Jakarta – Dinamika politik sepak bola Italia kembali bergejolak seiring dengan mundurnya Gabriele Gravina dari kursi Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Keputusan Gravina untuk mengakhiri masa jabatannya dipicu oleh kegagalan tim nasional Italia melaju ke Piala Dunia 2026, sebuah pukulan telak bagi reputasi sepak bola Negeri Pizza. Kondisi ini sontak memicu perburuan sengit untuk posisi puncak di federasi, dengan Giovanni Malago, mantan pemimpin Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI), muncul sebagai kandidat kuat berkat dukungan masif dari sejumlah klub Serie A, terutama yang digalang oleh Presiden Inter Milan, Beppe Marotta.
sulutnetwork.com – Manuver politik dalam tubuh sepak bola Italia kini semakin memanas, memperlihatkan perpecahan yang jelas di antara klub-klub raksasa Serie A. Sementara Beppe Marotta dari Inter Milan secara agresif melobi dukungan untuk Giovanni Malago, dua kekuatan tradisional, AC Milan dan Juventus, awalnya mengambil posisi yang berseberangan. Mereka justru sempat mengusung nama legendaris Adriano Galliani, mantan tangan kanan Silvio Berlusconi di AC Milan, sebagai alternatif untuk memimpin FIGC. Namun, pernyataan Galliani belakangan ini telah mengubah peta persaingan, menambahkan kompleksitas pada perebutan kursi kepemimpinan yang akan menentukan arah sepak bola Italia di masa depan.
Mundurnya Gabriele Gravina dari posisi Presiden FIGC merupakan konsekuensi langsung dari kegagalan tragis tim nasional Italia untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026. Ini adalah kegagalan yang menggema setelah sebelumnya Italia juga absen di Piala Dunia 2018 dan 2022, menandakan krisis yang lebih dalam dalam struktur dan pengembangan sepak bola negara tersebut. Keputusan Gravina, yang telah memimpin FIGC sejak 2018, mencerminkan akuntabilitas yang diharapkan dari seorang pemimpin federasi di tengah performa tim nasional yang mengecewakan. Kegagalan ini bukan hanya sekadar hasil di lapangan, melainkan cerminan dari tantangan sistemik yang meliputi pembinaan usia muda, pengelolaan liga, hingga strategi pengembangan talenta yang perlu ditinjau ulang secara fundamental. Atmosfer kekecewaan publik dan tuntutan reformasi dari berbagai pihak telah menciptakan tekanan yang tak terhindarkan bagi Gravina, mendorongnya untuk mundur dan membuka jalan bagi kepemimpinan baru yang diharapkan mampu membawa perubahan signifikan.
Di tengah kevakuman kepemimpinan tersebut, nama Giovanni Malago dengan cepat mencuat ke permukaan sebagai kandidat terdepan. Malago bukanlah figur asing dalam kancah olahraga Italia; ia dikenal luas berkat pengalamannya sebagai Presiden CONI, sebuah posisi yang memberinya pemahaman mendalam tentang manajemen olahraga di tingkat nasional dan internasional. Dukungan kuat untuk Malago sebagian besar datang dari inisiatif Beppe Marotta, Presiden Inter Milan, yang dengan sigap bergerak di belakang layar untuk menggalang konsensus di antara klub-klub Serie A lainnya. Marotta, yang dikenal sebagai salah satu direktur olahraga paling ulung di Italia dengan rekam jejak sukses di Sampdoria, Juventus, dan kini Inter, memahami betul pentingnya memiliki pemimpin federasi yang visioner dan mampu merangkul berbagai kepentingan. Baginya, Malago mewakili sosok yang memiliki kredibilitas, jaringan luas, dan pengalaman manajerial yang dibutuhkan untuk menavigasi kompleksitas sepak bola Italia. Lobi intensif Marotta ini berhasil meyakinkan mayoritas klub Serie A, yang secara kolektif menyumbang 18 persen dari total suara melalui 20 delegasi, untuk memihak Malago.
Namun, pencalonan Malago tidak serta merta mendapatkan persetujuan bulat. AC Milan dan Juventus, dua klub paling berpengaruh dan bersejarah di Serie A, awalnya menyuarakan keberatan dan sempat mengusung kandidat alternatif: Adriano Galliani. Galliani adalah nama yang identik dengan era keemasan AC Milan di bawah kepemimpinan Silvio Berlusconi, di mana ia menjabat sebagai CEO dan wakil presiden selama lebih dari tiga dekade. Reputasinya sebagai negosiator ulung, manajer visioner, dan figur yang sangat dihormati di kancah sepak bola Italia menjadikannya pilihan alami bagi Milan dan Juventus, yang mungkin mencari sosok berpengalaman yang dapat mewakili kepentingan klub-klub tradisional dan mapan. Mereka melihat Galliani sebagai figur yang mampu membawa stabilitas dan melanjutkan tradisi kejayaan, serta menjaga keseimbangan kekuatan dalam federasi.
Situasi menjadi semakin menarik dengan pernyataan Adriano Galliani sendiri mengenai potensi pencalonannya. Galliani mengonfirmasi bahwa beberapa direktur klub memang telah menghubunginya untuk menjajaki ketersediaannya sebagai Presiden FIGC. Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa ia "tidak pernah menerimanya" dan belum tertarik untuk posisi tersebut saat ini. Pernyataan Galliani ini bukan hanya sekadar penolakan, melainkan juga sebuah klarifikasi yang mengubah dinamika persaingan secara drastis. Yang lebih mengejutkan adalah kelanjutan pernyataannya: "Saya telah mengklarifikasi bahwa saya akan melakukan penilaian untuk melihat bagaimana situasinya akan berkembang. Pada akhirnya, saya percaya bahwa Presiden FIGC terbaik, dan bukan hanya sebagai ekspresi keinginan Lega Serie A, adalah Giovanni Malago."
Pengakuan Galliani bahwa ia percaya Malago adalah kandidat terbaik telah menciptakan gelombang kejutan. Pernyataan ini secara efektif membongkar oposisi yang sebelumnya digalang oleh Milan dan Juventus, meninggalkan kedua klub raksasa itu tanpa kandidat alternatif yang kuat. Pergeseran dukungan dari Galliani ini dapat diartikan sebagai pengakuan atas kredibilitas dan kapabilitas Malago, bahkan dari pihak yang awalnya berseberangan. Ini juga menunjukkan adanya konsensus yang semakin kuat di balik Malago, yang kini tampaknya tidak hanya didukung oleh faksi yang digalang Marotta, tetapi juga mendapatkan legitimasi dari figur yang dihormati oleh kubu tradisional. Langkah Galliani ini bisa jadi merupakan upaya untuk membangun jembatan dan menciptakan persatuan di tengah perpecahan, demi kepentingan sepak bola Italia secara keseluruhan.
Proses pemilihan Presiden FIGC sendiri merupakan prosedur yang kompleks dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam piramida sepak bola Italia. Selain Serie A yang menyumbang 18 persen suara, terdapat Lega Serie B, Lega Pro (Serie C), Liga Amatir, perwakilan pemain, pelatih, dan wasit, masing-masing dengan persentase suara yang berbeda. Komposisi ini dirancang untuk memastikan representasi yang luas dari seluruh elemen sepak bola, mulai dari level profesional tertinggi hingga akar rumput. Tanggal pemilihan telah ditetapkan pada 22 Juni 2026, sebuah jadwal yang memberikan waktu cukup bagi para kandidat untuk memaparkan visi dan misi mereka, serta menggalang dukungan. Namun, aturan federasi mengharuskan kandidat baru untuk dikonfirmasi setidaknya 40 hari sebelum tanggal pemilihan, yang berarti proses pendaftaran dan verifikasi akan dimulai jauh lebih awal, memicu spekulasi dan manuver politik sejak dini.
Melihat ke depan, Presiden FIGC yang baru akan menghadapi sejumlah tantangan berat yang tidak hanya terbatas pada performa tim nasional. Mereka harus mengatasi masalah finansial yang kerap melanda klub-klub Italia, meningkatkan kualitas infrastruktur stadion, memerangi isu rasisme dan pengaturan skor yang sesekali mencoreng citra liga, serta memperkuat program pengembangan usia muda untuk memastikan pasokan talenta lokal yang berkelanjutan. Selain itu, Presiden FIGC juga bertanggung jawab untuk menjaga hubungan baik dengan UEFA dan FIFA, serta memastikan representasi Italia yang kuat di forum-forum sepak bola internasional.
Giovanni Malago, dengan latar belakangnya di CONI, diyakini memiliki kapasitas untuk membawa pendekatan yang lebih terstruktur dan berorientasi pada pengembangan jangka panjang. Pengalamannya dalam mengelola olahraga di tingkat nasional memberikan keunggulan dalam memahami birokrasi dan politik olahraga, yang sangat penting untuk memimpin FIGC. Dukungan dari Beppe Marotta dan kini, secara tidak langsung, dari Adriano Galliani, menempatkannya dalam posisi yang sangat kuat. Namun, dunia sepak bola Italia terkenal dengan intrik dan pergeseran aliansi yang cepat. Dengan waktu yang masih cukup panjang menuju pemilihan, bukan tidak mungkin akan muncul kandidat-kandidat kejutan atau perubahan dinamika politik yang dapat mengubah peta persaingan. Perebutan kursi Presiden FIGC bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan juga tentang arah masa depan sepak bola Italia yang sangat dicintai.
