasi secara serius oleh pelaku industri perhotelan.

Pemangkasan alokasi atau pengalihan dana ini, menurut Hariyadi, berkaitan erat dengan keperluan negara di sektor-sektor lain yang dianggap lebih mendesak dan memiliki dampak sosial yang lebih luas. Ia secara spesifik menyebutkan program "Makanan Bergizi Gratis (MBG)" dan inisiatif "Koperasi Merah Putih" sebagai contoh prioritas baru pemerintah yang memerlukan realokasi anggaran besar. Program Makanan Bergizi Gratis, misalnya, merupakan salah satu agenda prioritas nasional yang bertujuan untuk mengatasi masalah gizi buruk dan stunting di kalangan anak-anak, terutama di daerah-daerah terpencil dan kurang berkembang. Implementasi program ini memerlukan alokasi dana yang masif untuk pengadaan bahan makanan, distribusi, dan infrastruktur pendukung di seluruh pelosok negeri. Sementara itu, inisiatif Koperasi Merah Putih kemungkinan besar berfokus pada penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi, pemberian modal usaha, pelatihan, dan pendampingan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang juga membutuhkan dukungan anggaran yang substansial. Pergeseran fokus anggaran ke program-program berorientasi sosial ini secara tidak langsung mengurangi porsi anggaran untuk kegiatan yang melibatkan sektor perhotelan, seperti rapat kerja, bimbingan teknis, atau kunjungan kerja yang seringkali diselenggarakan di hotel.

Meskipun dihadapkan pada tantangan ini, industri perhotelan tidak berpangku tangan. Hariyadi Sukamdani menekankan bahwa para pelaku usaha di sektor ini tengah berupaya keras untuk mencari peluang-peluang baru guna menutupi potensi kerugian akibat berkurangnya pemasukan dari lembaga pemerintah. Strategi yang ditempuh adalah dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor dan menggarap pasar-pasar baru yang potensial. Inisiatif ini mencakup kerja sama erat dengan maskapai penerbangan (airlines), operator tur (tour operator), serta pengelola destinasi wisata. Kolaborasi semacam ini bertujuan untuk menciptakan paket-paket wisata yang menarik, promosi bersama, dan pengembangan rute-rute baru yang dapat menarik lebih banyak wisatawan, baik mancanegara maupun domestik.

Untuk pasar wisatawan asing, strategi yang diimplementasikan meliputi peningkatan promosi destinasi unggulan Indonesia di pasar-pasar internasional utama seperti Tiongkok, Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Upaya ini juga mencakup partisipasi aktif dalam pameran pariwisata internasional, kampanye digital yang masif, serta peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas yang sesuai dengan standar global. PHRI bersama pemerintah dan pelaku industri lainnya berupaya mengidentifikasi segmen pasar yang memiliki daya beli tinggi dan minat khusus, seperti wisatawan minat khusus (petualangan, budaya, kuliner), wisatawan MICE internasional (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), serta wisatawan yang mencari pengalaman unik dan otentik. Peningkatan konektivitas udara dan kemudahan aksesibilitas juga menjadi fokus penting untuk menarik lebih banyak kunjungan dari luar negeri.

Di sisi lain, pasar domestik atau wisatawan Nusantara juga menjadi fokus utama dalam upaya pencarian pasar baru ini. Potensi pasar domestik di Indonesia sangat besar, mengingat jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa dan meningkatnya minat masyarakat untuk berlibur di dalam negeri. Strategi yang dikembangkan meliputi promosi destinasi domestik yang beragam, mulai dari pantai, gunung, hingga kota-kota bersejarah dan pusat kuliner. PHRI berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal untuk menciptakan paket-paket liburan yang terjangkau dan menarik bagi keluarga, kaum muda, maupun pekerja yang ingin melakukan "staycation" atau perjalanan singkat. Promosi liburan pada saat hari libur nasional, cuti bersama, dan akhir pekan panjang juga menjadi momen krusial untuk menggenjot okupansi hotel di berbagai daerah. Selain itu, pengembangan pariwisata berbasis komunitas dan ekowisata juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik yang mencari pengalaman berbeda.

Hariyadi mengakui bahwa meskipun upaya pencarian pasar baru ini dilakukan secara maksimal, hasilnya mungkin tidak sepenuhnya dapat menutup kerugian yang timbul dari berkurangnya pemasukan dari lembaga-lembaga pemerintah. Pemasukan dari sektor pemerintah seringkali bersifat stabil, dalam jumlah besar, dan dapat diprediksi, terutama untuk acara-acara berskala nasional atau regional. Sementara itu, pasar wisatawan, baik asing maupun domestik, cenderung lebih fluktuatif dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi, tren perjalanan, serta faktor-faktor eksternal lainnya seperti isu kesehatan atau geopolitik. Namun, ia menegaskan bahwa ini adalah kondisi yang harus dihadapi oleh industri perhotelan, sehingga penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi lapangan tersebut harus terus dilakukan. Penyesuaian ini dapat berupa efisiensi operasional, penawaran harga yang lebih kompetitif, diversifikasi layanan, atau bahkan restrukturisasi bisnis agar lebih adaptif terhadap perubahan pasar.

Secara lebih lanjut, Hariyadi menjelaskan bahwa sebenarnya sektor perhotelan Indonesia telah menunjukkan tren berangsur positif dalam perkembangannya pascapandemi COVID-19. Setelah dua tahun lebih dihantam krisis global yang melumpuhkan sektor pariwisata, hotel-hotel mulai melihat adanya peningkatan okupansi dan pendapatan seiring dengan pembukaan kembali perbatasan, pelonggaran pembatasan perjalanan, dan pulihnya kepercayaan masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah. Banyak hotel yang mulai mengisi kembali kapasitasnya dengan wisatawan domestik, acara MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) lokal, dan secara bertahap juga menerima kembali wisatawan internasional. Namun, momentum pemulihan ini kembali goyah akibat adanya penyesuaian anggaran pemerintah yang mendadak, menyebabkan industri harus kembali berjuang untuk menstabilkan kondisi keuangannya.

Kondisi yang berbeda justru dialami oleh sektor restoran. Hariyadi mengungkapkan bahwa sektor ini telah kembali pulih sepenuhnya setelah masa-masa suram pandemi COVID-19. Pemulihan sektor restoran cenderung lebih cepat karena sifat bisnisnya yang lebih fleksibel dan langsung bersentuhan dengan kebutuhan konsumsi harian masyarakat. Selama pandemi, sektor restoran banyak beradaptasi dengan layanan pesan antar (delivery) dan makan di tempat dengan protokol kesehatan ketat. Setelah pandemi mereda, minat masyarakat untuk bersantap di luar rumah meningkat tajam, didukung oleh gaya hidup dan tren kuliner yang terus berkembang. Restoran tidak terlalu bergantung pada event besar atau perjalanan dinas seperti hotel, melainkan lebih pada konsumsi harian individu, keluarga, dan pertemuan sosial berskala kecil. Ini menunjukkan bahwa meskipun kedua sektor (hotel dan restoran) berada di bawah payung PHRI, mereka memiliki karakteristik dan tingkat kerentanan yang berbeda terhadap perubahan kebijakan ekonomi dan perilaku konsumen.

Pemotongan anggaran pemerintah ini juga berpotensi memicu persaingan yang lebih ketat di antara hotel-hotel. Dengan berkurangnya segmen pasar yang menjanjikan, hotel-hotel mungkin akan menurunkan harga atau menawarkan diskon lebih besar untuk menarik pelanggan, yang pada akhirnya dapat menekan rata-rata harga kamar (Average Daily Rate/ADR) dan profitabilitas. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi investasi yang telah ditanamkan di sektor ini. Industri perhotelan juga perlu mempertimbangkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada satu segmen pasar saja. Diversifikasi produk dan layanan, pengembangan fasilitas yang menarik bagi berbagai segmen, serta investasi dalam teknologi untuk efisiensi operasional dan pemasaran digital akan menjadi kunci.

Secara keseluruhan, tahun 2026 menjadi periode krusial bagi sektor perhotelan Indonesia. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, meskipun beralasan untuk kepentingan nasional yang lebih luas, secara langsung menciptakan lubang pendapatan yang signifikan bagi industri hotel. Namun, dengan semangat adaptasi dan kolaborasi yang kuat, PHRI bersama anggotanya bertekad untuk terus mencari dan mengembangkan pasar-pasar baru, baik domestik maupun internasional, sebagai upaya mitigasi agar krisis seperti yang terjadi di masa pandemi tidak terulang kembali. Penyesuaian strategis dan operasional yang tepat akan menjadi penentu keberhasilan industri ini dalam menavigasi tantangan ekonomi yang kompleks di tahun-tahun mendatang.