Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat pergerakan pemudik yang menggunakan angkutan umum selama periode Lebaran 2026, dari H-8 hingga H-1 (13-20 Maret), mencapai angka fantastis 10.003.583 orang. Jumlah ini merepresentasikan lonjakan signifikan sebesar 9,23 persen dibandingkan dengan periode Angkutan Lebaran tahun sebelumnya, 2025, yang mencatatkan 9.158.315 penumpang. Data ini mengindikasikan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi publik serta efektivitas persiapan dan koordinasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam menyelenggarakan arus mudik yang aman dan lancar.
sulutnetwork.com – Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, Ernita Titis Dewi, menegaskan bahwa angka lebih dari 10 juta penumpang angkutan umum ini menjadi bukti nyata tingginya mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin pulih, tetapi juga didukung oleh berbagai kebijakan serta peningkatan kapasitas dan layanan transportasi publik yang terus dilakukan. Dalam pernyataannya yang dilansir dari Antara pada Minggu (22/3/2026), Titis Dewi menekankan bahwa koordinasi lintas sektor dan pemantauan intensif menjadi kunci utama di balik kelancaran operasional selama periode puncak arus mudik ini.
Lonjakan jumlah penumpang tersebut terdistribusi secara beragam di seluruh moda transportasi umum, menunjukkan preferensi dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang berbeda. Moda transportasi kereta api, sekali lagi, menjadi primadona dengan menyumbang jumlah penumpang terbesar, mencapai 2.981.945 orang. Angka ini menandai kenaikan impresif sebesar 13,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Popularitas kereta api ini dapat diatribusikan pada kenyamanan, kecepatan, dan ketepatan jadwal yang ditawarkannya, serta pengembangan infrastruktur perkeretaapian yang semakin modern dan terintegrasi. Fasilitas yang memadai dan rute yang semakin meluas turut menjadikan kereta api pilihan utama bagi banyak pemudik untuk perjalanan antarkota.
Sementara itu, moda penyeberangan mencatat pertumbuhan yang paling tinggi secara persentase, yaitu sebesar 14,7 persen, dengan total 2.482.303 penumpang. Peningkatan ini menggarisbawahi peran vital penyeberangan dalam menghubungkan pulau-pulau utama di Indonesia, terutama rute-rute strategis seperti Merak-Bakauheni yang menjadi gerbang utama Pulau Jawa dan Sumatera. Perbaikan layanan, penambahan armada, dan peningkatan kapasitas pelabuhan diyakini menjadi faktor pendorong di balik kenaikan signifikan ini. Kebutuhan akan konektivitas antar-pulau yang efisien selama periode liburan menjadi sangat krusial, dan moda penyeberangan berhasil memenuhi permintaan tersebut dengan baik.
Angkutan udara juga menunjukkan peningkatan, meskipun persentasenya lebih moderat dibandingkan moda lain, yakni sebesar 3,05 persen, dengan total 2.190.282 penumpang. Meskipun demikian, jumlah penumpang angkutan udara tetap signifikan, mengingat cakupan jarak jauh dan efisiensi waktu yang ditawarkannya. Peningkatan ini kemungkinan dipicu oleh ketersediaan rute yang lebih banyak, harga tiket yang kompetitif, serta kemudahan aksesibilitas ke berbagai destinasi di seluruh nusantara. Angkutan udara tetap menjadi pilihan favorit bagi pemudik yang mengutamakan kecepatan dan efisiensi perjalanan, terutama untuk rute-rute lintas provinsi atau antar-pulau yang jauh.
Di sisi lain, angkutan darat yang meliputi bus dan travel melayani 1.587.060 penumpang, menunjukkan peningkatan sebesar 9,18 persen. Angkutan darat tetap menjadi tulang punggung mobilitas bagi masyarakat, terutama untuk perjalanan jarak menengah dan daerah-daerah yang belum terjangkau oleh moda transportasi lain. Peningkatan ini mencerminkan upaya pemerintah dan operator dalam menyediakan layanan yang aman dan nyaman, termasuk melalui pengecekan kelaikan kendaraan dan kesiapan pengemudi. Terakhir, angkutan laut mencatat 761.993 penumpang, yang meskipun tidak mengalami persentase kenaikan yang disebutkan secara spesifik dalam laporan, tetap menunjukkan kontribusinya dalam mendukung mobilitas pemudik, khususnya untuk daerah kepulauan dan pesisir.
Selain pergerakan penumpang angkutan umum, arus kendaraan pribadi di jalan raya juga terpantau mengalami peningkatan yang signifikan di sejumlah titik strategis. Pada H-1 Lebaran, pergerakan kendaraan yang keluar dari gerbang tol Jakarta tercatat mencapai 117.016 unit, sementara yang masuk mencapai 66.210 unit. Data ini secara jelas menunjukkan dominasi arus keluar dari Ibu Kota Jakarta menuju berbagai daerah tujuan mudik. Secara total, pergerakan kendaraan di gerbang tol wilayah Jabodetabek mencapai 248.349 unit, sementara di luar Jabodetabek sebanyak 236.758 unit. Angka-angka ini menggambarkan betapa padatnya jalur tol selama periode puncak mudik.
Tidak hanya di jalan tol, kepadatan juga terasa di jalur arteri. Pada H-1, kendaraan yang keluar dari Jabodetabek melalui jalan arteri mencapai 474.454 unit, sedangkan yang masuk mencapai 360.479 unit. Sementara itu, di jalur arteri non-Jabodetabek, tercatat 491.901 unit kendaraan yang bergerak. Angka-angka ini menegaskan bahwa volume kendaraan pribadi di jalan raya sangat tinggi, memberikan tantangan tersendiri bagi pengaturan lalu lintas dan penjaminan kelancaran arus perjalanan. Pemerintah melalui berbagai instansi terkait telah menerapkan rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way untuk mengurai kepadatan di titik-titik krusial.
Ernita Titis Dewi menjelaskan bahwa penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 59 Tahun 2026. Regulasi ini menjadi landasan hukum yang mengatur berbagai aspek, mulai dari standar keselamatan, operasional transportasi, hingga koordinasi antarlembaga. Pengawasan yang dilakukan secara terpadu di berbagai simpul transportasi, seperti terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan, melibatkan berbagai pihak termasuk Polri, TNI, Basarnas, dan pemerintah daerah. Pengawasan terpadu ini bertujuan untuk memastikan setiap aspek operasional berjalan sesuai standar, mulai dari kelaikan armada, kondisi pengemudi, hingga ketersediaan fasilitas penunjang. Posko-posko terpadu didirikan untuk memantau, mengoordinasikan, dan menanggapi setiap potensi permasalahan yang mungkin timbul.
Melihat data harian pada H-1 (20/3), total penumpang angkutan umum tercatat sebanyak 915.635 orang. Rinciannya menunjukkan pola distribusi yang menarik: kereta api melayani 302.823 penumpang, dengan komposisi 178.006 penumpang antarkota dan 124.817 penumpang regional. Angkutan udara melayani 207.261 penumpang, terdiri dari 161.598 penumpang domestik dan 45.663 penumpang internasional. Angkutan laut mencatat 54.693 penumpang, penyeberangan 189.804 penumpang, serta angkutan darat 161.054 penumpang, yang terdiri dari 145.340 penumpang bus dan 15.714 penumpang travel. Data harian ini memberikan gambaran detail tentang intensitas pergerakan pada puncak arus mudik, sehari sebelum Hari Raya.
Dari sisi ketepatan waktu atau on time performance (OTP) pada H-1, kinerja angkutan umum menunjukkan hasil yang bervariasi namun secara umum cukup baik. Kereta api antarkota mencatat OTP sebesar 98,20 persen, sementara kereta regional mencapai 98,90 persen. Angka ini menegaskan reputasi kereta api sebagai moda transportasi yang sangat disiplin waktu. Untuk angkutan udara, OTP domestik tercatat 85,79 persen, sedangkan internasional 70,24 persen. Perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti slot penerbangan internasional yang lebih ketat atau kondisi cuaca di destinasi yang lebih jauh.
Angkutan laut mencatat OTP yang cukup tinggi sebesar 95,70 persen, menunjukkan efisiensi operasional di jalur perairan. Namun, penyeberangan mencatat OTP 63,19 persen, dan angkutan darat 72,49 persen. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa moda penyeberangan dan angkutan darat masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan ketepatan waktu, kemungkinan besar karena faktor eksternal seperti kepadatan lalu lintas di darat, antrean di pelabuhan, atau kondisi cuaca yang dapat memengaruhi jadwal keberangkatan. Meskipun demikian, Kemenhub terus berupaya meningkatkan kinerja OTP di semua sektor untuk kenyamanan penumpang.
Pihak Kementerian Perhubungan menegaskan komitmen untuk terus memastikan pelaksanaan angkutan Lebaran berjalan aman dan lancar. Koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat, bersama dengan pemantauan intensif di semua simpul transportasi, guna mengantisipasi berbagai dinamika yang mungkin terjadi. Evaluasi harian terus dilakukan untuk mengidentifikasi potensi kendala dan merumuskan solusi cepat, memastikan setiap perjalanan pemudik tetap dalam koridor keselamatan dan kenyamanan.
Titis Dewi juga mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi arus balik yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 24 Maret 2026 atau H+3 setelah Hari Raya. Mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya, puncak arus balik seringkali menjadi periode yang paling menantang karena konsentrasi kendaraan dan penumpang yang kembali secara bersamaan. Untuk itu, Kemenhub mengeluarkan serangkaian imbauan penting bagi pemudik.
Masyarakat disarankan untuk merencanakan perjalanan arus balik lebih awal, menghindari waktu-waktu puncak yang diperkirakan akan sangat padat. Pertimbangan alternatif jadwal perjalanan juga sangat dianjurkan guna mengurangi kepadatan di jalan dan terminal, serta memastikan perjalanan tetap aman dan nyaman. Dengan menyebar waktu kepulangan, diharapkan tekanan pada infrastruktur transportasi dapat diminimalisir.
Selain itu, pemudik juga diimbau untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima, membawa obat-obatan pribadi yang diperlukan, serta memastikan kendaraan pribadi dalam kondisi prima sebelum bepergian. Pemeriksaan menyeluruh pada kendaraan, mulai dari mesin, ban, rem, hingga kelengkapan surat-surat, menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya insiden di jalan. Masyarakat juga diminta untuk menggunakan transportasi resmi yang telah terdaftar dan diawasi oleh pemerintah, serta mengikuti informasi terkini dari kanal-kanal resmi pemerintah terkait kondisi lalu lintas dan jadwal keberangkatan.
"Kepatuhan terhadap arahan petugas di lapangan juga menjadi kunci dalam menjaga kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan selama arus balik Lebaran 2026," tutup Titis Dewi. Imbauan ini menekankan pentingnya disiplin dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan Angkutan Lebaran yang sukses, aman, dan berkesan bagi semua.
