Pangeran William dari Inggris baru-baru ini menyelesaikan kunjungan resmi selama tiga hari ke Arab Saudi, menandai sebuah tonggak penting dalam hubungan bilateral antara kedua negara. Kunjungan yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 11 Februari 2026 ini tidak hanya memperkuat ikatan diplomatik, tetapi juga menyoroti komitmen bersama terhadap pertukaran budaya, konservasi lingkungan, dan promosi warisan. Destinasi eksotis seperti Al Ula dan situs bersejarah Diriyah menjadi pusat perhatian dalam agenda yang padat ini, menunjukkan ambisi Arab Saudi di bawah Visi 2030 untuk menjadi pusat global bagi pariwisata berbasis budaya dan keberlanjutan.
sulutnetwork.com – Agenda diplomatik Pangeran William yang intensif ini dirancang untuk mempromosikan inisiatif Tahun Kebudayaan Saudi-Inggris yang akan berlangsung pada tahun 2029, sebuah program yang diharapkan dapat memperdalam pemahaman dan apresiasi timbal balik antara kedua bangsa. Kunjungan tersebut secara khusus menekankan pengenalan budaya global Arab Saudi yang semakin berkembang, mencakup sektor-sektor kunci seperti warisan, olahraga, dan industri kreatif, yang semuanya merupakan pilar utama dari cetak biru pembangunan transformatif negara tersebut, Visi 2030. Fokus pada area-area ini menggarisbawahi upaya Arab Saudi untuk mendiversifikasi ekonominya dan memposisikan diri sebagai tujuan wisata budaya yang terkemuka di panggung dunia.
Kunjungan Pangeran William ke Arab Saudi bukan sekadar perjalanan diplomatik biasa; ini adalah eksplorasi mendalam terhadap lanskap budaya, sejarah, dan lingkungan yang kaya di kerajaan tersebut. Dengan fokus pada diplomasi budaya dan keberlanjutan, Duke of Cornwall tersebut terlibat dalam serangkaian pertemuan dan kunjungan lapangan yang menyoroti kemajuan Arab Saudi dalam bidang-bidang ini. Kehadirannya di berbagai situs penting, dari kota kuno hingga proyek-proyek megaproyek modern, mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya kerja sama internasional dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mempromosikan perdamaian melalui pertukaran budaya.
Salah satu sorotan utama dari perjalanan Pangeran William adalah singgah di Al Ula, sebuah kawasan arkeologi berusia 7.000 tahun yang terletak di wilayah Madinah. Al Ula, dengan formasi batuan yang megah dan situs-situs kuno yang terawat, telah menarik perhatian dunia sebagai permata tersembunyi yang kini dibuka untuk pariwisata global. Kunjungan Pangeran William ke destinasi ini menggarisbawahi daya tarik Al Ula sebagai pusat warisan budaya dan keindahan alam yang tak tertandingi, sekaligus menyoroti upaya konservasi yang intensif untuk melindungi situs-situs bersejarahnya.
Selama di Al Ula, Pangeran William melakukan tur komprehensif ke beberapa lokasi ikonik. Ia mengunjungi Kota Tua, sebuah labirin bangunan lumpur kuno yang menceritakan kisah ribuan tahun peradaban. Perjalanan dilanjutkan ke Jalan Rempah, rute perdagangan bersejarah yang menghubungkan berbagai peradaban kuno dan kini dihidupkan kembali sebagai pusat aktivitas budaya dan seni. Distrik Budaya Oasis juga menjadi bagian dari kunjungannya, sebuah area yang memadukan lanskap alam yang subur dengan instalasi seni modern, menunjukkan bagaimana Al Ula merangkul masa lalu sambil menatap masa depan. Tak luput dari perhatian adalah Cagar Alam Sharaan, sebuah inisiatif konservasi ambisius yang bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati unik di wilayah tersebut.
Ditemani oleh Menteri Kebudayaan Saudi dan Gubernur Komisi Kerajaan untuk Al Ula, Pangeran Bader bin Abdullah bin Farhan, Pangeran William mendapatkan wawasan langsung tentang upaya konservasi yang sedang berlangsung. Ia bertemu dengan sekelompok Penjaga Saudi yang memberikan gambaran umum tentang dedikasi mereka dalam menjaga ekosistem cagar alam. Lebih lanjut, ia mendengarkan presentasi dari tim Habitat dan Restorasi RCU (Royal Commission for AlUla) tentang program restorasi lahan yang inovatif. Sebagai bentuk dukungan simbolis, Pangeran William juga ikut serta dalam kegiatan penanaman pohon akasia, menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan dan penghijauan.
Perjalanan konservasi Pangeran William di Al Ula berlanjut ke formasi Dancing Rocks atau Batu Menari yang unik. Di lokasi ini, ia diperkenalkan pada proyek lingkungan krusial yang bertujuan untuk memperkenalkan kembali spesies asli Arab yang hampir punah, yaitu Arabian Leopard. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memulihkan ekosistem alami dan melindungi satwa liar yang terancam punah, sebuah langkah yang sejalan dengan tujuan global untuk konservasi keanekaragaman hayati. Partisipasi Pangeran William dalam kegiatan ini menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam mengatasi tantangan lingkungan.
Bertepatan dengan Festival Seni Al Ula yang sedang berlangsung, Pangeran William juga mengambil kesempatan untuk berinteraksi dengan kelompok pemuda Saudi yang berpartisipasi dalam program budaya bersama antara Inggris dan Arab Saudi. Ia bergabung dengan para seniman di Distrik Seni Al Jadidah, sebuah pusat kreativitas yang dinamis, untuk merayakan peran seni dalam menghubungkan bangsa-bangsa dan mempromosikan pemahaman lintas budaya. Interaksi ini menyoroti kekuatan seni sebagai alat diplomasi budaya dan platform untuk dialog antar generasi.
Agenda budaya Pangeran William di Al Ula juga mencakup kunjungan ke Prince of Wales House, sebuah ruang budaya yang didedikasikan untuk menampilkan kolaborasi Inggris-Saudi dalam bidang budaya, kreativitas, dan regenerasi urban. Tempat ini secara khusus menyoroti peran Al Ula sebagai platform yang berkembang pesat untuk pertukaran budaya dan inovasi. Kehadiran Prince of Wales House di Al Ula merupakan bukti nyata dari kemitraan yang kuat antara kedua negara dalam memajukan agenda budaya dan seni.
Al Ula kini memang telah menjadi magnet bagi wisatawan dunia, menarik pengunjung dari berbagai penjuru bumi yang ingin menyaksikan keindahan alam dan warisan sejarahnya yang luar biasa. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi Hegra, Situs Warisan Dunia UNESCO pertama Arab Saudi, yang terkenal dengan makam-makam batu pasirnya yang monumental dan arsitektur Nabatea yang memukau. Data menunjukkan bahwa jumlah pengunjung ke Al Ula meningkat secara signifikan, mencapai 9% pada tahun 2024. Peningkatan ini didukung oleh ekspansi kapasitas perhotelan yang mengesankan, dengan masuknya merek-mewah global seperti Banyan Tree, Habitas, dan Chedi. Hotel Chedi, khususnya, menawarkan pengalaman unik dengan mengubah bekas stasiun kereta api menjadi hotel warisan yang mempesona dengan 35 kamar mewah, memadukan sejarah dengan kemewahan modern.
Sebelum tiba di Al Ula, Pangeran William lebih dulu melakukan kunjungan penting ke At Turaif, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO lainnya yang dianggap sebagai tempat kelahiran negara Saudi dan jantung sejarah Diriyah, yang dijuluki "Kota Bumi". Di sana, ia disambut oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi Diriyah Company. Pertemuan ini menyoroti pentingnya proyek Diriyah dalam visi masa depan Arab Saudi.
Diriyah sendiri merupakan sebuah megaproyek ambisius senilai USD 63,2 miliar yang membentang seluas 16 kilometer persegi di pinggiran Riyadh. Proyek ini sedang diubah menjadi destinasi wisata unggulan yang dibangun di sekitar kekayaan budaya dan sejarahnya. Jerry Inzerillo, CEO Grup Diriyah Company, menyambut baik kunjungan Pangeran William, menyatakan bahwa "Kunjungan ini mewakili ikatan kuat yang dijunjung tinggi oleh Arab Saudi dan Inggris." Ia menambahkan, "Merupakan suatu kehormatan untuk memiliki kesempatan menjelaskan visi masa depan kami untuk Diriyah dan berbagi sejarah tiga abad yang tertanam di dinding istana dan lorong-lorong At-Turaif."
Setelah selesai sepenuhnya, Diriyah diproyeksikan akan memiliki 40 hotel mewah, 300 hunian bermerek, 1.000 gerai ritel, 150 restoran dan kafe, serta 26 pusat seni dan budaya. Skala dan ambisi proyek ini memperkuat posisi Diriyah sebagai pusat global untuk pariwisata berbasis warisan budaya, menawarkan pengalaman yang tak tertandingi bagi pengunjung yang mencari perpaduan antara kemewahan, sejarah, dan budaya otentik. Pembangunan Diriyah juga merupakan cerminan nyata dari komitmen Visi 2030 untuk menciptakan tujuan wisata kelas dunia yang tidak hanya menarik investasi tetapi juga merayakan dan melestarikan identitas nasional.
Kunjungan Pangeran William ke Arab Saudi secara keseluruhan merupakan sinyal kuat dari komitmen Inggris untuk memperdalam hubungan dengan kerajaan tersebut, khususnya dalam aspek budaya, lingkungan, dan pariwisata. Ini juga memberikan platform penting bagi Arab Saudi untuk menampilkan kemajuannya di bawah Visi 2030, memposisikan dirinya sebagai pemain kunci dalam diplomasi budaya dan pelestarian warisan global. Kerjasama di bidang-bidang ini diharapkan dapat terus berkembang, membuka jalan bagi lebih banyak inisiatif bersama yang akan menguntungkan kedua negara di masa depan.
