Ribuan pengunjung membanjiri Kuil Takahata Fudoson Kongoji di Hino, Tokyo, pada 3 Februari 2026, untuk ambil bagian dalam upacara Setsubun tahunan yang penuh semangat. Tradisi kuno ini, yang secara harfiah berarti "pembagian musim," menandai berakhirnya musim dingin dan menyambut datangnya musim semi dengan ritual pelemparan kacang (mamemaki) yang dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Acara ini menjadi magnet bagi warga lokal maupun turis yang ingin merasakan langsung kekayaan budaya Jepang.
sulutnetwork.com – Kemeriahan upacara Setsubun di Kuil Takahata Fudoson Kongoji, salah satu kuil Buddha kuno yang bersejarah di Tokyo, menarik perhatian luas saat masyarakat Jepang secara kolektif melaksanakan tradisi mamemaki, atau pelemparan kacang, sebuah ritual vital yang bertujuan untuk membersihkan diri dari nasib buruk dan menyambut keberuntungan serta kemakmuran menjelang perubahan musim. Dalam suasana yang sarat akan makna spiritual dan kegembiraan komunal, peserta dari berbagai usia, termasuk figur publik dan seniman tradisional, bersatu dalam satu tujuan: membuang kejahatan masa lalu dan merangkul janji musim semi yang baru.
Setsubun, yang secara tradisional jatuh sehari sebelum Risshun (awal musim semi menurut kalender lunar Jepang), adalah salah satu festival rakyat tertua dan paling dicintai di Jepang. Akar sejarahnya dapat ditelusuri kembali ke periode Heian (794-1185 M), di mana ritual tsuina (追儺) atau upacara pengusiran setan yang berasal dari Tiongkok mulai diadopsi. Pada awalnya, ritual ini dilakukan oleh kaisar dan bangsawan untuk mengusir roh jahat pada malam tahun baru lunar. Seiring waktu, praktik ini berkembang dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, dengan kacang kedelai panggang (fukumame) menjadi elemen sentral dalam upacara pengusiran setan. Kacang kedelai dipilih karena dalam bahasa Jepang, "mame" (豆) bisa juga ditulis dengan karakter "魔滅" yang berarti "menghancurkan setan" atau "melenyapkan kejahatan," memberikan makna simbolis yang kuat pada ritual tersebut.
Kuil Takahata Fudoson Kongoji, yang berlokasi di Hino, Tokyo, adalah salah satu dari tiga kuil Fudo Myoo utama di wilayah Kanto, dengan sejarah yang membentang lebih dari 1.100 tahun. Kuil ini dikenal dengan arsitektur megah, pagoda lima tingkat, dan patung-patung Buddha yang dihormati, menjadikannya latar yang sempurna untuk perayaan Setsubun yang sakral namun meriah. Setiap tahun, kuil ini menjadi pusat kegiatan yang hidup, menarik ribuan orang yang ingin berpartisipasi dalam tradisi yang kaya makna. Kehadiran kuil dengan latar belakang alam yang indah, terutama saat musim dingin beralih ke semi, menambah kekhususan suasana, menjadikan setiap lemparan kacang terasa lebih bermakna.
Prosesi Setsubun di Kuil Takahata Fudoson Kongoji dimulai dengan serangkaian doa dan ritual yang dipimpin oleh para biksu. Setelah itu, tibalah puncak acara: mamemaki. Para biksu, tamu kehormatan, figur publik, serta peserta yang mengenakan pakaian tradisional seperti kimono dan bahkan kostum unik, berkumpul di panggung yang telah disiapkan. Mereka kemudian melemparkan kantung-kantung kecil berisi kacang kedelai panggang ke arah kerumunan yang antusias di bawah. Sembari melemparkan kacang, mereka serentak meneriakkan mantra tradisional "Oni wa soto! Fuku wa uchi!" (鬼は外! 福は内!), yang berarti "Setan keluar! Keberuntungan masuk!". Teriakan ini menggema di seluruh area kuil, menciptakan atmosfer yang penuh semangat dan optimisme.
Kerumunan pengunjung merespons dengan sorak-sorai dan upaya keras untuk menangkap kacang-kacang yang dilemparkan. Banyak di antara mereka membawa tas atau kantung kain khusus untuk mengumpulkan kacang sebanyak mungkin. Dipercaya bahwa mengumpulkan dan memakan kacang Setsubun akan membawa keberuntungan dan kesehatan sepanjang tahun. Tradisi mengharuskan seseorang memakan jumlah kacang yang sesuai dengan usia mereka ditambah satu butir lagi untuk tahun yang akan datang, sebagai simbol harapan untuk hidup panjang dan bebas dari penyakit. Antusiasme terlihat jelas di wajah para pengunjung, dari anak-anak hingga orang dewasa, saat mereka berebut menangkap setiap butir kacang yang jatuh.
Salah satu daya tarik khusus dalam perayaan di Takahata Fudoson Kongoji adalah partisipasi para maiko (calon geisha) dan geisha yang anggun. Mereka mengenakan kimono tradisional yang indah dan turut serta dalam ritual pelemparan kacang, menambah sentuhan estetika dan kebudayaan Jepang yang mendalam pada acara tersebut. Kehadiran mereka tidak hanya memeriahkan suasana tetapi juga menyoroti bagaimana tradisi kuno terus dihormati dan dipelihara oleh generasi seniman tradisional. Para pengunjung, khususnya penggemar budaya Jepang, terlihat gembira dapat menyaksikan figur-figur ikonik ini berinteraksi langsung dalam perayaan.
Tidak hanya figur tradisional, perayaan Setsubun juga kerap diwarnai dengan sentuhan modern dan karakter populer. Dalam salah satu momen yang menarik perhatian, seorang peserta terlihat mengenakan kostum Hello Kitty, berpartisipasi aktif dalam pelemparan kacang bersama peserta lain yang berbusana kimono. Ini menunjukkan bagaimana Setsubun, meskipun berakar pada sejarah kuno, mampu beradaptasi dan merangkul elemen kontemporer, menjadikannya festival yang relevan dan menarik bagi berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan penggemar budaya pop. Perpaduan antara tradisi dan modernitas ini adalah cerminan dari dinamika budaya Jepang yang selalu berkembang.
Setelah sesi pelemparan kacang selesai, para staf kuil dengan sigap membersihkan area dari sisa-sisa kacang yang berserakan di tanah. Prosesi ini juga merupakan bagian dari ritual, melambangkan pembersihan dan kesiapan untuk menyambut awal yang baru. Kebersihan dan ketertiban yang terjaga bahkan setelah acara yang ramai menunjukkan etos dan penghormatan terhadap lingkungan yang kuat dalam budaya Jepang.
Setsubun bukan hanya sekadar festival, melainkan sebuah penanda penting dalam kalender spiritual dan budaya Jepang. Ini adalah momen refleksi, pembersihan, dan penanaman harapan untuk masa depan. Melalui ritual sederhana seperti melempar kacang, masyarakat Jepang secara kolektif menegaskan kembali ikatan mereka dengan alam, siklus musim, dan kepercayaan kuno yang telah membentuk identitas mereka selama berabad-abad. Perayaan ini juga mengingatkan pada pentingnya menjaga keseimbangan antara kekuatan baik dan jahat, serta harapan untuk keberuntungan dan kemakmuran di tahun yang akan datang.
Selain mamemaki, beberapa keluarga di Jepang juga merayakan Setsubun dengan tradisi memakan eho-maki (恵方巻), yaitu gulungan sushi panjang yang dimakan utuh dalam keheningan sambil menghadap arah keberuntungan (eho) untuk tahun tersebut. Tradisi eho-maki, yang relatif lebih baru dan populer di wilayah Kansai sebelum menyebar ke seluruh Jepang, menambah variasi dalam cara masyarakat merayakan Setsubun, menunjukkan vitalitas dan kemampuan tradisi untuk beradaptasi dan berkembang.
Setsubun di Kuil Takahata Fudoson Kongoji pada tahun 2026 kembali membuktikan dirinya sebagai perayaan yang dinamis dan berakar kuat dalam tradisi Jepang. Dengan perpaduan antara ritual sakral, partisipasi komunitas yang antusias, dan sentuhan budaya yang kaya, festival ini terus menjadi pengalaman tak terlupakan bagi siapa pun yang berkesempatan menyaksikannya. Ini adalah sebuah perayaan yang merangkum esensi dari pergantian musim, harapan, dan kekuatan kolektif dalam menghadapi masa depan.
