London – Raheem Sterling, winger andalan tim nasional Inggris, secara resmi telah mengakhiri kiprahnya bersama Chelsea Football Club. Perpisahan ini menandai berakhirnya sebuah babak yang penuh gejolak bagi sang pemain, yang seharusnya masih terikat kontrak hingga Juni 2027. Keputusan bersama antara Sterling dan manajemen klub untuk memutus ikatan lebih awal mengonfirmasi spekulasi yang telah beredar luas, menyusul situasi sang pemain yang terpinggirkan dari skuad utama The Blues di bawah arahan pelatih baru, Enzo Maresca.

sulutnetwork.com – Sejak kedatangan Maresca di kursi kepelatihan, posisi Sterling di Stamford Bridge memang semakin tidak menentu. Penyerang sayap berusia 29 tahun itu bahkan dilaporkan telah berlatih terpisah dari rekan-rekan setimnya di kompleks latihan Cobham, sebuah indikasi jelas bahwa masa depannya di klub London Barat tersebut sudah di ujung tanduk. Situasi ini mendorong Sterling untuk mencari jalan keluar demi kelanjutan kariernya, dan Chelsea pun sepakat untuk memfasilitasi kepergiannya, membuka lembaran baru bagi kedua belah pihak yang kini sama-sama menatap masa depan dengan arah yang berbeda.

Kabar perpisahan ini diresmikan melalui pernyataan resmi klub yang dirilis pada hari Senin. "Atas kesepakatan bersama, Raheem Sterling telah meninggalkan Chelsea Football Club hari ini, mengakhiri tiga setengah musimnya sebagai pemain kami, setelah bergabung pada musim panas 2022 saat pindah dari Manchester City," demikian bunyi pernyataan yang diunggah di situs resmi Chelsea. Pernyataan tersebut melanjutkan, "Kami berterima kasih kepada Raheem atas kontribusinya selama menjadi pemain Chelsea dan mendoakan yang terbaik untuk kariernya ke depan." Nada resmi ini mencerminkan keinginan kedua belah pihak untuk berpisah secara baik-baik, meskipun ada dinamika yang kompleks di balik layar.

Bagi Sterling, perpisahan ini adalah sebuah langkah krusial untuk menghidupkan kembali kariernya yang sempat meredup. Melalui akun Instagram pribadinya, ia mengunggah sebuah pesan singkat namun penuh makna: "Tuhan itu hebat, mari fokus ke masa depan." Ungkapan ini menunjukkan tekad Sterling untuk melupakan periode sulit di Chelsea dan memusatkan energi pada babak baru yang menanti. Pesan tersebut juga mengisyaratkan bahwa sang pemain telah menerima kenyataan dan siap menghadapi tantangan berikutnya, tidak peduli ke mana pun tujuan kariernya selanjutnya.

Kedatangan Raheem Sterling ke Chelsea pada musim panas 2022 disambut dengan ekspektasi tinggi. Didatangkan dari Manchester City dengan banderol mencapai 50 juta paun, Sterling diharapkan menjadi salah satu pilar utama dalam proyek ambisius kepemilikan baru Chelsea di bawah konsorsium Todd Boehly dan Clearlake Capital. Ia adalah rekrutan pertama di era baru tersebut, dan kepindahannya ke London terasa seperti "pulang kampung" bagi Sterling, yang menghabiskan masa kecilnya di ibu kota. Pengalaman, kecepatan, dan kemampuan mencetak golnya dipandang sebagai kunci untuk mengembalikan Chelsea ke jalur persaingan gelar, setelah periode yang kurang memuaskan di akhir era Roman Abramovich.

Pada musim pertamanya, 2022-2023, Sterling menunjukkan sekilas potensi yang ia miliki. Di bawah arahan Thomas Tuchel, Graham Potter, dan kemudian Frank Lampard sebagai manajer sementara, Sterling tampil dalam 38 pertandingan di semua kompetisi, mencetak 9 gol dan memberikan 4 assist. Angka ini memang tidak buruk mengingat turbulensi yang melanda Chelsea pada musim tersebut, yang menyaksikan tiga pergantian manajer dan berakhir di posisi ke-12 Liga Primer, salah satu posisi terendah mereka dalam sejarah modern. Sterling, bersama beberapa pemain senior lainnya, kerap disebut-sebut sebagai salah satu pemain yang berusaha menjaga moral tim di tengah kekacauan, meskipun secara keseluruhan, penampilannya dinilai masih jauh dari puncak performanya di Manchester City.

Musim kedua Sterling, 2023-2024, di bawah asuhan Mauricio Pochettino, seharusnya menjadi kesempatan baginya untuk menemukan kembali ritme permainan terbaiknya. Dengan tim yang lebih stabil dan filosofi kepelatihan yang jelas, banyak yang berharap Sterling akan kembali bersinar. Ia memang menunjukkan beberapa momen gemilang, terutama di awal musim, dengan mencetak gol-gol penting dan memberikan assist. Total, Sterling mengakhiri musim dengan 8 gol dan 7 assist dari 43 penampilan di semua kompetisi. Statistik ini menunjukkan peningkatan dari musim sebelumnya, namun inkonsistensi tetap menjadi masalah utama.

Di paruh kedua musim 2023-2024, terutama setelah Natal, performa Sterling mulai menurun drastis. Ia seringkali kesulitan menemukan sentuhan terbaiknya, membuat keputusan yang kurang tepat di sepertiga akhir lapangan, dan kehilangan tempat di tim utama. Munculnya bintang-bintang muda seperti Cole Palmer, Noni Madueke, dan Mykhailo Mudryk, yang menunjukkan performa lebih konsisten dan energi yang lebih besar, membuat posisi Sterling semakin terancam. Penampilan terakhirnya untuk Chelsea terjadi pada Mei 2024, menandai akhir dari kiprahnya di lapangan hijau bersama The Blues sebelum akhirnya terpinggirkan dari skuad utama.

Keputusan untuk mencoret Sterling dari skuad utama dan memintanya berlatih terpisah menjadi indikasi kuat bahwa Chelsea, di bawah kepemimpinan Enzo Maresca, sedang melakukan perombakan besar-besaran. Maresca, yang dikenal dengan gaya permainan berbasis penguasaan bola dan intensitas tinggi, tampaknya memiliki visi yang berbeda mengenai komposisi skuadnya. Filosofi ini mungkin tidak lagi selaras dengan gaya bermain Sterling, atau mungkin Maresca melihat potensi yang lebih besar pada pemain-pemain lain, terutama yang lebih muda dan lebih sesuai dengan cetakan taktisnya.

Dari sudut pandang Chelsea, kepergian Sterling juga memiliki implikasi finansial yang signifikan. Dengan gaji yang dilaporkan sangat tinggi, pemutusan kontrak Sterling akan membebaskan beban finansial yang besar dari anggaran gaji klub. Hal ini sangat penting mengingat aturan Financial Fair Play (FFP) dan Profitability and Sustainability Rules (PSR) yang semakin ketat di Liga Primer Inggris. Melepas pemain dengan gaji tinggi yang tidak lagi menjadi bagian dari rencana tim adalah langkah strategis untuk menjaga keseimbangan keuangan klub dan memberikan ruang gerak lebih besar di bursa transfer. Dana yang dihemat bisa dialihkan untuk mendatangkan pemain-pemain baru yang lebih sesuai dengan visi Maresca dan proyek jangka panjang klub.

Selama dua musim di Chelsea, Raheem Sterling mencatatkan 81 penampilan di semua kompetisi, dengan kontribusi 19 gol dan 15 assist. Angka-angka ini, meskipun tidak buruk, jauh dari catatan impresifnya saat masih membela Manchester City, di mana ia menjadi salah satu penyerang sayap paling mematikan di Eropa. Di Etihad Stadium, Sterling memenangkan empat gelar Liga Primer, satu Piala FA, dan lima Piala Liga, menjadi pemain kunci dalam skema Pep Guardiola. Penurunan performa di Chelsea, yang kerap dikaitkan dengan serangkaian cedera dan ketidakstabilan di dalam klub, jelas menjadi salah satu faktor yang mempercepat akhir kariernya di Stamford Bridge.

Di level internasional, Sterling juga merupakan sosok penting bagi Timnas Inggris. Dengan 82 caps dan 20 gol, ia telah membela negaranya di berbagai turnamen besar. Penampilan terakhirnya bersama The Three Lions adalah pada perempatfinal Piala Dunia 2022, di mana Inggris harus takluk dari Prancis. Meskipun telah menjadi pilar timnas selama bertahun-tahun, performa yang menurun di level klub membuat posisinya di skuad Gareth Southgate juga mulai dipertanyakan. Perpisahan dengan Chelsea diharapkan menjadi katalis bagi Sterling untuk kembali menemukan performa terbaiknya dan kembali menjadi pertimbangan untuk tim nasional.

Kini, pertanyaan besar yang menggantung adalah, ke mana Raheem Sterling akan berlabuh selanjutnya? Dengan status bebas transfer, Sterling memiliki kebebasan penuh untuk memilih klub yang paling sesuai dengan ambisi dan kebutuhannya. Ada beberapa spekulasi yang beredar di kalangan pengamat sepak bola. Beberapa klub Liga Primer Inggris yang mencari pengalaman dan kualitas di lini serang mungkin tertarik untuk merekrutnya dengan biaya transfer nol. Klub-klub yang memiliki ambisi untuk lolos ke kompetisi Eropa namun dengan anggaran terbatas bisa melihat Sterling sebagai opsi menarik.

Di luar Inggris, Liga Arab Saudi juga bisa menjadi destinasi potensial, mengingat tren banyaknya pemain bintang Eropa yang pindah ke Timur Tengah dengan tawaran gaji fantastis. Liga Amerika Serikat (MLS) juga bisa menjadi pilihan, menawarkan tantangan baru dan gaya hidup yang berbeda. Namun, Sterling yang masih berusia 29 tahun mungkin masih ingin membuktikan dirinya di level tertinggi sepak bola Eropa. Klub-klub di liga top Eropa lainnya seperti La Liga, Serie A, atau Bundesliga mungkin juga akan memantau situasinya, terutama jika mereka mencari penyerang sayap berpengalaman tanpa biaya transfer. Yang jelas, keputusan Sterling berikutnya akan sangat menentukan arah kariernya di sisa masa kejayaannya sebagai pesepak bola profesional.

Perpisahan Raheem Sterling dengan Chelsea adalah cerminan dari dinamika modern dalam sepak bola, di mana ekspektasi tinggi, investasi besar, dan perubahan strategi klub dapat dengan cepat mengubah nasib seorang pemain bintang. Bagi Chelsea, kepergian Sterling menandai kelanjutan dari perombakan skuad yang ambisius di bawah kepemimpinan baru. Sementara bagi Sterling, ini adalah kesempatan emas untuk memulai babak baru, menemukan kembali gairah dan performa terbaiknya di lingkungan yang baru, dan membuktikan bahwa ia masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan di panggung sepak bola global.