Di jantung kota Surabaya, sebuah jejak sejarah yang memikat terhampar, memadukan pesona olahraga golf dengan misteri masa lalu kolonial. Lapangan golf tertua di Jawa Timur, yang telah beroperasi sejak era Hindia Belanda, menyimpan sebuah cerita unik di area hole ke-18-nya: makam tua yang dikenal sebagai makam Mbah Deler. Keberadaan makam ini tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga memicu serangkaian narasi dan mitos yang telah hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat selama beberapa generasi, membentuk sebuah kisah yang kaya antara fakta sejarah dan folklor lokal.
sulutnetwork.com – Makam Mbah Deler, yang diyakini sebagai peristirahatan terakhir seorang tokoh penting dari masa lampau, telah lama menjadi subjek spekulasi dan perbincangan. Salah satu cerita yang paling menonjol adalah anggapan bahwa Mbah Deler merupakan seorang pegolf sejati, sebuah persepsi yang diperkuat oleh adanya ornamen menyerupai piala perunggu di makamnya. Ornamen ini, yang masih dapat dijumpai hingga kini, seringkali diinterpretasikan sebagai simbol kemenangan atau dedikasi Mbah Deler terhadap olahraga golf. Namun, di balik narasi populer ini, tersimpan sebuah kebenaran sejarah yang jauh lebih kompleks dan menarik, yang menguak identitas asli sang tokoh dan perannya dalam sejarah awal Surabaya.
Untuk memahami misteri Mbah Deler, penting untuk menelusuri sejarah olahraga golf itu sendiri. Menurut catatan dalam buku Soerabaia Tempo Doeloe, olahraga golf pertama kali dikenal di Skotlandia pada abad ke-15. Perjalanan golf menuju Hindia Belanda diperkirakan terjadi sekitar tahun 1872, dibawa oleh para ekspatriat Inggris yang gemar dengan permainan tersebut. Kehadiran mereka di wilayah kolonial membuka jalan bagi penyebaran olahraga ini di kalangan elit Eropa. Di Surabaya, perkembangan golf berlangsung pesat seiring dengan didirikannya Golf Club Surabaya. Lapangan golf tersebut berlokasi di kawasan Goenoengsariweg, yang kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani, dan secara resmi mulai beroperasi pada tahun 1898. Lapangan ini kemudian dikenal luas sebagai Padang Golf A Yani (PGAY), dan mendapatkan predikat sebagai lapangan golf tertua di Jawa Timur, bahkan mungkin salah satu yang tertua di Indonesia, menjadi saksi bisu perkembangan sosial dan budaya kaum elite kolonial.
Di area yang kini menjadi hole ke-18 Padang Golf A Yani inilah, sebuah makam tua dengan batu nisan khas Eropa berdiri tegak, menjadi pusat perhatian sekaligus misteri. Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan pengurus dan masyarakat sekitar PGAY, makam tersebut diyakini milik seorang tokoh Belanda yang memiliki jasa besar dalam pembukaan dan pengembangan lahan di kawasan tersebut. Nama yang pertama kali muncul dalam desas-desus ini adalah "Van Deuller." Namun, karena kesulitan pelafalan nama asing yang cukup rumit bagi lidah lokal masyarakat Jawa, nama tersebut kemudian mengalami penyederhanaan dan perubahan dialek, sehingga lebih dikenal dengan sebutan "Mbah Deler." Proses akulturasi linguistik semacam ini umum terjadi dalam masyarakat yang berinteraksi dengan budaya asing, mengubah nama-nama sulit menjadi lebih mudah diterima dan diucapkan.
Seiring berjalannya waktu, berbagai cerita rakyat mulai bermunculan dan berkembang, membentuk citra Mbah Deler sebagai sosok yang legendaris. Ia tidak hanya digambarkan sebagai juru kunci lapangan golf yang setia, tetapi juga sebagai seorang pegolf andal yang memiliki keahlian luar biasa dalam memainkan stik dan bola. Narasi ini semakin menguat dengan adanya ornamen berbentuk piala di makamnya, yang oleh masyarakat diinterpretasikan sebagai bukti nyata kehebatan Mbah Deler di lapangan golf. Bahkan, sempat beredar mitos yang cukup kuat, bahwa siapa pun yang tidak menghormati makam Mbah Deler atau bersikap tidak sopan di sekitarnya akan terkena "kualat" atau karma buruk. Mitos ini menciptakan aura sakral di sekitar makam, memastikan bahwa ia tetap dihormati dan dijaga keberadaannya oleh para pegolf dan pengunjung lapangan.
Namun, di tengah kuatnya cerita-cerita folkloristik tersebut, para peneliti sejarah dan budayawan mulai mempertanyakan kebenaran di baliknya. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, terungkap bahwa cerita-cerita mengenai Mbah Deler sebagai pegolf sejati tidak memiliki dasar sejarah yang kuat. Ornamen berbentuk piala yang terdapat di makam itu, sejatinya merupakan sebuah hiasan yang lazim dijumpai pada makam-makam bangsawan atau tokoh terkemuka Belanda pada masa kolonial. Desain piala atau urna sering digunakan sebagai simbol kehormatan, keabadian, atau pengingat akan status sosial, bukan secara spesifik sebagai lambang prestasi atletik. Hal ini menunjukkan bagaimana simbol-simbol budaya dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh masyarakat dengan latar belakang yang berlainan, menciptakan narasi baru yang mungkin menyimpang dari makna aslinya.
Fakta sejarah mengenai sosok asli di balik nama Mbah Deler akhirnya terkuak melalui karya-karya penulis dan sejarawan terkemuka. Penulis buku Oud Soerabaia, Von Faber, dalam penelitiannya yang mendalam, menyebutkan bahwa makam yang terletak di Padang Golf Goenoengsari itu adalah makam seorang pejabat tinggi Belanda bernama Fredrik Jacob Rothenbuhler. Identifikasi ini secara tegas membantah anggapan bahwa ia adalah seorang pegolf. Sebaliknya, Rothenbuhler adalah figur yang sangat penting dalam struktur pemerintahan kolonial Belanda, dengan rekam jejak yang mencerminkan kekuasaan dan pengaruhnya di wilayah Hindia Belanda.
Fredrik Jacob Rothenbuhler bukanlah sosok sembarangan. Ia pernah menjabat sebagai Residen Pekalongan, sebuah posisi strategis yang memberinya kekuasaan administratif atas wilayah penting. Selain itu, ia juga tercatat pernah tinggal di Grahadi, yang pada masa itu dikenal sebagai Tuinhuis, sebuah bangunan yang kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur. Rothenbuhler juga memiliki tanggung jawab besar sebagai penanggung jawab wilayah timur Hindia Belanda, menunjukkan jangkauan pengaruhnya yang luas. Tidak hanya berkiprah di pemerintahan, Rothenbuhler juga seorang pengusaha yang sukses. Ia memiliki pabrik mesiu di bawah Firma Rothenbuhler & Coy, sebuah industri vital pada masa itu. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pengusaha sarang burung walet di Gresik, komoditas ekspor yang sangat berharga, serta bisnis mutiara di kawasan Madura, yang menunjukkan diversifikasi investasinya. Kesibukannya yang luar biasa di dunia usaha inilah yang disebut-sebut membuatnya lalai dalam menjalankan tugas-tugas administratif pemerintahan yang diembannya.
Masa hidup Rothenbuhler terjadi pada periode yang sangat dinamis dalam sejarah Hindia Belanda. Pada saat itu, wilayah tersebut berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), seorang tokoh yang dikenal dengan kebijakan-kebijakan keras dan reformasi militernya. Setelah Daendels, kekuasaan beralih ke tangan Inggris di bawah Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Kelalaian Rothenbuhler dalam tugas-tugas administratifnya diyakini turut berkontribusi pada keberhasilan pasukan Inggris menembus Gresik dan kemudian masuk ke Surabaya. Peristiwa ini, yang merupakan bagian dari perebutan kekuasaan antara Belanda dan Inggris di Asia Tenggara dalam konteks Perang Napoleon di Eropa, tentu saja memicu kemarahan besar dari Gubernur Jenderal Daendels. Kegagalan seorang pejabat tinggi seperti Rothenbuhler dalam mengamankan wilayahnya dapat dianggap sebagai tindakan pengkhianatan atau setidaknya ketidakcakapan yang serius, yang memiliki konsekuensi politik dan militer yang signifikan.
Secara historis, nama resmi tokoh yang dimakamkan di kawasan Gunung Sari adalah Fredrik Jacob Rothenbuhler. Namun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat Jawa Timur lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Deler atau Van Deuller. Transformasi nama ini adalah hasil dari kesulitan melafalkan nama asing serta penyederhanaan dialek lokal, sebuah fenomena linguistik yang umum dalam kontak antarbudaya. Identifikasi yang jelas ini memberikan kejelasan tentang siapa sebenarnya tokoh yang dimakamkan di sana, sekaligus membantah berbagai mitos yang berkembang.
Fakta kronologis juga semakin memperkuat kebenaran sejarah ini. Fredrik Jacob Rothenbuhler wafat pada tanggal 21 April 1836. Sementara itu, Padang Golf Goenoengsari, atau yang kini dikenal sebagai PGAY, baru secara resmi dibuka dan mulai beroperasi pada tahun 1898, lebih dari enam puluh tahun setelah kematian Rothenbuhler. Disparitas waktu ini dengan tegas menunjukkan bahwa Rothenbuhler tidak pernah mengenal olahraga golf semasa hidupnya, apalagi menjadi seorang pegolf sejati seperti yang berkembang dalam cerita rakyat. Ia meninggal jauh sebelum lapangan golf itu didirikan.
Dengan demikian, kisah Mbah Deler di lapangan golf tertua Surabaya lebih tepat dipahami sebagai bagian integral dari dinamika sejarah dan folklor lokal kota tersebut. Ini adalah contoh sempurna bagaimana fakta-fakta kolonial dapat bercampur aduk dengan cerita tutur masyarakat, menghasilkan narasi yang kaya, menarik, dan seringkali memiliki daya tarik yang lebih besar daripada kebenaran sejarah itu sendiri. Makam tua di hole ke-18 Padang Golf A Yani bukan hanya menjadi penanda fisik, tetapi juga simbol dari perpaduan budaya, sejarah, dan imajinasi kolektif yang membentuk identitas sebuah tempat. Meski mitos-mitos tentang Mbah Deler sebagai pegolf telah terbantahkan oleh fakta, keberadaan makamnya dan cerita-cerita di sekelilingnya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Surabaya, terus memikat dan mengundang rasa ingin tahu setiap generasi. Ini adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu hitam dan putih, melainkan seringkali diwarnai oleh nuansa interpretasi, legenda, dan memori kolektif yang membentuk cara kita memahami masa lalu.




