Klub kebanggaan Ibu Kota, Persija Jakarta, kembali dihadapkan pada situasi sulit terkait ketersediaan stadion kandang. Untuk beberapa pertandingan mendatang, tim berjuluk Macan Kemayoran ini dipastikan tidak dapat menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), menyusul keputusan penutupan venue tersebut untuk persiapan laga Timnas Indonesia dan pemeliharaan rumput lapangan. Kondisi ini memaksa Panitia Pelaksana (Panpel) Persija untuk bergerak cepat mencari stadion alternatif, dengan Jakarta International Stadium (JIS) dan Stadion Patriot Candrabhaga di Bekasi menjadi opsi utama yang sedang diupayakan.

sulutnetwork.com – Situasi ini bukan kali pertama bagi Persija, yang dalam beberapa musim terakhir kerap kali harus berpindah-pindah kandang akibat berbagai kendala. Penutupan SUGBK kali ini akan berdampak pada setidaknya tiga pertandingan kandang penting Persija, dimulai dengan menjamu PSM Makassar pada 20 Februari 2024. Setelah itu, dua laga berikutnya, yakni kontra Borneo FC Samarinda pada 3 Maret dan Dewa United pada 15 Maret, juga berpotensi besar menjadi laga usiran yang mengharuskan Persija bermain di luar Jakarta atau di stadion yang kurang ideal bagi basis penggemar mereka. Penutupan SUGBK ini dikabarkan berkaitan dengan persiapan venue menjelang FIFA Series 2026, sebuah terminologi yang merujuk pada rangkaian agenda internasional yang membutuhkan kondisi stadion prima, serta perbaikan rumput yang diklaim akan meningkatkan kualitas lapangan lebih jauh.

Ketua Panpel Persija, Tauhid Indrasjarief atau yang akrab disapa Bung Ferry, telah mengonfirmasi informasi ini. "Tanggal 20 (Februari) katanya ini sudah enggak bisa kami pakai lagi, karena mau diperbaiki rumputnya," ungkap Bung Ferry kepada awak media, menggambarkan urgensi masalah yang dihadapi. Ia menambahkan, "Terus ada dua pertandingan lagi berikutnya kami katanya nggak bisa di GBK. Karena GBK mau perbaikan rumput, mau dipakai lagi Timnas. Ini sudah bagus, dia mau perbaiki lagi, katanya sih kualitasnya lebih bagus lagi." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun rumput SUGBK saat ini sudah dalam kondisi baik, pihak pengelola berupaya untuk meningkatkan standar lebih tinggi lagi, mungkin untuk memenuhi kualifikasi atau standar FIFA yang lebih ketat untuk pertandingan internasional di masa mendatang.

Ketidaktersediaan SUGBK ini tentu menjadi pukulan telak bagi Persija, mengingat stadion berkapasitas sekitar 77.193 penonton ini merupakan ikon sepak bola nasional dan menjadi kebanggaan suporter Macan Kemayoran. Bermain di SUGBK selalu memberikan keuntungan psikologis yang besar bagi Persija, didukung oleh lautan Jakmania yang memadati tribun. Pergeseran lokasi kandang tidak hanya mempengaruhi mental pemain, tetapi juga berdampak signifikan pada aspek finansial klub, mulai dari potensi penurunan penjualan tiket hingga biaya operasional tambahan yang harus dikeluarkan untuk beradaptasi dengan venue baru.

Opsi pertama yang paling diharapkan oleh Persija adalah Jakarta International Stadium (JIS). Stadion modern dengan kapasitas sekitar 82.000 penonton ini pernah menjadi ‘rumah’ sementara Persija pada awal musim ini ketika SUGBK juga dalam tahap perbaikan. JIS menawarkan fasilitas kelas dunia, mulai dari rumput hibrida yang berkualitas tinggi, sistem pencahayaan canggih, hingga tribun bertingkat yang memberikan pengalaman menonton maksimal. Letaknya yang masih berada di Jakarta juga menjadi nilai tambah, memudahkan akses bagi Jakmania. Namun, harapan untuk menggunakan JIS kini terganjal masalah lain. Kondisi rumput JIS dilaporkan belum sepenuhnya pulih pasca-penggunaan untuk konser musik K-Pop beberapa waktu lalu. Kerusakan rumput setelah acara non-olahraga merupakan isu yang sering terjadi pada stadion multi-fungsi, membutuhkan waktu dan perawatan intensif untuk mengembalikan kualitas lapangan sesuai standar pertandingan sepak bola profesional. Jika pemulihan rumput JIS memakan waktu lebih lama dari perkiraan, Persija akan kembali menghadapi dilema.

Alternatif kedua yang realistis adalah Stadion Patriot Candrabhaga di Bekasi. Stadion ini bukan tempat yang asing bagi Persija maupun Jakmania. Dalam beberapa musim terakhir, Stadion Patriot kerap menjadi pilihan kandang ketika SUGBK tidak dapat digunakan. Dengan kapasitas sekitar 30.000 penonton, Stadion Patriot menawarkan atmosfer yang cukup mendukung dan memiliki rekam jejak yang baik dalam menyelenggarakan pertandingan Liga 1. Lokasinya yang relatif dekat dengan Jakarta juga memudahkan sebagian besar suporter untuk hadir. Namun, bermain di Bekasi berarti Persija harus meninggalkan Jakarta, yang bisa sedikit mengurangi ‘rasa kandang’ dan potensi kehadiran suporter jika dibandingkan dengan bermain di JIS atau SUGBK.

Pertimbangan lain yang sempat muncul adalah Stadion Pakansari di Cibinong, Bogor. Namun, opsi ini tampaknya telah dikesampingkan karena berbagai kendala birokrasi dan logistik. Bung Ferry sempat menyinggung kesulitan koordinasi, termasuk rapat koordinasi (rakor) yang harus diadakan di Bandung, yang menurutnya sangat tidak efisien. "Kalau Pakansari, karena kemarin kami agak-agak sulit, awalnya katanya Garudayaksa yang pakai. Tapi begitu kami koordinasi sama Garudayaksa biasa, mereka welcome banget, silakan, begitu lho," ucap Bung Ferry. Ia melanjutkan, "Nah ternyata banyak urusan tuh sampai rakor (rapat koordinasi)-nya saja harus ada di Bandung. Kan jauh banget. Rakor Persija tapi di Bandung kan lucu saja, gitu." Pernyataan ini menyoroti kompleksitas dan kerumitan dalam proses perizinan penggunaan stadion di luar Jakarta, yang seringkali melibatkan banyak pihak dan prosedur yang berbelit-belit, menambah beban kerja Panpel.

Kondisi ini juga menyoroti permasalahan klasik dalam sepak bola Indonesia: minimnya stadion yang layak dan siap pakai, terutama di kota-kota besar. Klub-klub besar seperti Persija seringkali tidak memiliki stadion sendiri dan harus bergantung pada fasilitas milik pemerintah daerah atau pusat. Ini menyebabkan jadwal pertandingan seringkali berbenturan dengan agenda lain, baik itu event olahraga lain, konser, atau kegiatan non-olahraga, yang pada akhirnya merugikan klub dan suporter. Ketersediaan SUGBK yang terbatas dan kondisi JIS yang belum pulih sempurna menjadi cerminan nyata dari tantangan infrastruktur yang masih membayangi Liga 1.

Bagi Persija, tiga pertandingan kandang yang terancam usiran ini memiliki urgensi yang berbeda-beda. Laga melawan PSM Makassar pada 20 Februari adalah duel klasik yang selalu panas dan penuh gengsi, melibatkan dua tim dengan sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Kehilangan dukungan penuh Jakmania di kandang sendiri saat menghadapi lawan sekelas PSM bisa menjadi kerugian besar. Sementara itu, pertandingan melawan Borneo FC Samarinda pada 3 Maret juga sangat krusial, mengingat Borneo FC adalah salah satu kandidat kuat juara musim ini dan seringkali menampilkan permainan agresif. Kemenangan di laga ini bisa sangat vital dalam perburuan posisi puncak klasemen. Terakhir, menjamu Dewa United pada 15 Maret, meskipun mungkin tidak seberat dua lawan sebelumnya, tetap membutuhkan konsentrasi penuh dan dukungan maksimal untuk mengamankan poin. Setiap poin yang hilang akibat ketidaknyamanan bermain di luar kandang bisa berdampak signifikan pada posisi Persija di klasemen akhir.

Dampak finansial dari laga usiran juga patut diperhatikan. Pendapatan dari penjualan tiket merupakan salah satu sumber pemasukan utama bagi klub, dan jika Persija harus bermain di stadion dengan kapasitas lebih kecil atau di lokasi yang kurang strategis, jumlah penonton potensial bisa menurun drastis. Ini belum termasuk biaya transportasi dan akomodasi tambahan jika harus berpindah lokasi, serta potensi penurunan penjualan merchandise di sekitar stadion. Bagi klub yang sangat bergantung pada dukungan suporter seperti Persija, kondisi ini jelas tidak ideal.

Pengalaman Persija yang terus-menerus dihadapkan pada masalah stadion kandang seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak terkait. Perlu ada perencanaan yang lebih matang dan koordinasi yang lebih baik antara pengelola stadion, klub, PSSI, dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk memastikan jadwal pertandingan dapat berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Idealnya, setiap klub profesional memiliki stadion sendiri atau setidaknya memiliki perjanjian jangka panjang yang jelas mengenai penggunaan stadion tertentu. Namun, hingga saat ini, mimpi itu masih jauh dari kenyataan bagi sebagian besar klub di Indonesia.

Untuk saat ini, fokus utama Panpel Persija adalah memastikan bahwa salah satu dari dua opsi, JIS atau Patriot, dapat segera dikonfirmasi sebagai kandang sementara. Proses verifikasi kelayakan stadion, perizinan dari pihak keamanan, serta koordinasi dengan operator stadion dan pemerintah daerah setempat harus dikejar dengan cepat agar tidak mengganggu persiapan tim. Harapan terbesar tentu saja adalah JIS dapat segera pulih dan siap digunakan, mengingat kapasitas dan fasilitasnya yang lebih representatif untuk klub sebesar Persija. Namun, jika kendala rumput JIS tak kunjung usai, maka Stadion Patriot Candrabhaga akan menjadi pilihan yang paling mungkin. Keputusan akhir mengenai lokasi pertandingan kandang Persija selanjutnya akan sangat dinantikan oleh Jakmania, yang selalu setia mendukung Macan Kemayoran, di manapun mereka berlaga.