Kemenangan dramatis Liverpool atas Nottingham Forest pada Minggu, 22 Februari 2026, di City Ground memang berhasil mengamankan tiga poin krusial bagi The Reds dalam perburuan posisi empat besar Liga Primer Inggris. Gol tunggal Alexis Mac Allister pada menit ke-97 menjadi penentu. Namun, di balik euforia kemenangan tersebut, tersimpan catatan minor yang menyelimuti performa salah satu pilar utama mereka, Mohamed Salah, yang mencatatkan rekor buruk pribadi yang belum pernah terjadi sepanjang kariernya bersama Liverpool.
sulutnetwork.com – Laga tandang di markas Nottingham Forest selalu menjadi tantangan tersendiri, dan kali ini pun tidak berbeda. Liverpool harus berjuang keras menghadapi perlawanan sengit tuan rumah yang tampil disiplin dan bertahan rapat. Pertandingan berjalan buntu selama hampir 90 menit penuh, dengan kedua tim kesulitan menciptakan peluang emas. Kemenangan tipis ini, meski sangat berharga, tidak mampu menutupi fakta bahwa lini serang Liverpool, terutama sang megabintang Mohamed Salah, sedang berada dalam periode yang kurang produktif. Performa Salah di laga ini jauh dari ekspektasi, bahkan dapat dikatakan menjadi salah satu yang terburuk dalam balutan seragam merah Liverpool. Kondisi ini tentu memicu pertanyaan besar mengenai kesiapan dan ketajamannya menjelang fase krusial musim ini, di mana Liverpool sangat membutuhkan kontribusi maksimal dari seluruh pemainnya.
Mohamed Salah memulai pertandingan sebagai starter, memimpin lini serang Liverpool dengan harapan mampu membongkar pertahanan Forest yang kokoh. Namun, sepanjang 77 menit ia berada di lapangan sebelum digantikan oleh Rio Ngumoha, kontribusinya sangat minim. Statistik menunjukkan bahwa Salah gagal melepaskan satu pun tembakan ke gawang lawan, sebuah catatan yang sangat langka dan mengkhawatirkan bagi seorang penyerang kelas dunia seperti dirinya. Dengan 51 sentuhan bola yang ia catatkan selama di lapangan, efektivitasnya dalam mengubah sentuhan tersebut menjadi ancaman nyata sangatlah rendah. Angka ini menyiratkan bahwa Salah memang terlibat dalam membangun permainan, namun ia tidak berhasil menempatkan dirinya dalam posisi yang menguntungkan untuk menyelesaikan serangan.
Lebih lanjut, data pertandingan menunjukkan bahwa Salah hanya dua kali menyentuh bola di dalam kotak penalti lawan. Bagi seorang penyerang sayap yang dikenal agresif dalam mencari ruang dan menciptakan peluang gol, angka ini mengindikasikan bahwa ia terisolasi atau kesulitan menemukan celah di pertahanan lawan. Para pemain bertahan Nottingham Forest tampaknya berhasil meredam pergerakan khas Salah, membatasi ruang geraknya dan mencegahnya menerima umpan-umpan berbahaya di area krusial. Selain itu, Salah hanya mampu menciptakan satu peluang untuk rekan setimnya sepanjang pertandingan. Ini jauh di bawah standar rata-rata Salah yang biasanya menjadi salah satu kreator peluang utama bagi Liverpool, baik melalui umpan terobosan maupun dribelnya yang mematikan. Ketiadaan gol maupun assist di laga ini bukan hanya sekadar statistik, melainkan sebuah refleksi dari penurunan performa yang signifikan.
Rentetan pertandingan tanpa gol ini akhirnya memecahkan rekor buruk pribadi Mohamed Salah. Untuk pertama kalinya dalam kariernya di Liverpool, ia gagal mencetak gol dalam sembilan pertandingan Liga Primer Inggris secara beruntun. Sebuah fakta yang mengejutkan mengingat Salah dikenal sebagai mesin gol yang konsisten sejak kedatangannya ke Anfield pada tahun 2017. Terakhir kali Salah mencatatkan namanya di papan skor Liga Primer adalah pada tanggal 2 November, saat Liverpool meraih kemenangan 2-0 atas Aston Villa. Sejak pertandingan tersebut, kegarangan sang "Firaun" seolah meredup, menyisakan keraguan di benak para pendukung dan pengamat sepak bola.
Periode setelah kembali dari Piala Afrika tampaknya belum mampu mengembalikan Salah ke performa terbaiknya. Sejak kembali membela Liverpool, ia hanya berhasil mencetak dua gol dan menyumbang tiga assist di seluruh kompetisi. Kontribusi ini, meski tidak sepenuhnya absen, jauh di bawah standar yang diharapkan dari seorang pemain sekelas Salah, yang dalam musim-musim sebelumnya kerap menjadi top skorer tim dan bahkan liga. Ekspektasi tinggi yang menyertai kembalinya dari turnamen internasional tampaknya belum terpenuhi, dan tekanan untuk segera menemukan kembali sentuhan terbaiknya semakin meningkat seiring dengan krusialnya fase akhir musim.
Secara keseluruhan di musim ini, Mohamed Salah baru mencetak empat gol dari 17 kali penampilannya sebagai starter di Liga Primer Inggris. Catatan ini menjadi yang terburuk sepanjang kariernya berseragam Liverpool. Jika dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya, di mana ia secara konsisten mencetak puluhan gol setiap musim dan memenangkan berbagai penghargaan individu, angka empat gol dari 17 starter ini menunjukkan penurunan yang drastis. Pada musim debutnya, Salah langsung mencetak 32 gol di liga, diikuti oleh 22, 19, 22, 23, dan 19 gol di musim-musim berikutnya. Tren penurunan ini tentu menjadi perhatian serius bagi staf pelatih dan manajemen klub, mengingat Salah adalah salah satu pemain paling berharga di skuad.
Berbagai faktor mungkin berkontribusi terhadap penurunan performa Salah ini. Intensitas jadwal pertandingan yang padat, terutama dengan partisipasi di Piala Afrika, bisa jadi menyebabkan kelelahan fisik. Selain itu, lawan-lawan di Liga Primer Inggris juga semakin memahami gaya bermainnya dan menerapkan strategi khusus untuk mematikan pergerakannya, sehingga ruang gerak Salah menjadi lebih terbatas. Perubahan taktik tim atau fokus serangan yang bergeser ke pemain lain juga bisa menjadi faktor. Namun, bagi seorang pemain dengan mental juara dan profesionalisme tinggi seperti Salah, ekspektasi untuk bisa mengatasi tantangan ini selalu ada.
Mengingat Liverpool saat ini tengah berjuang keras untuk finis di posisi empat besar Liga Primer Inggris demi mengamankan tiket Liga Champions musim depan, kontribusi gol dan assist dari Mohamed Salah menjadi sangat vital. Persaingan di papan atas liga sangat ketat, dengan beberapa tim memperebutkan posisi yang sama. Setiap poin dan setiap gol bisa menjadi penentu. Pertanyaan besar yang kini menggantung di udara adalah: bisakah Mohamed Salah menemukan kembali ketajamannya di saat-saat paling penting musim ini? Kemampuan Liverpool untuk mencapai target mereka di akhir musim mungkin akan sangat bergantung pada jawaban dari pertanyaan tersebut. Mengembalikan Salah ke performa puncaknya akan menjadi salah satu tugas utama bagi manajer dan staf pelatih dalam beberapa minggu ke depan.
