Jakarta – Menjelang momen libur Lebaran tahun 2026 yang selalu identik dengan peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata, masalah pungutan liar (pungli) kembali menjadi sorotan utama. Untuk memastikan kenyamanan dan keamanan para pelancong, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri, secara proaktif telah berkoordinasi erat dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan menyiapkan berbagai kanal pengaduan bagi masyarakat. Langkah ini diambil sebagai respons antisipatif terhadap potensi praktik pungli yang kerap terjadi di berbagai titik destinasi wisata dan jalur mudik, sekaligus menjadi komitmen pemerintah dalam menciptakan pengalaman liburan yang positif bagi setiap keluarga Indonesia.
sulutnetwork.com – Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Widiyanti Putri dalam sebuah kunjungan kerja ke kawasan Blok M, Jakarta, pada Senin, 16 Maret 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa isu pungli telah menjadi agenda prioritas yang dibahas dalam rapat koordinasi dengan pihak kepolisian. Polri, menurut Widiyanti, telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan pengawasan ketat demi meminimalisir insiden pungli yang dapat merusak citra pariwisata dan pengalaman berlibur masyarakat. Lebih lanjut, kementeriannya juga telah menyiapkan posko-posko pengaduan di berbagai lokasi strategis untuk menampung keluhan masyarakat. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi pemerintah untuk menjaga citra pariwisata Indonesia dan melindungi hak-hak wisatawan.
Fenomena pungli selama periode libur panjang, khususnya Lebaran, bukanlah hal baru. Peningkatan jumlah wisatawan dan pemudik yang memadati berbagai destinasi wisata, terminal, pelabuhan, stasiun, hingga area parkir seringkali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan pungutan di luar ketentuan resmi. Praktik ini tidak hanya merugikan masyarakat secara finansial, tetapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman, kekecewaan, dan bahkan dapat memicu konflik. Dampak jangka panjangnya, pungli dapat mencoreng reputasi destinasi wisata dan mengurangi minat wisatawan untuk kembali berkunjung, yang pada akhirnya merugikan sektor pariwisata nasional secara keseluruhan.
Menyadari urgensi tersebut, koordinasi antara Kementerian Pariwisata dan Polri menjadi sangat krusial. Menteri Widiyanti Putri menjelaskan bahwa koordinasi ini mencakup penyusunan strategi pengawasan yang lebih komprehensif, penempatan personel kepolisian di titik-titik rawan pungli, serta peningkatan patroli, baik secara terbuka maupun tertutup. Tujuan utamanya adalah menciptakan efek jera bagi para pelaku pungli dan memastikan bahwa setiap pelanggaran dapat ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Kolaborasi lintas sektor semacam ini diharapkan mampu membentuk sebuah sistem pengawasan yang kuat dan efektif, yang mampu merespons laporan masyarakat dengan cepat dan tepat.
Selain posko pengaduan fisik, Kementerian Pariwisata juga membuka berbagai kanal pelaporan digital untuk memudahkan masyarakat menyampaikan keluhan. Menteri Widiyanti merinci bahwa wisatawan dapat melaporkan insiden pungli melalui platform "Hello Wonderful," sebuah inisiatif pelayanan publik Kemenpar yang dirancang untuk menampung masukan dan keluhan. Tidak hanya itu, laporan juga bisa disampaikan melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp, pesan langsung (Direct Message/DM) di akun media sosial Instagram resmi Kementerian Pariwisata, serta melalui alamat email khusus pengaduan. Kemudahan akses pelaporan ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak wisatawan, terutama generasi muda yang akrab dengan teknologi digital, sehingga setiap insiden pungli dapat segera tertangani. Masyarakat diimbau untuk menyertakan bukti pendukung seperti foto, video, atau rincian lokasi dan waktu kejadian saat melapor, guna mempermudah proses investigasi dan penindakan.
Di luar upaya pemberantasan pungli, Menteri Widiyanti Putri juga tidak lupa memberikan sejumlah tips penting bagi para traveler dan keluarga untuk menikmati liburan Lebaran yang nyaman dan aman. Tips-tips ini mencakup aspek keselamatan, persiapan perjalanan, etika berwisata, hingga pemanfaatan teknologi informasi. "Jaga keselamatan keluarga," adalah poin pertama yang ia tekankan. Hal ini mencakup memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum berangkat, tidak membawa barang berharga berlebihan yang menarik perhatian, serta selalu waspada terhadap lingkungan sekitar. Bagi yang menggunakan transportasi umum, disarankan untuk selalu memilih penyedia layanan yang resmi dan terpercaya.
Aspek cuaca juga menjadi perhatian serius. Menteri Widiyanti mengingatkan pentingnya "mengecek cuaca" sebelum dan selama perjalanan. Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menghindari risiko perjalanan di tengah kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, badai, atau gelombang tinggi, terutama bagi mereka yang bepergian melalui jalur laut atau daerah pegunungan. Persiapan diri yang matang juga tak kalah penting. "Selalu mempersiapkan diri," ujarnya, yang meliputi perencanaan rute perjalanan, pemesanan akomodasi dan transportasi jauh-jauh hari, menyiapkan anggaran yang cukup, serta membawa perlengkapan pribadi yang esensial, termasuk obat-obatan pribadi jika diperlukan.
Etika berwisata dan tanggung jawab lingkungan juga menjadi pesan utama dari Menteri Widiyanti. Ia secara tegas mengimbau wisatawan untuk "jangan buang sampah sembarangan" dan "menjaga destinasi." Sampah yang berserakan tidak hanya merusak keindahan alam, tetapi juga mencemari lingkungan dan mengganggu ekosistem. Konsep pariwisata berkelanjutan semakin ditekankan, di mana wisatawan diharapkan dapat berkontribusi dalam melestarikan keindahan alam dan budaya lokal. Ini juga termasuk menghormati adat istiadat setempat, menjaga kebersihan fasilitas umum, dan tidak merusak situs-situs bersejarah atau lingkungan alami.
Dalam era digital ini, peran masyarakat dalam mempromosikan pariwisata Indonesia juga sangat signifikan. Menteri Widiyanti mendorong para traveler untuk "apabila ingin memposting hal-hal selalu posting hal-hal yang baik tentang Indonesia karena kita butuh promosi bantuan dari masyarakat promosi Indonesia." Setiap unggahan positif di media sosial, baik berupa foto destinasi indah, kuliner lezat, maupun pengalaman budaya yang menarik, dapat menjadi alat promosi yang efektif dan jangkauannya luas. Kontribusi masyarakat dalam menyebarkan citra positif Indonesia di kancah global sangat dihargai dan menjadi bagian integral dari upaya bersama untuk memajukan sektor pariwisata.
Terakhir, Menteri Widiyanti juga mengingatkan traveler untuk "menjaga kesehatan" selama liburan. Mobilitas tinggi dan perubahan pola makan dapat memengaruhi kondisi fisik. Oleh karena itu, istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan higienis, serta membawa perlengkapan kesehatan dasar menjadi sangat penting. Ia juga menekankan pemanfaatan informasi yang tersedia di website resmi Kementerian Pariwisata untuk mencari ide liburan. "Dalam www.indonesia.travel di sana juga banyak sekali informasi tentang destinasi di berbagai daerah Indonesia. Ada kuliner, ada event apa. Kemudian destinasi-destinasi menarik sesuai pilihan atau preferensi wisatawan," tutupnya. Situs ini berfungsi sebagai panduan komprehensif yang menyediakan informasi detail mengenai berbagai destinasi unggulan, mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya, hingga beragam festival dan kuliner khas daerah, yang dapat membantu wisatawan merencanakan perjalanan sesuai minat dan preferensi mereka. Dengan memanfaatkan sumber daya ini, diharapkan setiap keluarga dapat merencanakan liburan Lebaran 2026 yang tidak hanya aman dari pungli, tetapi juga penuh dengan pengalaman berkesan dan tak terlupakan.
