Afrika Selatan kembali diguncang sebuah insiden tragis yang menyelimuti sektor pariwisatanya, menyusul hilangnya seorang turis wanita asal Inggris di kawasan pegunungan. Kasus ini, yang awalnya diduga sebagai insiden biasa, kini telah berkembang menjadi penyelidikan yang kompleks dan mengkhawatirkan, dengan spekulasi serius mengarah pada praktik perdukunan ritual yang dikenal sebagai ‘Muti’. Kehilangan Lorna McSorley, seorang nenek berusia 71 tahun, bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, tetapi juga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat setempat dan komunitas internasional, menyoroti sisi gelap kepercayaan tradisional yang masih mengakar kuat di beberapa wilayah.
sulutnetwork.com – Lorna McSorley, seorang warga negara Inggris berusia 71 tahun, dinyatakan hilang sejak tanggal 27 September 2025, saat sedang menikmati liburan bersama pasangannya, Leon Probert (81), di Afrika Selatan. Pasangan lansia ini diketahui menginap di Ghost Mountain Inn, sebuah penginapan yang populer di kalangan wisatawan yang mencari ketenangan dan keindahan alam. Tragedi bermula ketika keduanya memutuskan untuk melakukan pendakian di area pegunungan yang berdekatan dengan Taman Nasional Kruger, sebuah kawasan konservasi satwa liar yang terkenal di dunia. Apa yang seharusnya menjadi petualangan singkat di alam terbuka, kini telah berubah menjadi sebuah misteri yang mengerikan, menyisakan pertanyaan tanpa jawaban dan kekhawatiran yang mendalam.
Lorna dan Leon, yang telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, dikenal sebagai pasangan yang gemar berpetualang dan menikmati keindahan alam. Liburan ke Afrika Selatan ini merupakan salah satu impian mereka untuk menikmati pemandangan savana dan pegunungan yang ikonik. Ghost Mountain Inn, yang terletak di Mkuze, KwaZulu-Natal, menawarkan pengalaman menginap yang damai dengan akses mudah ke berbagai jalur pendakian dan situs satwa liar. Mereka memilih jalur pendakian yang menjanjikan pemandangan indah, namun sayangnya, keputusan itu membawa mereka ke titik balik yang fatal.
Pada hari hilangnya Lorna, pasangan tersebut memutuskan untuk menjelajahi jalur pendakian di luar area yang ditandai, mencari pengalaman yang lebih otentik dan menantang. Mereka bertemu dengan seorang petani lokal bernama Koos Prinsloo, yang memberikan petunjuk arah kepada mereka. Menurut kesaksian Prinsloo kepada The Times, Lorna menyatakan keinginannya untuk berjalan sendirian. Dengan tas pinggang hitam melingkar di pinggangnya, ia tampak santai dan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun untuk melanjutkan perjalanan tanpa ditemani. "Ia tampak santai dan mengatakan ia tidak ingin diantar kembali ke hotel, jadi saya kembali makan siang," kenang Prinsloo, menggambarkan momen terakhir ia melihat Lorna. Jalan-jalan yang diperkirakan hanya memakan waktu 90 menit itu tidak pernah berakhir dengan kembalinya Lorna.
Ketika waktu yang diperkirakan telah berlalu dan Lorna tidak kunjung kembali, kekhawatiran mulai menyelimuti hati Leon Probert. Kecemasan berubah menjadi kepanikan ketika pencarian awal di sekitar area tersebut tidak membuahkan hasil. Leon segera melaporkan hilangnya Lorna kepada pihak hotel dan kemudian kepolisian setempat. Rasa bersalah yang mendalam menghantui Leon, sebuah beban emosional yang tak terperi. "Saya merasa bersalah karena, jika saya tidak kembali ke hotel dan tetap berjalan-jalan bersamanya, kemungkinan besar tidak akan terjadi apa-apa," ucap Probert, seperti yang dikutip dalam laporan tersebut, suaranya dipenuhi penyesalan dan kepedihan. Setelah beberapa hari tanpa petunjuk, dengan kondisi yang semakin memburuk, pihak berwenang membantu Leon untuk terbang kembali ke Inggris, meninggalkan Afrika Selatan dengan hati yang hancur dan pertanyaan yang tak terjawab.
Pencarian ekstensif segera dilancarkan oleh kepolisian Afrika Selatan, dibantu oleh relawan lokal dan unit pencarian serta penyelamatan khusus. Anjing pelacak, drone, dan helikopter dikerahkan untuk menyisir area pegunungan yang luas dan kadang sulit dijangkau. Namun, medan yang terjal, hutan lebat, dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar. Berhari-hari berlalu tanpa ada tanda-tanda keberadaan Lorna. Tidak ada jejak sepatu, pakaian, atau barang pribadi yang ditemukan, menambah misteri seputar hilangnya wanita lansia tersebut. Seiring waktu, harapan untuk menemukan Lorna dalam keadaan hidup semakin menipis, dan fokus penyelidikan mulai bergeser ke kemungkinan terburuk.
Saat penyelidikan memasuki fase yang lebih rumit, sebuah teori gelap mulai mengemuka di kalangan penyidik dan masyarakat setempat: Lorna McSorley mungkin telah menjadi korban ‘Muti’. Muti adalah istilah Zulu yang merujuk pada obat-obatan tradisional Afrika, namun dalam konteks ini, ia merujuk pada praktik ilmu hitam atau perdukunan yang melibatkan penggunaan bagian tubuh manusia untuk tujuan ritual. Keyakinan akan kekuatan magis dari Muti sangat mengakar di beberapa komunitas di Afrika Selatan, di mana bagian tubuh manusia – dari organ internal hingga rambut atau kuku – diyakini dapat membawa keberuntungan, kekayaan, atau kekuatan spiritual kepada praktisinya. Praktik ini seringkali didorong oleh kepercayaan akan penyembuhan, perlindungan, atau bahkan balas dendam, menjadikannya salah satu bentuk kejahatan paling keji di negara tersebut.
Kecurigaan terhadap praktik Muti muncul karena beberapa faktor yang tidak biasa dalam kasus hilangnya Lorna. Pertama dan terpenting, tidak ada permintaan tebusan uang yang diajukan, sebuah indikasi kuat bahwa motif penculikan bukanlah finansial. Sumber-sumber lokal di kota terdekat Mkuze, secara independen, menyatakan bahwa pembunuhan Muti adalah penjelasan yang paling memungkinkan untuk kasus ini. "Ketika seseorang hilang tanpa jejak dan tidak ada permintaan uang, seringkali orang-orang di sini akan langsung berpikir tentang Muti," ujar seorang warga lokal yang enggan disebutkan namanya, mencerminkan ketakutan kolektif yang ada. Selain itu, sumber-sumber lokal juga menyatakan bahwa telah terjadi beberapa kasus hilangnya orang secara misterius di daerah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, yang memicu kekhawatiran akan pola pembunuhan ritualistik yang mungkin menargetkan orang-orang rentan.
Menurut Dr. Sipho Dlamini, seorang antropolog sosial dari Universitas KwaZulu-Natal yang mengkhususkan diri dalam kepercayaan tradisional Afrika, praktik Muti, meskipun tidak direstui secara hukum dan moral, masih ada di beberapa daerah pedesaan. "Muti killings adalah fenomena tragis yang seringkali sulit dilacak karena sifatnya yang rahasia dan tabu," jelas Dr. Dlamini. "Para pelaku percaya bahwa dengan menggunakan bagian tubuh manusia, terutama dari orang asing atau yang dianggap ‘murni’, mereka dapat meningkatkan khasiat obat atau ritual mereka. Ini adalah kepercayaan yang sangat berbahaya dan menyesatkan, seringkali didorong oleh keputusasaan atau keserakahan." Ia menambahkan bahwa korban seringkali dipilih karena kerentanan mereka, seperti lansia atau anak-anak, yang dianggap lebih mudah diculik dan kurang memiliki koneksi sosial yang kuat di komunitas lokal, sehingga jejak kejahatan lebih sulit dilacak.
Menanggapi spekulasi ini, pihak kepolisian telah mengambil langkah-langkah investigasi paralel yang cermat. Meskipun menolak untuk berkomentar secara langsung mengenai penyelidikan swasta atau desas-desus Muti, mereka mengkonfirmasi bahwa tim khusus sedang menganalisis data telepon seluler dari area sekitar lokasi hilangnya Lorna. Analisis ini mengungkapkan adanya "aktivitas mencurigakan" di dekat lokasi terakhir Lorna terlihat. Aktivitas mencurigakan ini bisa berarti berbagai hal, mulai dari sinyal ponsel yang tiba-tiba mati di lokasi yang tidak biasa, pergerakan sinyal yang tidak konsisten dengan pola perjalanan normal, atau bahkan adanya ponsel lain yang tidak dikenal yang aktif di area tersebut pada waktu yang sama. Namun, hingga saat ini, informasi dari data seluler tersebut belum menghasilkan petunjuk baru yang konkret untuk mengidentifikasi keberadaan Lorna atau pelakunya, menyisakan tim investigasi dalam kebuntuan.
Tantangan dalam mengungkap kasus hilangnya Lorna McSorley sangat besar. Selain medan yang sulit dan dugaan motif yang terkait dengan praktik Muti yang tertutup, polisi juga menghadapi kesulitan dalam mengumpulkan bukti dan kesaksian dari masyarakat yang mungkin enggan berbicara karena takut atau terlibat dalam praktik tersebut. "Kasus-kasus yang melibatkan Muti seringkali menjadi sangat sulit karena melibatkan elemen kepercayaan dan kerahasiaan yang mendalam dalam komunitas tertentu," ungkap seorang sumber kepolisian yang tidak ingin disebutkan namanya. "Kurangnya saksi mata yang kredibel, minimnya bukti fisik di tempat kejadian, dan budaya bungkam seringkali menghambat kemajuan penyelidikan." Pihak berwenang mengakui bahwa tanpa petunjuk baru yang signifikan, kasus ini tetap belum terpecahkan, meninggalkan keluarga McSorley dalam ketidakpastian yang menyakitkan.
Kasus hilangnya Lorna McSorley tidak hanya menimbulkan duka dan ketidakpastian bagi keluarganya, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap citra pariwisata Afrika Selatan, khususnya di wilayah Mkuze dan sekitarnya. Industri pariwisata lokal, yang bergantung pada kedatangan turis asing, kini menghadapi tantangan kepercayaan dan keamanan. Pemerintah daerah dan operator tur berupaya meyakinkan wisatawan bahwa insiden semacam ini adalah kasus yang terisolasi dan langkah-langkah keamanan telah diperketat. Namun, ketakutan akan praktik Muti dan kejahatan terhadap turis asing tetap menjadi bayang-bayang yang sulit dihilangkan. Di sisi lain, masyarakat lokal juga merasakan tekanan; tuduhan Muti dapat memperburuk stereotip negatif dan menimbulkan kecurigaan di antara komunitas, meskipun sebagian besar warga menolak praktik semacam itu dan hidup berdampingan secara damai.
Kedutaan Besar Inggris di Afrika Selatan telah menyatakan keprihatinan mendalam atas hilangnya Lorna McSorley dan terus berkoordinasi erat dengan pihak berwenang setempat. Mereka memberikan dukungan konsuler kepada keluarga Lorna dan mendesak penyelidikan yang menyeluruh dan transparan. Kasus ini juga telah menarik perhatian media internasional, menyoroti isu keamanan turis di Afrika Selatan dan praktik-praktik kepercayaan tradisional yang kontroversial. Tekanan dari komunitas internasional diharapkan dapat mendorong pihak berwenang untuk mengalokasikan sumber daya lebih lanjut dalam upaya menemukan Lorna dan membawa pelaku ke pengadilan, demi keadilan dan keamanan wisatawan di masa mendatang.
Hingga saat ini, Lorna McSorley masih dinyatakan hilang. Kasusnya menjadi pengingat yang menyakitkan akan bahaya yang mungkin mengintai di balik keindahan alam yang memukau. Keluarga dan teman-teman Lorna terus berharap akan keajaiban, meskipun setiap hari yang berlalu tanpa kabar semakin memudarkan harapan tersebut. Misteri hilangnya Lorna McSorley di pegunungan Afrika Selatan tetap menjadi luka terbuka, sebuah teka-teki yang menanti jawaban, dan sebuah kisah tragis yang membayangi keindahan benua tersebut dengan bayang-bayang ilmu hitam dan kekejaman yang tak terbayangkan.
